Sidekick

Urip mung mampir ngejus


“Aku ijek neng Jogja sek we, gendeng po koe ninggalke koncomu le lagi skripsian, mesakke je (Aku masih di Jogja we, gila apa kamu ninggalin temen-temenmu yang lagi skripsian, kasihan lah mereka),” Widas Gentong (2010)

Saya ingat betul percakapan dengan kakak kelas saya yang ganteng, Widas atau biasa disapa Gentong via YM. Saat itu dia sedang menyuruh saya menyelesaikan skripsi cepat-cepat. Dia bilang nanti saya akan menyesal kalau terus menunda-nunda. Saya hanya membalas dengan ucapan-ucapan normatif semacam, “Iyo Tong santai aja”. Dan Gentong terus mengingatkan saya meski saya tanggapi dingin. 
Perbincangan kemudian semakin hangat ketika saya bertanya rencana Gentong setelah lulus. Ia kemudian bercerita mengenai rencana untuk kuliah lagi, mengikuti kursus selam dan beragam aktivitas lain. saya kemudian bertanya kenapa ia belum meninggalkan Jogja. Perlu diketahui pria berjenggot tebal ini lulus di tahun 2010 dan masih belum meninggalkan Jogja jua. Saya meminta dia meninggalkan Jogja bukan karena saya tak senang ia ada di kota ini, melainkan saya merasa Jakarta akan lebih menempa dirinya. 
Ia pun mengucapkan kalimat yang saya jadikan pembuka tulisan ini, “Gendeng po koe ninggalke konco-koncomu le lagi skripsian, mesakke je (Gila apa kamu ninggalin teman-temanmu yang lagi skripsian, kasihanlah mereka)”. Saat itu saya merasa apa yang dilakukan Gentong adalah hal yang bodoh. Skripsi itu tanggung jawab masing-masing mahasiswa. Setiap mahasiswa akan menemuinya di akhir kuliah, maka beralasan tak meninggalkan Jogja sekedar membantu teman itu tindakan yang bodoh pikir saya waktu itu. Nyatanya kini saya harus menelan bulat-bulat ludah saya sendiri. 
Pagi ini saya bertemu dengan Bang Ipul, ia baru saja mendapat cobaan karena tema skripsinya ditolak. “Santai ae bang, ora popo kok,” tutur Bang Ipul saat saya berusaha menghiburnya. Tapi hari ini Bang Ipul nampak tak seperti biasanya, ia butuh hiburan pastinya. Di samping Bang Ipul berdiri Daniel, si raja sepeda dari angkatan 2006. Meski pengalaman bersepedanya hanya dapat dikalahkan Jan Ullrich namun ia tetap kukuh untuk menyelesaikan kuliah. “Wah Mas Ngurah neng ngendi iki, mumet endasku (Wah Mas Ngurah dimana ini, pusing kepalaku),” kata Daniel sedikit mengeluh. Mas Ngurah sendiri merupakan Dosen Pembimbing Daniel yang hari ini tidak datang kampus. “Enteni wae nil, mengko lak teko, santailah (Tungguin aja Niel, entar juga dateng),” hibur saya. 
Sehari sebelumnya Iqbal, salah satu pionir gerakan Bulutangkis sehat di jurusan saya, berucap, “Aku tegang tenan ki meh ngelumpuk skripsi, kekoyak po ra yo tanggal rung puluh (Aku tegang banget nih mau ngumpul skripsi, kekejar apa tidak ya tanggal dua puluh),” ujarnya sedikit panik. Tanggal dua puluh yang ia maksud adalah tenggat waktu pengumpulan skripsi untuk wisuda periode Agustus. Tentu wajar jika Iqbal tegang, sebab tanggal itu tinggal sebentar lagi. 
Saya kini tahu benar apa yang dirasakan Gentong. Ketika ia telah lulus, saat ia memakai toga kebesaran kelulusan tentu amat membahagiakan. Namun coba lihat dalam perspektif lain, ia akan meninggalkan teman-teman terbaiknya yang belum lulus. Meninggalkan teman itu tentu berat, apalagi saat kita sudah “selesai” sementara teman kita belum selesai. Disinilah dibutuhkan jembatan dan uluran tangan sekedar sebagai penyemangat antara yang sudah selesai dengan yang belum. 
Saya pernah merasakan tekanan yang dirasakan oleh Ipul, Daniel, Iqbal atau Mayda misalnya. Skripsi itu memang setan sekali seperti judul lagu yang saya nyanyikan dengan Dwi. Tapi ia tetap harus dihadapi, maka dari itu kita tak bisa mengelak darinya. Kebanyakan orang begitu bahagia saat menyelesaikannya, namun kita melupakan satu hal, masih banyak rekan kita yang butuh bantuan kita. Bukan bantuan untuk mengerjakan. Sekedar menjadi tempatnya mengeluh, mengoreksi tatanan kalimat di BAB I, mengecek apakah BAB II-nya sudah benar, atau hal-hal elementer lain yang bisa kita lakukan untuk membantu. 
Kini saya merasa apa yang dilakukan Gentong seratus persen benar. Sebab tak tega rasanya meninggalkan teman di medan perjuangan paling berat selama kuliah. Mungkin Mayda, Iqbal atau Daniel sudah bosan menerima pesan pendek saya menanyakan bagaimana perkembangan skripsinya. Namun itulah yang harus kita lakukan bagi yang sudah selesai berjuang di medan perang. Sebelum menuju medan perang selanjutnya ada baiknya sedikit menengok ke belakang, jangan sampai ada teman seperjuangan yang mati di medan perang. Gentong mengajari saya mengenai hal itu.
Advertisements

4 thoughts on “Belajarlah Pada Gentong

  1. wek oleh nangis ora wek? aku luluh karo mas Gentong je…

    Like

  2. rocky says:

    w, koe bikin jasa “olah data” wae,haha,unyu 600 cen asoy tenan:p

    Like

  3. mimit says:

    jadi ingat sama Sandi, teman dekat saya semasa kuliah, dan Sita, teman saya sejak SMA 😐

    Like

  4. jak jaki says:

    skripsi cen setan sekali, tapi kelingan konco sing ijik skripsi rasana pengen gelut ro setan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: