Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Malam itu sebuah pesan pendek masuk ke telepon selular saya, isinya bertanya mengenai penelitian Bioskop Permata yang saya lakukan. Beberapa bulan lalu saya memang melakukan penelitian di Bioskop Permata, Yogyakarta (hasilnya bisa dibaca disini). Pesan pendek itu datang dari Dalijo, rekan kuliah saya yang hendak melakukan penelitian mengenai gaya visual  pada poster-poster film. Saya kemudian menawarkan untuk mengantar Dalijo pergi ke Permata. “Kebetulan aku akrab sama orang-orang di Permata, mungkin bisa bantu biar kamu enggak usah pendekatan lagi,” kira-kira begitu inti perbincangan kami. 
Mbak Intan (Sekretaris Bioskop Permata) menyambut saya dan Dalijo dengan sangat ramah seperti  biasanya. Pak Yadi (Pengurus Bioskop Indra) juga menyempatkan mengobrol dengan kami, “Aku kira kamu udah lupa jalan ke Permata,” ujar dia sedikit menyindir karena saya jarang pergi ke Permata setelah pemutaran intern film saya disana. Saya hanya bisa tertawa mendengar ledekannya. 
Di akhir pembicaraan Mbak Intan memberitahukan kabar buruk. “Mas Awe, semalam Pak Djam (Djamsuki, proyektor bioskop permata) sms aku, katanya istrinya lagi kritis, tengah malam smsnya,” tuturnya. Sakitnya istri Pak Djam memang sudah lama namun menurut Mbak Intan saat ini kondisinya sedang dalam taraf yang terburuk. Mendengar itu saya beinisiatif untuk menjenguk istri Pak Djam, “Besok saya jenguk ah, udah lama mau jenguk tapi enggak jadi-jadi,” pikir saya dalam hati.
Selesai sholat maghrib saya teringat pesan Mbak Intan, saya pun mengirim pesan pendek ke Saila (rekan saya dan crew film documenter dari rangkaian penelitian saya) untuk menjenguk istri Pak Djam besok. Ketika hendak mengirim pesan pendek ini ke rekan-rekan saya yang membantu penelitian dan produksi film seperti Dwi, Yogi, Efan, Cahya dan Amri tiba-tiba saya dikejutkan oleh sebuah pesan pendek dari Mbak Intan. “Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun telah meninggal Ibu Miskiyah (istri Pak Djamsuki) hari selasa tgl 21 Juni’11 jam 18.00. Di RS Sardjito,” begitu isi pesan pendek tersebut. Jelas saya sedih mendengar itu, baru saja hendak menjenguk ternyata Ibu Miskiyah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa. 
Saya sedih dan marah mendengar meninggalnya Ibu Miskiyah. Kemarahan saya bukan tanpa sebab. Saya rasa Almarhumah Ibu Miskiyah adalah potret bagaimana masyarakat kecil tergerus modal besar. Oke mungkin saya terlalu emosional, akan saya jelaskan kenapa saya marah. 
Bioskop Permata dan Indra tutup karena banyak hal. Salah satu faktor utamanya adalah karena distribusi film yang tidak menguntungkan kedua bioskop ini. Pak Bagyo (direktur Bioskop Permata) pernah mengungkapkan bahwa ia ingin sekali agar film-film baru bisa tayang di Bioskop Permata berbarengan dengan bioskop jaringan besar. Namun tetap saja Bioskop macam Permata kalah dibanding bioskop berjaringan (maaf kalau saya naïf) yang bermodal besar. Secara sederhana pada akhirnya Bioskop Permata hanya menerima film-film basi buangan dari bioskop jaringan besar. Masalah ini menjadi salah satu masalah besar yang mengakibatkan bioskop Permata tutup. Lain halnya dengan Bioskop Indra yang hendak dijadikan kantung parkir di Malioboro. Meski beda kasus namun keduanya tutup karena kepentingan modal besar, biar bagaimanapun kantung parkir adalah sebuah proyek besar dan amat basah tentunya. 
Dengan tutupnya Bioskop Permata dan Indra otomatis Pak Djamsuki kehilangan pekerjaannya. Pekerjaan Pak Djam sebagai pemutar rol film jelas tak bisa dilanjutkan, bioskopnya saja sudah punah. Maka Pak Djam yang sudah menjadi proyeksionis sejak dekade 70-an harus kehilangan pekerjaannya. Istrinya yang berdagang di sekitar Bioskop Permata setali tiga uang, ia tak bisa lagi berjualan karena Bioskop Permata tutup sehingga kehilangan pelanggan. Pasangan suami istri ini akhirnya hanya bisa menatap nanar atas tutupnya bioskop ini. 
Selesai tutupnya bioskop permata Istri Pak Djamsuki sakit. “Iya sekarang Pak Djamsuki banyak ke Rumah sakit jagain istrinya Mas,” kata Mbak Intan saat terakhir kali saya kesana sekitar bulan Januari 2011. “Biayanya gimana mbak?” Tanya saya. “Kayanya ada Jamsostek tapi saya enggak tahu juga, tapi ya kalau enggak Jamsostek ya gimana lagi mas,” ucap Mbak Intan prihatin. Jelas perawatan rumah sakit butuh biaya dan sekarang keduanya sudah tak bekerja, lantas darimana mereka mendapatkan dana untuk bertahan hidup? Permata adalah tumpuan hidup mereka, dan karena tergerus oleh industri hiburan yang lebih modern dan serakah mereka kehilangan pekerjaan tetap mereka. Berdosalah saya yang saat itu tak jadi menjenguk Pak Djamsuki padahal sudah mengetahui istrinya sedang sakit dan butuh bantuan.   
Saya marah (mungkin kemarahan ini sangat naïf) tapi saya kesal dengan arus modal yang menggulung orang seperti ini. Bioskop boleh jadi dianggap hanya industri hiburan semata, tapi terlalu banyak intrik di dalamnya. Permata hanya jadi korban ketidakadilan sistem yang ada. Pak Djam dan Ibu Miskiyah adalah pihak yang pada akhirnya hanya bisa menjadi korban dari ketidaberesan industri hiburan negeri ini. Coba kita pikir berapa banyak orang macam Pak Djamsuki yang harus kehilangan pekerjaannya. Pada akhirnya cerita klise akan terus berulang, orang kecil yang jadi korbannya. Arus modal terlalu serakah berekspansi dan memakan apa yang sepatutnya dimiliki oleh banyak orang. 
Saya sedih karena ini kedua kalinya saya gagal membantu orang yang dekat dengan saya. Cerita kegagalan pertama saya terjadi saat Suami Mbak Jajan (pedagang di Sekre Pers Mahasiswa UGM) sakit keras. Kasusnya sama persis, ketika hendak membantu Suami Mbak Jajan terlebih dahulu meninggal dunia. Dan kini kasus  itu berulang. Saya tak belajar dari pengalaman. 
Almarhumah Ibu Miskiyah mengingatkan saya masih banyak orang kecil di sekitar kita yang menjadi korban ketidakadilan. Arus modal, industri hiburan atau istilah njelimet lainnya mungkin memang tak pernah bisa disalahkan. Yang penting adalah bagaimana kita memulai sebuah langkah kecil perubahan. Tanpa langkah kecil itu bisa jadi kita hanyalah bagian kecil dari lingkaran besar arus modal yang terus menggerus kaum marginal. 
Sebuah pesan pendek dari Saila datang ketika  tulisan ini hampir selesai, ia menulis “Daripada senep mending saiki (sekarang) kita lakukan apa  yang bisa kita lakukan untuk Pak Djam.” Saila benar, berdiam diri berarti menyetujui apa  yang dilakukan para pemilik modal besar untuk menggerus Ibu Miskiyah dan Pak Djamsuki. Damailah disana Bu Miskiyah, doa kami selalu menyertaimu.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: