Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Kampret nih kampus, kaya ruang tunggu Rumah Sakit”
“Bangke nih template banget bangunan, apa bedanya sama Teknologi Pertanian?!”
“Untung gw udah lulus, jadi gak ngerasain gedung baru yang aneh”
Beberapa kalimat tadi datang dari mulut rekan saya di kampus saat melihat gedung baru FISIPOL. Ya Fakultas Ilmu Sosial Politik alias FISIPOL UGM memang sedang berbenah dalam hal penampilan. Sudut gedung di bagian utara berubah total dari dua lantai menjadi lima lantai. Kini pembangunan juga dilakukan di bagian barat dan sedikit bagian selatan. Kata tukang bangunan yang saya tanya bentuk gedung yang sedang direncanakan tidak jauh berbeda dengan gedung di bagian utara. Maka bisa jadi umpatan-umpatan kecil tentang gedung baru akan semakin marak.
Saya jadi bertanya-tanya sebenarnya ada apa dengan gedung baru. Sejak kecil saya selalu menganggap arsitektur sebagai bidang yang seksi, kalau saya wanita pasti saya memilih suami seorang arsitek. Sayang saya sadar menjadi arsitek butuh otak brilian, maka saya menyerah saja. Maaf keluar konteks kawan. Pada kesempatan kali ini saya sekedar mencoba sok tau menjadi kritikus arsitektur, semoga kesoktahuan saya benar, dan itu sepertinya tidak mungkin, haha.
Seorang arsitek legendaris Jepang bernama Tadao Ando pernah mengeluarkan sebuah quote yang menjadi pegangan banyak arsitek, “Life governs Architecture”. Menurut Yori Antar, salah satu arsitek terbaik negeri ini, pernyataan Ando menjelaskan bahwa sebuah karya arsitektur harus melihat dimana ia berdiri untuk kemudian menyerap hal-hal itu dalam karyanya. Bukan sebaliknya, yakni sebuah bangunan arsitektur memaksakan untuk menciptakan image tertentu yang sebenarnya tidak cocok dengan keadaan sekitar.
Ada dua karya arsitektur Ando yang bisa dengan mudah menggambarkan prinsipnya. Adalah Church Of Light dan Water Temple, keduanya berada di negeri Sakura. Dua bangunan ini pernah digadang-gadang  sebagai karya terbaik Ando (lihat dalam kumpulan tulisan arsitektur Indonesia, Haikk!). Sebagai sebuah tempat ibadah baik Church Of Light maupun Water Temple tak terjebak menampilkan rumah ibadah dengan segala atributnya. Di Church Of Light Ando hanya membolongi sebuah sisi ruangan berbentuk tanda salib sehingga cahaya yang masuk membentuk bayangan tanda salib dan terkesan teduh di altar. Sementara di Water Temple, Ando tak menaruh patung Budha padahal itu kuil.
Menurut Amelia Miranti, penulis dan arsitek, hal itu dilakukan Ando karena kedua tempat itu tak cocok dimasukkan sesuatu yang sifatnya artificial atau buatan. Kedua tempat itu berada di pedesaan. Orang desa senang sesuatu yang alami sehingga Ando menanggapi hal itu dengan banyak memasukkan unsur alam dalam karyanya. “Dengan memasukkan unsur alam ke dalam ruang, ia tahu persis bahwa tidak ada satupun iman manusia yang bisa memungkiri kebesaran Sang Pencipta,” tulis Miranti dalam esainya tentang Water Temple. Ando berhasil mengejawantahkan quote paling populernya “Life govern Architecture” bukan sebaliknya.
Bisa jadi umpatan-umpatan kecil teman saya karena arsitektur kampus Fisipol tidak melihat bagaimana sebenarnya kultur mahasiswa fakultas ini. “Aneh deh, enggak fisipol banget we,” kata Andrea, seorang mahasiswa Ekonomi saat saya tanya pendapatnya. Menemukan kultur Fisipol itu jelas bakal menghabiskan berlembar-lembar dan absurd. Yang jelas umpatan-umpatan kecil itu menunjukkan kalau ada rasa tidak nyaman yang berarti gedung itu tidak menampilkan apa yang biasa mereka rasakan.
Yang terjadi dalam gedung baru bisa jadi adalah Arsitektur berharap merubah sebuah kultur. Hal itu jelas tidak bisa. Ketika yang menempati gedung tersebut tak merasa nyaman maka seperti ada rasa mereka dipaksa untuk beradaptasi dengan gedung tersebut. Ini sebenarnya sebuah tanda kegagalan arsitektural.
Menyerap apa yang dibutuhkan dan diinginkan sekaligus bagaimana kondisi sekitar adalah kunci dalam merubah sebuah kawasan. Lewat Aga Khan Award tahun 1992 Romo Mangun mengajarkan ini. Ia bersatu padu dengan warga Kali Code Yogyakarta untuk membangun sebuah kawasan yang ramah dengan warganya. Penulis Burung-Burung Manyar ini tahu benar bahwa pembangunan kawasan ini butuh sesuatu yang sifatnya dekat dengan mereka sebagai warga bantaran kali. Ia tak membentuk kultur baru lewat arsitektur melainkan menyerap unsur-unsur masyarakat di bantaran kali tersebut untuk kemudian diaplikasikan bagi kehidupan yang lebih baik. Hal ini kemudian juga dilakukan oleh Romo Sandy di Bukit Duri, Jakarta.
“Mungkin meh digawe modern nowo yo, dadi bangunane koyo ngono (Mungkin mau dibuat modern mungkin ya, jadi bangunannya seperti itu),” tutur teman saya yang lain. “Wes ra keroso Fisipol e we, gedungnya malah kesannya angkuh, duwur, ra sederhana (Sudah tidak terasa Fisipolnya We, gedungnya angkuh, tinggi dan tidak sederhana),” kata Fakhri Zakaria, alumni Komunikasi yang sekarang jadi peneliti di LIPI.
Dari beberapa hasil wawancara sederhana saya dengan orang-orang, kebanyakan mereka menganggap gedung ini mau dibuat modern dan besar. Tapi mereka juga berpendapat hal itu menjadi aneh, karena mereka menjadi seperti tak terbiasa. Agaknya hal itu terjadi karena riset yang kurang mengenai konsep arsitektur yang diinginkan dan riset mengenai apa yang diharapkan oleh para pengguna mengenai gedung baru. Sehingga yang dinilai hanya kesan fisik semata yakni besar, tinggi dan sejenisnya.
Pengejaran atau terobsesi pada faktor fisik dan kesan semata dinamakan dengan kitsch. Istilah kitsch sendiri seperti diungkapkan arsitek dan kolumnis Avianti Armand digunakan untuk mengidentifikasi imitasi yang buruk dari sebuah karya artistik dalam seni murni dan terapan. Hal-hal yang kelihatannya punya makna lebih dalam, tapi ternyata tanpa dasar. Tema dasar yang selalu didengungkan dalam kitsch adalah tendensinya untuk jadi pretensius. Sebuah karya disebut kitsch karena kegigihannya menuntut untuk dianggap serius. Awal mula kelahiran arsitektur kitsch di Indonesia boleh jadi diawali oleh Kota Legenda (silakan baca disini mengenai sejarah Kota Legenda).

Fenomena Kitsch sebenarnya tidak lahir begitu saja. Arsitektur adalah pencerminan dari bagaimana sebuah masyarakat tumbuh. Menurut Umar Kayam, kitsch timbul bukan karena ada semacam kebetulan atau mode atau kelaziman. Ia lahir karena pertumbuhan masyarakat dan bersama dengan masyarakat. Kitsch adalah produk masyarakat yang bergerak dari statusnya yang feodal-agraris menuju ke status masyarakat kota yang modern, demokratis dan komersil.

Boleh jadi FISIPOL memang butuh sebuah gedung yang bisa mewadahi semakin banyaknya mahasiswa. “Yo saiki mahasiswa kan akeh we, cen kudu koyo ngono nowo, piye meneh? (Ya sekarang kan mahasiswa banyak we, emang harus seperti itu mungkin, mau gimana lagi coba?),” ungkap sahabat karib saya, Mayda. Ya mungkin kebutuhan akan adanya ruang yang lebih luas dan besar sangat dibutuhkan FISIPOL. Tapi tentu amat sayang bila gedung baru tak bisa menyerap apa yang diinginkan dan dirasakan oleh para penghuninya.

Meski pada akhirnya sukses menampung ratusan mahasiswa baru tapi gedung ini di satu sisi gagal membentuk sebuah bangunan yang bisa menjawab kebutuhan warganya. Jika gedung baru ini hanya mengejar tampilan tampak modern nan besar apa bedanya ia sebagai sebuah karya arsitektur yang kitsch. Dan seperti kata Umar Kayam, kitsch hanya lahir pada masyarakat transisional yang sedang gagap menerima perubahan. Apakah kita terlalu gagap menerima perubahan? Ah seandainya Ando yang merancang gedung baru itu.
*akhirnya obsesi jadi arsitektur bisa sedikit terobati meski sok tahu* 
Advertisements

8 thoughts on “Andai Ando Membangun FISIPOL

  1. rocky says:

    iki tulisan nggo uts dasar2 arsitektur y w? haha

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    ora je, iki tugas ospek s2 arsitektur, haha

    Like

  3. Bakum says:

    bang, toprak 1 dong.. -bakum-

    Like

  4. kweuuureeen mas
    apik2 hehe
    coba dilengkapi foto gedung baru dan lama
    atau dilanjutin aja mas tulisannya, seri 2 gitu soal pendapat para dosen kita. mungkin mereka bisa sdkit menggambarkan kultur fisipol. ato sjrh gedung yong ma.. ato knp konsepnya gtu.. catnya wrna krem. hahahaha.. maap, mas.. usul subtema doang kok.
    tapi klo mnurutku sih, arsitektur gdung bru itu mang dsengaja agak sama kya punya thp ma pertanian ato khutanan.. biar seragam mungkin. entaahlah 🙂

    Like

  5. Ardi Wilda says:

    @bakum: eh kadal guling, lo tau web gw darimana?haha anjir apa kabar lo nyet?

    @natia: terimakasih, nanti kalo sempet tak foto bakal tak upload fotonya

    Like

  6. jak jaki says:

    architecture is a very social art (thomas karsten)

    Like

  7. Andrea says:

    Please kantinnya jangan digusur…

    Like

  8. mayda says:

    setuju ndre! jangan sampai itu kantin ikutan ilang.
    aku kok nunggu postingan 5 anak band indonesia paling ganteng ya we.. hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: