Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Hari ini saya menemani teman saya, Dina Camen mengunjungi Singapore Biennale 2011. sesuai namanya acara ini adalah perhelatan pameran kesenian dua tahunan yang diadakan di negeri singa putih. Pameran ini diikuti oleh 63 seniman dari beberapa  negara di beberapa tempat di negeri kecil nan kaya raya ini. Hari ini kami baru sempat menyambangi pameran di Marina Bay dan Singapore Art Museum (SAM). Rencananya esok kami akan mengunjungi tempat lain yang menjadi tempat penyelenggaraan pameran seni dwi tahunan ini.

Ada beberapa  karya yang menarik  perhatian saya hari ini. Setidaknya ada dua, yakni karya berjudul Wrapped Traces oleh seniman Filipina, Mark Salvatus dan yang kedua karya dengan judul Secret Affair karya Roslisham Ismail dari Malaysia. Pada kesempatan ini saya akan menuliskan kesan-kesan saya mengenai karya Mark Salvatus. Selain karena saya begitu tertarik dengan karya ini, alasan lain juga karena saya merasa Dina lebih kompeten menuliskan karya Roslisham Ismail karena terasa lebih personal untuk dia.
Konsep  karya Mark Salvatus sebenarnya sederhana. Mark berkeliling ke beberapa kota seperti Barcelona, Manila, Bandung, Bangkok, Amman dan Kuala Lumpur untuk mengajak orang yang ia  temui berbagi mengenai benda apa yang paling berharga menurut mereka. Setiap  orang kemudian diajak untuk menggambar benda paling berharga tersebut. Mark kemudian mengumpulkan dan mengolah ulang gambar-gambar menjadi karya yang sederhana dan menarik. (Silakan liat foto untuk mengetahui bagaimana karya Mark ditampilkan dan apa benda paling penting di hidup saya).
Yang membuat karya ini menarik karena bagi saya karya ini tak sesederhana kelihatannya. Kita tentu menemui banyak sekali barang dalam kehidupan kita. Dari mulai yang paling penting sampai yang remeh temeh. Tapi apa sebenarnya penting dan remeh temeh itu? Relatif bukan? Melihat karya Mark saya menjadi  sadar bahwa masalah “penting” dan “remeh temeh” bukan perkara turun begitu saja dari langit. Di karya ini kita bisa menemui benda-benda yang menurut saya remeh namun ternyata dianggap oleh orang lain sebagai benda yang paling berharga. Mulai dari kacamata santai, gunting, sepatu dan (yak silahkan hela nafas sejenak) sebuah tang ternyata juga dianggap  benda paling penting oleh orang lain.  
Di titik itulah karya ini menjadi asyik dan lucu menurut saya. Sesuatu yang kecil ternyata punya pengaruh yang begitu besar bagi orang lain. Karya ini semakin meyakinkan saya kalau apa yang kita lakukan sebenarnya adalah kumpulan remeh temeh yang kita anggap besar. Mungkin bahasa kerennya kebudayaan dibuat oleh hal-hal kecil, bukan oleh sesuatu yang besar nan revolusioner. Lihat saja karya Mark, apa ada sebuah barang yang begitu bermakna? Tidak, semua orang menggambar hal remeh temeh tentang dirinya, semua orang bisa jadi suka sesuatu yang remeh. Atau jangan-jangan sesuatu yang penting pun ternyata remeh temeh?
#saya kemudian berfoto dengan buku yang sering saya pakai untuk membuat catatan sebelum menulis, saya menamakannya e-book. Karena menurut saya itulah benda paling berharga saya. Tulisan ini merupakan tulisan #5 dari proyek #31harimenulis
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: