Sidekick

Urip mung mampir ngejus

<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>

Bentangan sawah kawasan utara Jawa terlihat sangat hijau ketika tiba-tiba ia terbangun. Kereta sedang membawanya pulang ke kampung halaman saat ia terbangun oleh mimpi yang sama seperti hari sebelumnya. Ia memandang sekitar, di sampingnya duduk pria berjaket biru dengan strip hitam menatap ke luar jendela. Di depannya dua turis backpacker yang hendak mencari batas antara kehidupan nyaman di Eropa dengan eksotisme pulau Jawa. Ia masih termenung, melihat sebuah buku kecil yang baru saja ia baca sebelum tertidur karena kantuk.

Mimpi sama itu masih menghantuinya. Sesosok pria menggandeng seorang perempuan kecil. Si perempuan kecil berlari-lari kecil diantara cipratan air pantai. “Sadranan,” tutur pria itu sekonyong-konyong dalam mimpinya. Perempuan kecil itu masih berlari membelah pinggir pantai dengan kaki telanjang. Urat kakinya yang biru terlihat diantara telapak kakinya yang putih. “Sadranan,” ucap pria  itu kembali dalam mimpi.
Mimpi itu selalu menghampirinya sejak dulu, ketika ia menginjak masa SMA. “Mungkin itu ayahmu dan anak kecil itu kamu,” tutur temannya menerka-nerka. Ia hanya menggelengkan kepala. Meski ayahnya sudah meninggal lama namun ia pernah melihat fotonya di ruang keluarga. Di foto  itu ayahnya nampak besar, sementara di mimpinya hanya terlihat sesosok pria kurus kering bertelanjang dada. Tulang rusuknya terlihat menonjol, seperti karang yang berada di pinggiran pantai.
Dan perempuan kecil itu tentu saja bukan dia. Ia tahu saat kecil dulu tak seputih itu. Urat biru di kakinya tak menunjukkan kalau itu dirinya. Pun dengan sikapnya bermain air. “Kamu seperti kucing, selalu menghindar terkena air,” kata ibunya ketika ia masih kecil. Ia juga ingat tak pernah pergi ke pantai saat kecil dulu. Bahkan membayangkan ke pantai pun ia  tak pernah sama sekali.
Kereta yang ia  naiki kini mulai melaju dengan cepat. Sandaran bangkunya mulai banyak bergoyang karena laju yang mulai cepat. Beberapa  petugas dari kereta api juga mulai berkeliling menjajakan menu-menu restoran yang ada di kereta tersebut. Ia melihat ke luar dan hamparan sawah luas masih mendominasi bola matanya. Kali ini ditambah dengan beberapa  burung putih pemakan bijih padi yang beterbangan di sekitar sawah. Suasana yang kerap ia temui dulu di kampung halamannya.
Lama ia tak pulang ke kampung halamannya. Kini ia pulang dengan tujuan bulat. Membeli mimpi. Di kampung halamannya ada seorang yang dikenal bisa membuat mimpi. Ia dapat menciptakan mimpi. Apapun bisa ia ciptakan, mulai dari mimpi jadi presiden sampai bersetubuh dengan pasangan yang diinginkan. Ia bisa menciptakan mimpi, tapi tak bisa mewujudkan mimpi itu jadi kenyataan.
“Kau mengagetkan aku setiap kali kau terbangun malam hari karena mimpi itu,” protes suaminya hampir setiap hari. Ia tahu suaminya marah bukan karena terbangun, ia tahu suaminya marah karena ada laki-laki lain di mimpinya. “Kau mimpi laki-laki pengucap ‘Sadranan’ itu lagi bukan?” hardik suaminya saat mereka terbangun pagi ini. Ia hanya diam tanpa menjawab. Sebab ia tak pernah memiliki mimpi lain selain laki-laki pengucap Sadranan. “Kau bahkan tak pernah memimpikan suamimu sendiri bukan?” Ia tak menjawab mendengar itu. “Mimpi itu obsesi, memimpikan orang lain berarti kau terobsesi dengan dirinya, kau terobsesi dengan laki-laki Sadrananmu itu!” Kali ini suaminya langsung pergi keluar kamar.
Ia tak mau suaminya terus-terusan menghardiknya. Yang ia mau ia bisa berganti mimpi. Mimpi seperti  yang dilakoni orang biasa sehari-hari. Bukan mimpi yang selalu sama setiap hari. Bukan mimpi tentang lelaki Sadranan dan seorang perempuan kecil dengan urat biru terlihat di telapak kaki.
Setelah berpikir panjang ia kemudian memutuskan untuk pergi ke kampung halamannya. Menemui orang yang bisa membuat mimpi. Ia mau mengganti si lelaki Sadranan dengan suaminya. Pun si perempuan kecil mau ia ganti dengan Nadira, anak perempuan yang ia lahirkan dari rahimnya enam tahun lalu.
Kereta kini berhenti di stasiun kecil dekat masjid besar di  kotanya. Satu stasiun lagi ia akan sampai di kota kelahirannya untuk membeli mimpi. Untuk menghapus laki-laki Sadranan dengan suaminya. Untuk mengganti perempuan kecil dengan Nadira. Suaminya tak tahu kalau ia pulang ke kampung halaman hanya untuk membeli mimpi. Yang ia tahu ia pergi untuk menemui orangtuanya. “Kangen,” alasannya singkat saat ditanya sang suami kenapa tiba-tiba memutuskan pergi ke kampung halamannya.
Suaminya takkan setuju kalau ia bilang akan membeli mimpi di kampung halaman. “Orang kampung hanya tau soal sawah dan makan, mereka mana tahu soal mimpi,” sergah sang suami ketika pertama kali ia mengemukakan akan membeli mimpi di kampung halamannya. Ia kemudian mencoba meminta izin suaminya lagi untuk membeli mimpi dan semuanya berujung pada penolakan. “Laki-laki memang selalu begitu, selalu protes tanpa memberi solusi,” ujar teman kantornya saat ia menceritakan penolakan sang suami saat ia hendak membeli mimpi.
Bunyi peluit panjang menandakan ini stasiun terakhir kereta. Stasiun tujuannya. Ia membereskan barang, menata kembali rambutnya yang kusut karena tertidur di bangku kereta. Ia mau hari  ini juga mimpinya bisa diganti. Ia bosan dengan laki-laki pengucap Sadranan.
Kereta lambat-lamat bergerak dan akhirnya berhenti di stasiun di kota tempat kelahirannya. Aromanya masih sama seperti yang terekam dalam ingatanya. Hiruk pikuk stasiun di pagi hari, segerombolan penumpang yang akan berangkat, wajah-wajah sibuk petugas stasiun mengatur apapun yang dapat diatur. Di sudut stasiun ada ibu berwajah letih menjajakan aneka macam gorengan dalam bakulnya. Ia ingat untuk selalu mampir setiap pulang. Sekedar membeli combro (camilan khas Jawa Barat) atau buras (sejenis arem-arem) untuk mengisi perut.
“Mulih neng? Tos lami teu mulih nya? (Pulang neng? Sudah lama tidak pulang ya?)” sapa Ibu itu ramah ketika aku mampir untuk membeli 2 biji buras. “Muhun Bu, tos sono ka Abah sareng Emak. Ieu artosna Bu. Nuhunnya, mangga (Iya Bu, sudah rindu sama Abah dan Emak. Ini uangnya Bu. Terimakasih, mari). “Sawangsulna (sama-sama). Ati-ati di jalan Neng (hati-hati di jalan Neng)”
Dan ini dia, kembali ke kampung halamannya, suatu kota di Jawa Barat yang masih sunyi. Dikelilingi pegunungan dan hamparan sawah khas daerah Priangan. Pagi itu jalanan masih sepi. Cahaya matahari kemerahan yang baru saja muncul dengan malu-malu membentuk kilasan sinar hangat. Jalanan diapit pohon-pohon besar yang rindang dan kuat. Dahan-dahan diatasnya melengkung saling memeluk. Bagaikan gerbang alam yang hijau, gerbang yang ia tempuh menuju masa lalunya kembali.
Sepanjang jalan, di becak yang ia pilih untuk perjalanan ke rumah, matanya terpagut pada pemandangan di kanan-kiri jalan. Mengenang setiap sudutnya. Di atas jembatan itulah ia biasa beristirahat, makan es lilin seusai bersepeda bersama teman-temannya. Di bawah pohon di tepi selokan besar itulah ia membaca buku Pramoedya Ananta Toer pertamanya, sembari terkantuk-kantuk dibelai angin.
Akan tetapi, perjalanan pulangnya kali ini bukan hanya sekedar pulang. Pulang kembali ke asalnya, ke tempat dimana semuanya berawal dan berasal. Ia tidak lupa akan tujuannya menemui Pak Sardi. Laki-laki tua si pencipta mimpi. Yang dengan diam-diam ia ketahui dari pamannya yang gemar mistis dan segala hal yang orang-orang rasional menyebutnya mustahil, musyrik dan lain sebagainya. Pak Sardi adalah lelaki tua bijak yang pasti mengerti akan masalahnya itu.
Ohh.. lelaki Sadranan, betapa ia telah mengusik alam sadarnya. Betapa ia telah menghantui setiap waktu dalam sadarnya. Dikantor, di dapur, di jalan. Bahkan, yang paling membuat ia merasa bersalah adalah kemunculannya dalam benak ketika ia bersenggama dengan suaminya tercinta.
Akhirnya ia tiba di rumah. Rumah panggung itu besar, menampung Abah, Emak serta beberapa saudara yang sejak ia kecil ikut bersama orang tuanya. Dua hari ia habiskan di rumah, untuk melepas lelah dan tentu saja melepas rindu.
Ada saat-saat dimana Emak menatapnya lama, terlihat mengkhawatirkan sesuatu dan akhirnya suatu sore di bale-bale, ditemani sepoci teh dan singkong goreng, emak bertanya “Kunaon neng? Asa aya pikiran (kenapa neng, rasanya ada yang dipikirkan ya?). Suami sehat? Nadira bagaimana sekolahnya lancar?”
Emak. Dia sosok ibu yang mendekati sempurna, setidaknya baginya. Ketidaksempurnannya hanyalah sosoknya yang tidak begitu dekat dengan anak-anaknya. Pekerjaan dan pertengkarannya dengan Abah terlalu banyak menyita waktunya. Ia heran, mengapa Emak yang tidak begitu dekat dengannya bisa merasakan kegelisahannya.
Sembari tersenyum menenangkan, ia menjawab, “Ahh henteu Mak, capek we panginten (ahh nggak Mak, capek aja mungkin). Alhamdulillah suami dan Nadira sehat. Bulan depan ia terima rapor, Mak. Doakan hasilnya bagus-bagus ya.”
Malam kedua ia tidur di kamar yang ketika gadis ia miliki, ia memimpikan lagi laki-laki Sadranan itu. Ya, sosok yang telah ia kenal sejak lama. Bersama si gadis cilik, keduanya berjalan, masih tetap berlarian di tepi pantai. Lelaki Sadranan berucap, “Kita semakin dekat Sayang, hatimu akan membawamu.”
Malam itu ia terbangun. Merintih dan kesepian. Entah apa sebabnya.
Hari ketiga berada di kampung halamannya, ia memutuskan untuk segera menemui Pak Sardi. Rumah Pak Sardi hanya berjarak 100 meter dari rumahnya. Dengan berjalan kaki, 15 menit saja ia sudah berada di rumah Pak Sardi yang menyambutnya hangat.
“Eh, si Neng. Damang Neng? (Sehat neng?). Sudah lama tidak kelihatan. Sudah berapa lama disini, Neng?”
“Pangestu Pak (baik-baik saja Pak). Bapak sehat?” ujarnya menjawab keramahan Pak Sardi. “Alhamdulillah atuh, Neng. Jadi ada apa pagi-pagi sudah kemari? Pasti ada sesuatu yang penting ya?”
Sebaris pertanyaan yang yang dikemukakan oleh Pak Sardi itu dijawab dengan luapan gelombang cerita yang seakan tiada habisnya. Bagaikan luapan air bah, cerita tentang lelaki pengucap kata Sadranan, gadis kecil yang berlarian, pantai dan laut terus mengalir. Tak luput cerita tentang bagaimana mimpi yang sudah menahun ia alami tersebut mengusiknya dan bahkan sempat menimbulkan percikan-percikan kecil diantara ia dan suaminya.
Pak Sardi dengan sabar mendengarkan sampai ia berhenti bercerita yang diselingi sedikit isak tangis. “Jadi aku ingin Bapak menciptakan mimpi baru buat saya pak. Tolong, lelaki itu Bapak ganti dengan suami saya dan anak itu diganti Nadira anak saya” pintanya.
“Aihh Neng, tidak akan semudah itu. Sepertinya mimpimu berhubungan dengan masa lalu. Ingatlah Neng, mimpi itu menyimpan berjuta misteri. Neng juga harus berusaha ya” tukas Pak Sardi.
Kata-kata tersebut adalah kata-kata terakhir yang ia dengar dari mulut Pak Sardi. Sekarang ia berada di sana, di Pantai Sadranan. Tempat dulu ia pernah berkunjung. Di masa ketika ia kuliah di Yogyakarta. Sambil berusaha mencubit lengannya ia keheranan dan berusaha memikirkan kenapa ia bisa berada tepat di pantai ini. Awalnya semua terasa nyata, tapi lambat laun ia sadar, ini adalah tempat di mana mimpi yang selama bertahun-tahun mengusiknya berlangsung. Bagaikan mendapat lucid dream ia sadar ia berada di mimpinya sendiri.
Untuk beberapa saat tidak ada yang terjadi. Ia hanya duduk termenung di tepi pantai itu. Memandang lepas ke arah laut, menikmati deburan ombak yang berusaha keras memeluk pantainya. Ia tiba-tiba teringat 4 tahun yang ia habiskan di kota Yogyakarta. Masa-masa kuliah yang tak hanya menyimpan suka, tapi menyimpan pula duka yang mendalam.
“Akhirnya kita bertemu, disini kita bisa berbicara lagi” sesosok pria yang ia kenal begitu lama menyapanya haru. “A*u..” setengah mengumpat ia kaget. Bulu kuduknya meremang kala tiba-tiba lelaki itu bernyanyi, nembang dalam bahasa Jawa yang fasih. Dengan merdu ia mengakhiri nyanyiannya. Dan berucap.. “Sadranan…”
“Kamu kemana saja selama ini” tanya lelaki itu tanpa ragu.
Sinting. Aku saja tak kenal dia. Kok bisa-bisanya bertanya seperti itu. Rutuknya dalam hati. Ia diam tak menjawab.
“Kok diam. Tak inginkah kamu bertemu Rahmi? Anak kita satu-satunya? Ia merindukanmu. Sungguh merindumu” ujar lelaki itu dengan suara kerinduan yang mendalam, sedalam rindu pungguk terhadap bulannya.
Lelaki ini makin sinting. Siapa pula itu Rahmi. Rutuknya kembali
Tiba-tiba gadis kecil yang telah ia kenal sebelumnya lari kearahnya entah dari mana. Ia memeluknya dengan gembira. Dekapannya terasa hangat. Bagaikan luapan rindu yang telah menemukan wadahnya.
“Bu e.. kemana saja? Rahmi kangen,” rajuknya manja.
Mau tak mau ia memeluk gadis kecil bernama Rahmi ini. Tiba-tiba air matanya mengalir, wajahnya panas memerah dipenuhi tangisan. Entah haru, sedih atau bahkan marah. Ia hanya merasa bingung.
“Bahagiakah kamu dengan laki-laki itu. Kamu seharusnya tinggal disini saja, bersama aku dan Rahmi,” kata lelaki Sadranan itu. “Siapa kamu sebenarnya? Kenapa dari tadi kamu mengatakan kata-kata yang tidak aku mengerti?” kata-kata tersebut akhirnya keluar dari mulutnya.
“Ahh ya aku mengerti. Kamu pasti terlalu lelah untuk mengingat semuanya. Mimpi itu ajaib. Kita bertemu sebelum kita benar-benar bertemu. Kita bertemu di sini, di Sadranan. Tetapi kamu sudah memimpikanku jauh sebelumnya. Jauh sebelum kamu ke sini, ke Yogyakarta. Persenggamaan kita pun terjadi di mimpi, di dunia sana. Tempat kita bebas bercinta. Kamu tidak mencintai suamimu yang kasar kan?”
Pak Sardi sialan, rutuknya dalam hati. Bukannya membuat mimpi baru untukku. Ini malah semakin rumit saja. Lelaki ini, duhh sok tahu sekali.
“Ayolah, kamu harus mengingatnya. Akan mudah bagimu mengerti semua ini. Mengerti cinta kita yang tidak pernah terselesaikan dan kamu selesaikan disini. Ingatkah kamu pada laki-laki berambut gondrong, kurus dan dulu tidak terawat ini?”
Sekonyong-konyong ia berteriak sekuat tenaga. Berteriak seakan langit akan runtuh. Teriakannya memekakan telinga. Tiba-tiba ia teringat kekasihnya. Tanpa henti ia berteriak. Sekelebat bayangan tentang pria berambut gondrong memeluk dirinya berjalan-jalan di pantai itu. Lelaki itu hilang secara misterius. Sekuat tenaga ia berusaha melupakannya dan kejadian misterius itu. Ia kembali menangis dan berteriak-teriak, sadranan.. sadranan. Teriakannya mengalahkan suara guntur paling keras yang pernah ada.
Waktu berjalan, tanpa ia tahu kemana arahnya. Ia seakan menjelajahi waktu tanpa tahu ia berada di mana. Yang pasti ketika membuka mata ia telah berada di ruangan putih. Tali dan jaket pengekang menempel erat di badannya. Ia tersadar ia di rumah sakit jiwa. Ia tahu, pikiran waktu dan tekanan di masa lalunya terkadang membawanya ke rimba-rimba pikiran tak berujung yang membuatnya tak waras. Akan tetapi ia sedang waras ia tahu ia harus berbicara kepada suaminya.
***
Pintu ruangan kebetulan terbuka. Dan siapa dia? Lelaki sadranan? Ahh kenapa dia ada lagi? Padahal dia sedang waras. Kenapa dia menghantui lagi.
“Hai Sayang. Sudah bangun? Aku dan Rahmi cemas menungguimu. Untungnya kamu sudah sadar. Sudah minum obatkah Sayang?
Aihh lelaki itu berbicara seakan ia mengenalnya lama. Akhirnya ia hanya menangis lagi dan berkata dalam hati “Tuhan, kehidupan apa yang sedang saya jalani ini”
Pembuka oleh Ardi  Wilda
16 Juni 2011 13:16
Taksaka Pagi menuju Yogyakarta diiringi lagu “A Love Beach, Sadranan (Answer Sheet)”
Penutup oleh Intan Reza
Ditulis ketika saya mau pulang kampung buat pamit KKN ke orangtua.
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: