Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Kalau tingkat kekesalan seseorang bisa diukur dalam sebuah derajat suhu, tadi siang tingkat kekesalan saya menyentuh 100 derajat. Sederhana sebenarnya, hanya karena status facebook seorang teman akrab saya. Sedikit keluar konteks, sebagai teman saya hanya ingin mengingatkan kalau anda salah. Untuk Dwi Kurniawan lewat postingan ini saya bilang, “Anda keterlaluan!”. Jujur saya merasa terusik atas status facebook anda. 
Tadi sore Dwi menulis, “Eaaa… Ultah sheila on 7 motret ah… Tapi ndak mau bayar tiket…”. Pertama saya kesal karena ia tak membayar tiket untuk menonton konser musik. Perlu dicamkan ini konser ulang tahun ke lima belas Sheila On 7, band besar selain Shaggydog dari kota gudeg. Dan konser lima belas tahun selalu spesial, jika anda penggemar GIGI anda pasti tahu bagaimana meriahnya konser Armand Maulana cs saat mereka berusia lima belas tahun. Saya yakin konser SO7 senin besok pun akan sangat spesial. 
Saya semakin marah setelah saya bertanya, “Jurnalis apa pengemis e mas e?”. Dengan entengnya dia menjawab, “Juru foto bukan penjilat”. Oh jawaban anda jauh lebih memuakkan ketimbang Marzuki Ali kawan. Anda menyebut diri anda juru foto, tapi bermental teri seperti Marzuki Ali. Mari-mari sini saya hantam pake tulisan ini. 
Saya ingat sebuah pelajaran dari seorang editor saya. “Untuk seorang jurnalis musik, musisi seperti public enemy, jangan terlalu dekat dengannya karena hasilnya akan tidak baik buat tulisan kita. Hal-hal kecil semacam dibelikan teh botol, ditraktir makan atau semacamnya bisa membuat hasil liputan kita tak lagi berimbang.” Saya ingat betul saran itu. Musisi itu enemy! 
Dan tadi sore dengan enteng anda menyatakan diri anda sebagai “Juru foto bukan penjilat”. Juru foto bisa dibilang adalah bagian dari jurnalis (mendebatkan siapa yang bisa disebut jurnalis tentu bisa makan waktu satu bulan purnama, ini hanya penyederhanaan), berarti anda bagian dari seorang jurnalis. Harusnya anda berpikir layaknya seorang jurnalis. Seorang jurnalis akan bersikap mati-matian agar hasil liputannya berimbang (oke berimbang itu tidak mungkin, tapi setidaknya usaha ke sana harus ada). Maka sebaiknya anda berusaha menuju ke sana. 
Mari tengok lagi apa yang anda ucapkan, “Juru foto bukan penjilat”. Jika anda juru foto, saya mau bertanya, juru foto untuk media mana?atau agensi mana? Maaf kalau anda tak bisa menjawab. Karena tak bisa menjawab pertanyaan tersebut pastilah anda berusaha untuk bisa masuk gratis bukan. Kan sudah pegang kamera segeda gaban, pasti bisa masuk ke venue mana saja bukan? Anda kemudian meminta kontak manajemen SO7 pada rekan saya yang pernah meliput dan akrab dengan SO7. Hmmm..kok anda seperti menjilat ludah sendiri ya, katanya bukan penjilat, kok rasanya anda berencana menjilat manajemen si band agar diijinkan motret. Kasihan sekali anda. 
Belajarlah untuk bijak, seorang jurnalis bahkan pernah rela membayar sebuah tiket konser seharga hampir setengah juta agar ia mendapat sebuah pemandangan layaknya penonton biasa. Eh anda bukan siapa-siapa malah gaya minta gratisan. Kalau begitu caranya saya ragu anda bisa jadi “Juru Foto” seperti yang anda tuliskan. Lebih baik anda makan bakmi di depan rumah sambil belajar cara jual beli kamera ketimbang jadi Juru Foto seperti yang anda bilang. 
Maaf kalau tulisan ini terkesan emosional. Percayalah, apa yang anda bilang tak hanya merendahkan diri anda sendiri. Anda juga sudah merendahkan profesi yang hendak anda geluti. Jurnalis bukan seseorang yang menjilat narasumber sekedar untuk dapat gratisan. Malulah pada kamera segede gaban jika cuma jadi medium untuk dapat tiket gratisan. Menutup tulisan ini saya ingin mengutip pernyataan Joko Anwar, “whatever we do to survive, let’s not shit on our plate.” Tadi siang anda sangat shit kawan!
Advertisements

8 thoughts on “Anda Jurnalis apa Pengemis?

  1. kemas says:

    Hmm..udah waktunya tulisan ini hadir..

    Like

  2. nagara says:

    awe n jaki nulis dengan tema yang sama,obyek yang sama dan subyek yang sama….tu anak memang sudah harus dibenerin cara berpikirnya ..hahaha

    Like

  3. Hehehe..jadi ngerti, beda juru foto beneran sama juru foto kacangan

    Like

  4. galatiapuspa says:

    Hahaha, mau sampai kiamat juga dwi cuma bisa beli kamera mahal tanpa bisa menghasilkan foto berkualitas.

    Like

  5. Ardi Wilda says:

    @galih: yang salah sikapnya dwi mas galih, bukan orangnya, hehe le penting saling mengingatkan nek kancane salah

    Like

  6. omonganmu seko mas editor selalu tak tancapkan dalam kepala we, ini membuat dilema *curhat* -,-

    Like

  7. Ardi Wilda says:

    @kicrit: tapi crit dengan dekat sama musisi kamu juga bisa insight gak didapet semua orang. Insight itu bisa jadi penting untuk tulisan, ya pintar2 jaga jarak aja..

    Like

  8. sik baru moco… oho… saya nggak pernah pameran, jadi nggak pernah show karya ya teman-teman maaf…
    foto saya memang nggak berkualitas lho galih…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: