Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saya harus berpikir ulang mengenai konsep pertemanan yang selama ini saya pegang. Sejak kecil saya selalu berpikir teman memiliki beberapa fungsi dan setiap teman hanya bisa memenuhi salah satu fungsi. Misalnya saya menempatkan si ini sebagai teman melo nan galau, sementara si itu saya tempatkan untuk teman gila-gilaan. Tak mungkin misalnya saya mengajak si itu untuk menemani saat saya sedang melo atau gundah gulana, karena menurut saya hal itu tak bisa dilakukan oleh teman saya itu. Setiap teman punya porsinya masing-masing buat saya.
 
Tadi malam Gorgom alias Ocha Mahar dan Mas Galih (Mas Beib) menyadarkan saya bahwa apa yang saya lakukan selama ini salah. Ocha adalah seseorang yang selalu saya tempatkan sebagai teman haha hihi, teman ketawa dan bego-begoan. Sebab saya rasa dia memang orang yang cuek, bakalan aneh kalau saya misalnya curhat tentang hidup ke dia. Saya kira hasilnya akan dipenuhi tawa dan tidak menyelesaikan masalah jika saya curhat. Semalam entah kenapa tiba-tiba dia menyapa saya di YM tepat pada pukul dua dinihari. 
Berlanjutlah obrolan kami ke hal-hal serius, tentang masa depan, tentang tujuan hidup dan banyak hal. Kami punya persamaan sama-sama berasal dari ibukota, kami takut kembali. Saya sejengkal lagi kembali ke ibukota sementara Ocha juga akan melakukannya setelah lulus. “Gorgom kan berhati Rinto sebenernya we,” ujarnya saat obrolan kita menyentuh hal-hal sensitif soal kisah asmara. 
Ocha memang tak memberikan sebuah solusi yang begitu wah atau membuat saya punya jalan keluar mengenai masalah saya. Tapi joke joke yang ia keluarkan saat perbincangan di YM membuat saya senang dan tersenyum. Ternyata ia juga bisa jadi orang yang bijak tanpa perlu menggurui banyak hal. Ia menempatkan dirinya  sejajar dengan saya dan mengobrol dengan sangat hangat, nyaman sekali rasanya mengeluarkan unek-unek dan masalah pada si Gorgom. Rasanya seperti bertemu teman lama untuk kemudian berbagi kisah mengenai masalah masa depan. 
Sebelum Gorgom menyapa saya via YM maka tersebutlah Galih alias Mas Beib menyapa saya terlebih dahulu. Dia tiba-tiba bertanya banyak hal mulai dari urusan asmara sampai rencana setelah lulus. Saat perbincangan semakin hangat tiba-tiba ia meminta izin, “We aku oleh ngeritik koe ra (We, aku boleh ngeritik kamu gak)?” yang langsung saya jawab dengan, silakan. Mengalirlah kritikan dari teman KKN saya ini, “Koe ki kurang terbuka karo uwong we, kurang menerima masukan dari orang-orang, sederhanane koe ki keras kepala (Kamu kurang terbuka sama orang we, kurang nerima masukan-masukan, sederhananya kamu itu keras kepala).” Ia pun menyarankan saya untuk lebih menerima masukan-masukan dari orang agar saya lebih enak menjalani kesehariaan. Entah kenapa saya seperti ditampol oleh kritikan Mas Galih tersebut, dan saya berjanji akan lebih terbuka terhadap masukan dari orang lain padanya. 
Setelah subuhan saya kemudian mengingat lagi dua kejadian tersebut. Berbincang mengenai hal-hal serius pada dua orang teman yang selama ini saya anggap sekedar untuk  berbagi tawa. Gorgom yang punya proyek dengan hashtag #fiksimesum di  twitter dan Mas Galih yang sering misuh-misuh (berkata kotor) tak pernah sedikit pun terlintas di kepala mereka bisa begitu bijak dalam memberi masukan. 
Dari situ saya kembali tersadar bahwa konsepsi saya mengenai pertemanan agaknya patut dirubah. Teman bukan jenis tumbuhan yang bisa diklasifikasikan si ini jenis apa dan fungsinya  untuk apa. Setiap orang pada dasarnya mungkin sama saja. “Emang lo pikir gw enggak bisa sedih baca tulisan ucapan terimakasih di skripsi lo, bisa klah we, gw juga punya sisi melankolis kali,” tutur Dina Camen saat dalam sebuah obrolan tiba-tiba ia membaca ucapan terimakasih saya di blog. Camen benar, setiap orang punya sisi melankolisnya sendiri dan saya selama ini mungkin salah sering menempatkan banyak orang hanya sebagai teman tertawa saja.  
Ketika kita membutuhkan sesuatu sebenarnya teman adalah paket lengkap dari apa yang kita butuhkan. Ia berserak dimana saja, kadang mereka tak perlu dipanggil datang sendiri. Di ruang chat YM, di kedai kopi yang mengasyikkan, di angkringan, atau dimana saja. Mereka bisa berbagi banyak hal pada kita. Tak ada klasifikasi dalam pertemanan, teman ya teman. Orang yang membagi  suka dan dukanya bersama kita. Ocha dan Mas Galih mengajari saya mengenai hal itu tadi malam. 
*ditulis sambil mendengarkan lagu lawas milik Sheila On 7 berjudul Perhatikan Rani*
Advertisements

2 thoughts on “Setiap Orang Mengenal Rinto

  1. rocky says:

    edyan, saiki sempet subuhan to we'?wkwkwk:p

    Like

  2. galatiapuspa says:

    Friend indeed and needed, hayah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: