Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Dua hari lalu saya membuat cerpen bersama seorang teman. Sekitar pukul sebelas malam kami mentok dan tak bisa menyelesaikan cerpen tersebut. Kami sudah mencoba memesan makanan untuk mengisi perut dan berharap otak terisi namun nyatanya cerpen tak kunjung selesai. Akhirnya kami sadar kalau sudah saatnya menghentikan proses penulisan ini dan melanjutkannya di waktu lain.
Setelah menyadari itu kami berbincang ngalor ngidul tentang hal remeh temeh. Kebetulan saat itu playlist laptop teman saya memutar soundtrack Hari Untuk Amanda dari Music For Sale. Kami pun kemudian membahas film tersebut dalam taraf konyol. “Kalau aku jadi Amanda aku bakal milih Tukang Stiker yang benerin undangan nikahnya buat tak kawinin,” kata saya asal ucap. Alasan saya saat itu karena tukang stiker itulah pahlawan dari masalah Amanda di hari itu. Dia yang membetulkan salah tanggal/hari (saya sedikit lupa) di undangan pernikahannya. Dan efeknya, itu yang membuat si Amanda kembali menaruh simpati pada mantan pacarnya. Tapi pahlawan sebenarnya tetaplah si tukang stiker bagi saya. Bukan Hari apalagi si calon suami Amanda.
Sehari kemudian saya memikirkan ucapan ngasal saya. Omongan saya memang sering random tapi saya percaya apa yang terucap dari mulut saya pasti punya alasan hingga bisa keluar dari mulut. Entah kenapa saya menganggap tukang stiker adalah tokoh yang penting, bukan dalam tarafnya sebagai lakon dalam film. Tapi lebih pada kenyataan bahwa kita pasti memiliki ribuan “tukang stiker” dalam hidup kita. Orang yang hadir tanpa diundang tapi bisa merubah garis hidup kita.
Tukang stiker ini mengingatkan saya pada novel Five People You Meet in Heavennya Mitch Albom. Di situ diceritakan seorang penjaga taman bermain bernama Eddie meninggal dan menemui lima orang terpenting dalam hidupnya. Eddie memang menemui istrinya yang lebih dulu meninggal dan orang terdekatnya, tapi ia juga menemui “tukang stiker” dalam hidupnya. Ia menemui orang yang bahkan tak pernah ia temui tapi ternyata merubah jalan hidupnya. Orang terakhir yang ia temui dalam perjalanannya ke surga bahkan seorang anak kecil yang tanpa sadar ia bunuh dalam peperangan. Anak kecil itu sama sekali tak ia ketahui dan tak ia kenal. Orang terakhir itu yang ia temui di perjalanan ke surga bukan istrinya atau orang terdekat, melainkan seorang “tukang stiker” berwujud anak kecil. Dan dari orang-orang tak dikenal itulah kehidupan Eddie ternyata berubah.
Saya percaya jika surga akan menemukan kita dengan lima orang terpenting seperti cerita si Albom boleh jadi setiap orang akan memiliki “tukang stiker”nya masing-masing. Sebab hidup kita tak hanya dikelilingi oleh orang-orang terdekat saja, hidup tak melulu soal orang tua, istri, anak, saudara atau teman. Di hidup kita juga menemui tukang parkir, penjaja koran, penjaga kebun saat SD dulu atau mekanik motor yang kita jumpai saat motor sedang rusak. Mereka boleh jadi “tukang stiker” di hidup kita, siapa yang tahu?
Lantas malam ini saya kembali bertanya-tanya kenapa “tukang stiker” menjadi begitu penting. Dan saya mulai sedikit tahu jawabnya. Sederhana sebenarnya, saya jenuh dengan hal-hal besar. Saya rasa kita sudah mulai melupakan hal-hal kecil di lingkungan kita. Dunia tak melulu berisi hal-hal besar, kita sering melupakan “tukang stiker”.
Televisi bicara soal politik yang isinya soal korupsi. Acara anak muda isinya sok-sok soal pendidikan politik, kritik sana kritik sini biar dibilang kritis dan peduli bangsa sendiri. Motivator merajalela bicara soal sikap super yang bisa membantu hidup. Buku-buku motivasi diri laris bak kacang goreng, semua orang ribut soal hal-hal besar. Maaf saya sama sekali tak menemukan ada secuil “tukang stiker” disana, saya rindu bahasan remeh temeh yang membuat kita menganggap hidup itu sederhana. 
Saya percaya seseorang dibentuk oleh hal-hal kecil. Ambil contoh Soekarno misalnya. Ia punya sikap seperti itu karena hal yang sangat kecil dan remeh temeh buat saya. Ketika kecil ia diasuh oleh seorang pengasuh bernama Sarinah. Ucapan Sarinah yang terkenal pada Bung Karno kecil adalah, “Karno, pertama-tama sayangilah ibumu, untuk kemudian sayangilah rakyat jelata.” Dan itu menjadi begitu penting karena Sarinah adalah seorang rakyat biasa. Sarinah adalah “tukang stiker” di kehidupan Bung Karno.
Layaknya Bung Karno atau Amanda, tiap orang pasti memiliki “tukang stiker”nya masing-masing. Sayangnya tak akan ada yang pernah tahu siapa dan apa peran sang “tukang stiker” sampai tiba waktunya. Kini saya berpikir jangan-jangan semua orang adalah “tukang stiker” di hidup kita, hanya porsi dan peranannya yang berbeda. Kalau begitu caranya tidak ada alasan untuk tak tersenyum ramah pada semua orang, siapa tahu dia “tukang stiker” dengan peranan paling besar dalam hidup kita kelak.

*tulisan sedikit random menjelang tidur ditemani track-track terakhir dari album Music For Sale ( yang sebenarnya saya tak terlalu suka sama lagunya). 

Advertisements

3 thoughts on “Tukang Stiker dan Hal Kecil di Sekitar Kita

  1. rocky says:

    koe koq seneng hal2 kecil opo anu mu ki kecil y we? hahahaha :p

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    uafuuu komenmu penting tenan, haha ndue ku gedi mas bro ;P

    Like

  3. CPchyper says:

    ah penjabaranmu ki aku sukaaaaa x)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: