Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saya tak pernah mengidolai sebuah band negeri ini seperti saya mengidolai Blur. Semua saya dengarkan namun ya sebatas suka. Tak ada yang menurut saya memberi pengaruh besar dalam hidup kecuali untuk momen-momen tertentu. Blur memberikan itu namun band di negeri ini saya rasa belum ada yang memberikan pengaruh sebesar itu. Sampai tibalah saatnya saya bertemu beberapa kali dengan Sheila On 7 untuk beberapa tujuan.
Pertama untuk pembuatan film dokumenter berjudul Sakti. Film ini berkisah soal Sakti, mantan gitaris Sheila On 7 yang keluar karena ingin mendalami agama. Dalam proses riset dan pembuatan film tersebut akhirnya saya bertemu dengan personil Sheila On 7. Saya tak punya ekpektasi besar dalam pertemuan-pertemuan tersebut. Popstar ya popstar, popstar sama saja dimana-mana. Dan sebagai orang yang terkadang selalu punya penghakiman atas orang lain saya menganggap Sheila On 7 hanya popstar biasa yang tak punya keistimewaan apa-apa.
Lewat beberapa pertemuan saya akhirnya sadar saya salah. Banyak hal yang bisa dipelajari dari band ini. “Ya dulu kita terkenal banget waktu muda, ibaratnya kita tunggul bisa beli itu barang. Kita pernah ngalamin kaya gitu, ibaratnya apa-apa tinggal tunjuk jadi milik kita,” ujar Eross saat bercerita bagaimana awal mula ia kaget dengan kepopuleran yang ia terima. “Tapi lama-lama kita sadar kalau yowes piye yo (ya gimana ya) ibaratnya itu udah lewat mah, sekarang ngopo-ngopo yo biasa wae (sekarang ngapa-ngapain ya biasa aja),” lanjut Eross.
Eross tak sedang berkelakar atau sok bijak dengan ucapannya. Beberapa hari sebelumnya Duta membuktikan apa yang diucapkan Eross. “Waduh kalau lusa wawancara ketok e raisoh mas (sepertinya enggak bisa) soalnya aku jemput anakku sekolah sama nganter dia les,” ujar Duta yang hanya mengenakan celana pendek dengan mata yang masih mengantuk sehabis menonton pertandingan sepakbola. Saat itu Duta didampingi istrinya yang memakai helm karena ia baru turun dari motor sehabis jajan makan malam sederhana untuk dirinya dan Duta. Sebuah peemandangan yang amat jauh dari prediksi saya mengenai popstar.
Lain lagi dengan Sakti. Ia memang telah berubah, ia kini lebih memilih mengalungkan sorban ketimbang gitar. Padahal kemampuan Sakti tak bisa dipandang sebelah mata. Isian-isian gitar pada JAP menurut Duta adalah salah satu jasa pria yang memutuskan meninggalkan kuliah untuk berkonsentrasi pada band. Namun karena ia merasa panggilan jiwanya di jalan agama maka ia pun memilih meninggalkan band. “Daripada saya merugikan Sheila On 7 lebih baik saya meninggalkan mereka,” ujar Sakti saat kami wawancara.
Dengan ditinggal pergi Sakti dan Anton (drum), band ini akhirnya tenggelam di album Pejantan Tangguh dan 507. Tulisan Hasief di Rollingstone Indonesia saat Sheila On 7 mengeluarkan Album Menentukan Arah mengupas habis masalah ini. Bagaimana Sheila On 7 akhirnya bisa bangkit dari keterpurukan yang mereka alami.
Beberapa hari lalu saya mulai sadar bagaimana band ini bisa bangkit dari keterpurukannya. Senin (16/5) lalu mereka mengadakan konser ulang tahun perjalanan karier yang kelima belas. Bagi saya bisa jadi ini konser terbaik tahun ini yang diadakan di Yogyakarta. Duta membanting semua persepsi tentang kualitas vokalnya yang pas-pasan, ia bernyayi tiga jam tanpa henti dan tak ada penurunan kualitas sama sekali. Penonton tak pernah berhenti bernyanyi bersama. Jika konser adalah sebuah dialog, maka konser ulang tahun Sheila On 7 senin lalu adalah sebuah dialog yang panjang nan romantis.
Namun bukan kemegahan konser atau kemampuan vokal Duta yang perlu diacungi empat jempol yang membuat konser ini sangat apik. Di konser ini mereka bermain dengan sangat lepas, senyum terus tersungging di tiap personil Sheila dan ya mereka menikmati betul permainan malam itu. Dan itu yang membuat konser ini menjadi begitu istimewa bagi saya.
“Kamu dimana?” tiba-tiba pesan pendek dari Adam si bassist masuk ke telepon selular saya. Saya yang sedang membeli minum sebentar langsung lari tunggang langgang ke backstage. Sayang personil lain langsung pulang setelah konser karena sangat lelah. Terkutuklah untuk wawancara malam itu karena membuat saya sadar band-bandan bukan soal mencari uang, ketenaran apalagi gaya-gayaan. Ngeband adalah sebuah proses panjang perjalanan dan Adam dengan sangat baik dan ramah membagi pengalaman ia ngeband bersama Sheila On 7 selama lima belas tahun.
“Sheila masuk saat musik kita kekurangan idola, GIGI, Dewa, /rif sama Slank semua lagi dilanda masalah. Tau-tau kita masuk kesana, kita tau-tau terkenal. Lagu kita ada dimana-mana, gila kita masih muda banget dulu. Ada pengamen yang nyanyiin “Kita” di depan saya, Eross sama Duta tanpa dia tahu kalau itu lagu kita. Dulu kita bingung kok bisa sebegitu terkenalnya ya. Masih bocah banget dulu,” ujarnya memulai cerita.
Namun ketenaran adalah sebuah bom waktu kehancuran kalau kata pepatah. “Kita kan dasarnya temenan dari kecil, kalau ada masalah apa-apa yaudah didiemin aja, yang ada di pikiran cuma ngeband, bikin lagu, tur, terus konser. Kita kaya mesin, gitu aja terus. Akhirnya saat ada masalah beneran ya pecah deh,” jelasnya.
Ia pun mengatakan kalau apa yang terjadi dalam band akan sangat mempengaruhi karya mereka. “Dulu emang secara band kita lagi enggak solid, makanya keluarnya ya begitu, tapi ya itu hasilnya, harus disyukuri juga. Kalau sekarang kita udah dewasa ngeliat ke belakang ya ketawa aja paling, jadi pelajaran lah. Yang penting kan buat apa yang udah kita dapet tapi ke depannya gimana nih, yang dulu buat pelajaran ajalah,” jelas Adam panjang lebar.
Kami berbincang lama hingga seorang penjaga kafe yang dimana konser diadakan mengingatkan kalau kafe sudah mau tutup. Adam kemudian menutup wawancara dengan mengatakan, “Aku seneng main musik, kami cuma mau main musik aja, kami mau dikenang sebagai band yang senang main musik, sederhana aja kok,” ucapnya.
Sampai rumah saya mengulang lagi memori-memori mengenai Sheila On 7. Bukan sebuah band yang fenomenal layaknya Blur bagi saya pribadi. Tapi secara tak sadar lagu-lagunya menemani saya sejak kecil. Sejak saya membaca buku paket Bahasa Indonesia SD sampai saya membaca referensi untuk penulisan skripsi, band ini masih ada. Saya belajar banyak dari ketahanan mereka sebagai sebuah band. Menjadi luar biasa itu awalnya memang menyenangkan, namun kesederhanaan yang membuat kita akan terus ada.

*hasil liputan saya mengenai konser 15 tahun Sheila On 7 juga bisa dibaca disini http://rollingstone.co.id/read/2011/05/18/142109/1641686/1093/15-tahun-usia-sheila-on-7-dirangkum-dalam-konser-3-jam-non-stop?lftheadline 

Advertisements

One thought on “Ode Untuk Sheila On 7

  1. rocky says:

    wis adus durung le?” *duta.1999.Std Mandala Krida.gladi resik konser clear top ten. ra bakal lali awal kedanan so7 ngasi saiki,haha 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: