Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Ada satu hal menarik yang selalu diajarkan Ibu saya. Karena lahir dari rahimnya maka ia selalu tahu kapan saya punya masalah meskipun saya tak pernah menceritakannya. Lucunya ia tak pernah sekalipun berusaha membicarakan masalah itu, yang ia lakukan adalah menghibur saya atau mengajak saya tertawa. Menurutnya orang yang paling ikhlas adalah mereka yang bisa menertawakan diri mereka sendiri dengan segala masalahnya. Jadi tertawalah dan tak perlu membuat pusing sebuah masalah, toh kita akan menertawakannya di kemudian hari menurutnya. 
Teman saya juga punya sikap yang hampir serupa. Dina alias Camen begitu ia biasa disapa dalam sebuah sesi diskusi film pernah bercerita bagaimana dia menyelesaikan masalah. Menurut dia orang yang bicaranya berat-berat sebenarnya belum mengalami masalah hidup yang berat. Sebaliknya orang yang senang membahas masalah-masalah kecil yang terkesan tak penting adalah mereka yang sudah melewati masa ujian hidup yang berat. “Masa kecil gw susah, berat masa kecil gw, makanya sekarang gw ketawa aja kalau orang pada ribet-ribet bahas yang berat-berat,” kira-kira begitu pernyataan dia ketika itu, saya tak terlalu ingat tepatnya. Ibu saya dan Dina (selain mirip rambutnya) ternyata juga sedikit punya pandangan yang sama dalam menyikapi masalah. 
Sekitar dua minggu lalu saya menemui cara pandang serupa melalui Wimar Witoelar. Tentu saja saya tidak mengenal mantan jubir presiden Gusdur ini secara personal, melainkan lewat buku barunya yang berjudul Still More About Nothing. Ini merupakan seri ketiga bukunya setelah A Book About Nothing dan More About Nothing. Dan kebetulan atau tidak pemilik rambut keriting seperti ibu dan rekan saya si Dina ini punya cara pandang yang hampir sama dan menarik dalam memandang beragam masalah di sekitarnya. 
Jika anda mengharapkan buku ini akan bercerita banyak hal mengenai sesuatu yang besar maka anda salah besar. Buku ini memang membahas Brand, Konflik Negeri ini atau bahkan masalah seni namun dalam perspektif yang begitu ringan atau meminjam istilah Wimar dalam perspektif Nothing. Ya Nothing menjadi sebuah kata yang begitu mencuat di buku ini sampai saya baru menyadari makna Nothing ketika selesai membaca 37 artikel yang terangkum dalam 180 halaman di buku ini.
Dalam pengantarnya ada sebuah ucapan Wimar yang menarik. “Setelah perjalanan panjang mengerjakan banyak hal, ternyata yang paling penting dan mendasar adalah bagaimana kita sanggup mengambil pesan-pesan dari hal-hal yang paling sehari-hari”. Tentu ini menarik, Wimar punya pengalaman segudang sebagai anak diplomat yang pernah tinggal di pojok-pojok Eropa, juga pengalamannya menjadi seorang jubir presiden, seorang penggemar Arsenal, dan juga seorang tokoh di balik kesuksesan Yayuk Basuki, namun ia memilih untuk mengambil cerita sehari-hari yang dekat dengan keseharian. Ia memilih menjadi Nothing padahal ia sama sekali bukan seorang Hollywood Nobody, ia tokoh yang punya pengalaman segudang.
Membaca satu per satu artikel di buku ini maka akan terlihat bahwa meski hal-hal yang diangkat terkesan Nothing namun ia sebenarnya menawarkan cara pandang lain mengenai masalah tersebut. Artikel pembuka berjudul “Arman dan Ken Arok” (hal 3) bercerita tentang seorang anak yang tak suka pelajaran sejarah tiba-tiba jatuh hati pada pelajaran itu hanya karena sang guru pintar mendongeng. Wimar mengatakan bahwa “A Great story is true. Kuat kalau konsisten dan otentik”. Wimar seperti sang guru sejarah tersebut bagi saya. Beragam Nothing di buku ini menjadi great story agaknya karena ia true, ia nyata dan benar adanya sehingga meski remeh namun tetap penting dan menjadi sebuah cerita yang memikat. 
Cara pandang Wimar dalam memandang sebuah permasalahan juga terlihat dalam artikelnya yang berjudul, “I am clearly not in the message business” (hal 26). Judul itu ia kutip dari ucapan Kevin Costner ketika diwawancarai seorang jurnalis CNN mengenai filmnya yang berjudul Swing Vote. Jurnalis itu bertanya, “Apakah anda menyampaikan suatu pesan melalui film ini?” Dan jawaban Kevin Costner sama dengan judul artikel ini. 
Sejatinya Wimar juga melakukan hal tersebut. Ia bercerita mengenai banyak hal, cerita soal keseharian di sekitarnya kepada publik. Ia kemudian menempatkan cerita-cerita ringan tersebut sebagai sebuah bahan diskusi bersama, bukan layaknya sebuah esai yang kaku dan tak dapat diganggu gugat. Ia tak menggurui dan sama sekali tak memikirkan apakah artikelnya punya pesan moral atau tidak. Soal apa dan bagaimana pesan dalam artikelnya adalah urusan internal pembacanya. Ia hanya menawarkan sebuah cara pandang dari perspektif dirinya. 
Perspektif bisa jadi adalah kata kunci penting dalam pemikiran Wimar di buku ini. Seperti semboyannya di dunia kicau mengicau twitter, “Saya tidak mau mengubah pendapat orang yang sudah punya pendirian, tapi mau berbagi perpektif pada siapa saja, dalam suasana sejuk”. Hal ini pula yang membuat pemikiran Wimar sama sekali tak Nothing seperti judul bukunya. Justru dalam tataran itu Wimar bersikap dewasa dan mengajari (ah om W pasti tak suka istilah mengajari) masyarakat tentang bagaimana bertukar pikiran. 
Cara pandang Wimar itu mengingatkan saya pada apa yang ditulis oleh Malcolm Gladwell dalam pembuka What The Dog Saw. Dalam buku itu Gladwell menjelaskan sebuah konsep bernama akal budi lain (Other Minds). Konsep itu pada intinya diambil dari keterbukaan atas sebuah perbedaan. Ketika anak kecil menyukai sebuah biskuit coklat misalnya, maka ia akan menganggap bahwa orang tuanya, kakaknya, dan semua orang juga menyukai biskuit itu. sampai pada tahap dewasa ia akan menyadari kalau seleranya tak selamanya sama dengan orang lain. Karena sifat keterbukaan dan menerima pendapat lain itu maka other minds ini adalah tahap penting dalam sebuah kedewasaan. Tentu saja pemikiran Wimar yang ia tuangkan dalam buku ini berupaya menyediakan ruang itu bagi banyak orang. 
Pertanyaannya kemudian adalah mengapa Wimar memiliki kemampuan untuk menceritakan sesuatu yang esensial dalam tataran yang ia namakan Nothing. Jawabnya bisa kita cuplik dari artikelnya berjudul “Si Penjelajah dan Si Pendongeng” (hal 160). Di situ ia bercerita bahwa setiap penjelajah (explorer) seperti Marco Polo, Vasco Da Gama atau bahkan si penakluk Everest, Sir Edmund Percival Hillary adalah orang-orang yang dikelilingi oleh para pencerita yang handal (storyteller). Ia menuliskan “Bahwa setiap explorer dikelilingi oleh Storyteller”. Bagi saya Wimar adalah seorang explorer sekaligus storyteller yang handal. 
Wimar adalah explorer kehidupan dengan bentangan pengalamannya yang luas. Ia juga seorang storyteller dengan gaya cerita yang renyah dan “Nothing”-nya. Dari situ jadi jelas bahwa Still More About Nothing garapan Wimar bukanlah buku Nothing yang kering. Justru Wimar menghadirkan Nothing yang berbeda, esensial tapi ringan. Dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman tentunya. Mungkin kalau ibu saya bertemu Wimar ia akan bingung karena merasa Wimar telah berhasil melalui semua masalah. Ia berhasil menertawai kehidupan keseharian dalam cara yang begitu sederhana nan memikat. 
Advertisements

One thought on “Tak Sekedar Nothing

  1. hhhaaa.. saya belum baca yang ini, tapi saya pegang yang more about nothing… dan, ehm, dikasih langsung beliau looh.. (nggak modal bgt yah…:p)

    dan, jika bertemu sama beliau, uhmmmm… kita bakal bilang, bahwa, kalo ada istilah padi berisi semakin merunduk, ya beliau ini. walaupun kumpul bareng mahasiswa norak-norak, dan saat itu masih di kursi roda, dia tetep banyak ngobrol dan banyak ketawa. dan, yah, bener, dia ngetawain masalah dan memberikan tanggapan simple. beda kayak kita yang kebanyakan nanggepin masalah dg ribet.

    mari menertawakan hidup.. cheers! :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: