Sidekick

Urip mung mampir ngejus

<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
Sejak kecil saya selalu mendambakan sosok adik. Wajar rasanya sebab saya adalah anak terakhir di keluarga. Senang rasanya kalau bisa melindungi seorang adik. Beradu mulut dengan temannya yang songong, menghajar temannya yang nakal atau beragam aktivitas lain yang biasa dilakukan seorang kakak laki-laki. Naasnya saya tak pernah mendapatkan kesempatan itu. Saat kuliah sebenarnya kesempatan itu terbuka lebar, sayang saya menyia-nyiakannya. 

Dengan tinggal bersama bude saya maka saya juga bercengkrama dengan keluarga beliau. Salah satunya adalah dengan cucu-cucu yang dimiliki oleh bude saya. Atau lebih tepat disebut adik keponakan saya. Ada enam orang adik keponakan (cucu bude saya) namun saya paling sayang dengan seorang bernama Hafiz. Alasannya sederhana karena ia sering ke rumah dan ia sangat nakal sekaligus menggemaskan. 
Awal saya tinggal di Jogja ia hanyalah seorang anak kelas 1 SD yang nakalnya minta ampun. Jangan pernah berurusan dengannya jika tak mau ketiban sial. Suatu kali saya pernah mengajak dia jalan-jalan ke Ambarukmo Plaza, saya bebaskan dirinya untuk melakukan apa saja. Dari mulai main timezone sampai beli mainan saya turuti. Pada detik-detik terakhir saya baru sadar saya salah strategi, seperempat uang bulanan saya ketika itu habis dalam satu hari untuk meladeni anak ini. Sejak itu saya mengurangi frekuensi bermain dengan si Hafiz ini. Palingan saya hanya berinteraksi dengannya di rumah, tak lagi mengajaknya pergi ke timezone atau beli mainan. 
Kesibukan kuliah dan yang terakhir skripsi bahkan membuat saya jauh dari Hafiz. Kami jarang mengobrol lagi bahkan ia sepertinya sudah tak lagi merasa akrab dengan saya. Dulu ia sering nyelonong masuk ke kamar saya hanya untuk mengobrol hal-hal kecil. Bertanya seputar urusan sekolah ataupun hal remeh temeh lain. Sayang saya kurang perhatian pada bocah ini sehingga membuat ia merasa jauh dengan saya. Sampai akhirnya dua hari lalu saya sadar Hafiz yang saya kenal bukan lagi sosok nakal yang hanya bisa merengek minta mainan pada orangtuanya. 
Dua hari lalu di mushola rumah bude, saya melihat Hafiz sebagai sosok lain. Ia menjadi imam sholat bagi tante saya (anak bude saya) dan adik keponakan saya yang lain, Rian yang usianya dua tahun lebih muda. Mungkin anda mengira saya berlebihan, tapi menjadi imam sholat adalah sebuah hal spesial bagi Hafiz. Tak seperti Rian, Hafiz amat sulit diajak sholat. Jangankan sholat berjamaah, sholat sendirianpun dia biasanya akan mengelak. Dan kini saya melihat ia menjadi imam.
Saya yang hendak mengambil wudhu hanya bisa diam saat melihat Hafiz sholat. Saya perhatikan betul sampai tak terasa tiga rakaat sholat maghrib telah ia selesaikan. Setelah salam dengan rendah hati ia bertanya pada si Rian, “Tadi bener tho aku tiga rakaat An?”. “Iya bener Mas, tadi kalau enggak tiga rakaat pasti aku ingetin,” kata Rian. “Emang ngingetinnya caranya gimana? Kan lagi sholat masak ngomong,” tanya Hafiz. “Ya kalau cowok kalau salah bilang Subhanallah, kalau cewek tepuk tangan,” balas Rian menjelaskan. “O iya denk aku lupa, itu kan pernah diajarin,” tutur Hafiz sambil cengar-cengir. Melihat pemandangan itu saya yang masih basah dengan air wudhu dan pakde saya yang baru pulang dari masjid hanya bisa tersenyum. 
Saya jadi sedih melihat itu, menyesal rasanya tak bisa melihat perkembangan Hafiz bisa sampai seperti ini. Ia kini bahkan sering mengingatkan adik keponakan saya yang lain untuk sholat. Ya ia telah berubah. Ia bukan lagi tuyul yang menguras habis uang bulanan saya untuk bermain timezone, ia menjadi imam kecil bagi saudara-saudaranya. Dan saya bersumpah akan menghadiahi dia sesuatu karena tingkah lakunya yang sangat keren ini. 
“Fiz, nonton yuk bareng Om Wilda,” ajak saya. “Oke om, nonton apa emang? Film kartun apa film beneran (film beneran adalah istilah dia untuk film bukan kartun)?”. “Ada film judulnya Serdadu Kumbang Fiz, nonton itu aja ya, buat anak-anak filmya, kalau yang lain buat yang udah gede, mau enggak?” bujuk saya. “Iya om boleh-boleh, tapi aku ajak Fian ya (Fian adalah teman akrab Hafiz satu sekolah)”. “Ajak aja gapapa, oke besok nonton Serdadu Kumbang ya,” kata saya sebelum waktu Isya datang. 
Hari ini akhirnya kami bisa bepergian bersama lagi. Meski datang terlambat karena si Hafiz membeli permen karet di warung dekat rumah namun kami bisa juga menikmati film bersama. Lupakan soal filmnya, tipikal Ari Sihasale sekali lah. Yang saya lihat Hafiz menikmati film ini tapi ia tetap meminta makan. Mungkin ia memang berubah tapi banyak hal yang juga tak berubah. “Om, makan ya Om, laper banget nih,” pintanya ketika film belum genap tiga puluh menit berlangsung. “Santai Fiz, beres pokoknya,” ujar saya sok asyik padahal dalam hati mengingat-ingat saldo ATM tinggal berapa.
Di perjalanan pulang kami pun banyak mengobrol tentang pendidikan Hafiz. “Sabtu minggu depan aku terima raport om, kelas lima aku besok,” kata dia sedikit membanggakan diri. “Keren Fiz, jangan lupa belajar ya, tapi jangan lupa main juga, udah enggak usah dengerin akung (kakek) kalau dilarang main. Enggak main nanti stress, tapi kalo enggak belajar nanti jadi bodoh, makanya main sambil belajar Fiz, biar enggak stress tapi juga enggak bodoh,” kata saya sok menasehati Hafiz. “Iya om,” balas Hafiz sambil tertawa karena saya menganjurkan tak mengikuti apa yang dikatakan kakeknya (pakde saya). 
“Emang udah gede mau jadi apaan sih Fiz, cita-citamu jadi apa?”. “Mau jadi pilot Om, asyik bisa nerbangin pesawat,” jawab Hafiz cepat. “Wuih mantep tuh Fiz, Pilot keren Fiz, yaudah belajar sama main aja pokoknya ya biar bisa jadi pilot.” “Iya Om,” balasnya singkat.
Sampai rumah ia langsung tidur di kamar tantenya. Bisa jadi ini adalah main-main terakhir saya bersama Hafiz. Dia anak yang nakal tapi sangat bertanggungjawab, ia memang manja namun ia telah berubah jadi sosok anak kecil yang mulai tahu bagaimana menjadi manusia. Bukan perkara soal jadi Imam Sholat tapi bagaimana ia mulai bisa menyikapi nasihat yang diterimanya dari orang lain. Ia mulai beranjak remaja, dan remaja adalah masa yang mengasyikkan. Nikmatilah itu Fiz. 
Saat Om Wilda mengetik ini mungkin kamu sedang ngompol di kamar tante Desi (udah mau kelas lima masih ngompol aja kamu Fiz, payah ah). Maaf Fiz Om enggak pinter ngomong makanya cuma bisa nulis ini. Kalau suatu saat kamu baca tulisan ini Fiz, tetap main-main tapi jangan lupa belajar ya Fiz. Belajar enggak hanya dari buku, belajar dari Ayah sama Mama, Akung, Uti, Tante, semoga empat tahun Om di Jogja bisa buat ajang kamu belajar juga. Belajar berani mengejar cita-cita Fiz, jangan kaya Om-mu ini yang enggak pernah berani mengejar cita-citanya. Udah jadi Imam Sholat berarti udah bisa jadi Imam di aspek kehidupan lainnya Fiz, amin. Seperti yang tadi Om bilang di motor, sebentar lagi om pamit, kamu baik-baik sekolahnya ya. Pokoknya terus bermain dan belajar, jalanmu masih panjang Fiz jangan pernah mengubur mimpi di tengah jalan.
Advertisements

5 thoughts on “Jalanmu Masih Panjang Fiz

  1. rocky says:

    hafiz ki legend je, hadiahi ps wae we nggo kenang2an, ps2 wis murah, haha

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    ojo, isoh dibedil pakdeku mengko aku, haha

    Like

  3. herwanayogi says:

    ijik SD wes sholat, om e wae kuliah ra tau sholat haha

    Like

  4. jak jaki says:

    mosok kalah subuhan ro hafiz pakde ?

    Like

  5. Ardi Wilda says:

    @yogi: om e gaweane mabuk ae ki 😛
    @jaki: suk akutak gawe #31haritahajud ae jak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: