Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saya pernah terlibat obrolan hangat dengan seorang teman akrab saya, Saila, mengenai rencana masa depan. Dia membuka obrolan dengan beratanya apa yang akan saya lakukan setelah lulus. “Jujur aku enggak tahu Sail, aku mungkin bakal berubah, aku sekarang mungkin orientasinya lebih ke uang, aku mau kerja enggak terlalu sesuai dengan yang kusenangin enggak masalah asal secara material lebih mapan”. Kami lantas tertawa dengan jawaban itu, jawaban yang sangat tipikal khas postgrad. Merespon itu Saila secara tiba-tiba mengeluarkan sebuah komentar mematikan dalam tawa kami.

 

“Aku bingung We, kenapa banyak mahasiswa rantau mikir kaya kamu, inget We kamu di Jogja itu udah bisa nulis, kamu bikin dokumenter segala, tapi sekarang kamu mau ngelupain itu semua, terus kerja kantoran? Aku sering ngibaratin orang-orang kaya kamu dengan mahasiswa yang nganggep hidup di Jogja sebagai liburan panjang. Kamu disini bebas ngapain aja, mau ngapain aja bebas, terus pas lulus, kamu nyetop itu semua. Liburan panjangmu udah habis gitu ya? Terus harus masuk sekolah lagi? Harus tertib lagi.”

 

Komentar Saila kemudian kami tanggapi dengan kembali tertawa bersama. Istilah Saila menarik, “Liburan Panjang”. Istilah yang membuat kami tertawa tapi juga membuat saya berpikir dalam-dalam. Benarkah saya menganggap Jogja hanya sebagai liburan panjang? Terlalu panjang bahkan.

 

Saila kemudian melanjutkan komentarnya dengan, “We, orang itu bisa liburan panjang seumur hidup, enggak usah takut kamu enggak bisa hidup karena melakukan kegiatan yang kamu anggep liburan itu, banyak contohnya We (ia menyebutkan beberapa orang), jadi ngapain kamu menyetop liburanmu sendiri? Lakuin apa yang kamu seneng lah, jangan takut,” tuturnya membobardir saya.

 

Maaf Sail tapi saya takut melanjutkan liburan panjang itu. Bagi mahasiswa rantau seperti saya, itu seperti takdir yang tak bisa dilawan. Lulus adalah lonceng masuk ke kehidupan, menghentikan liburan panjang ini. Semua mahasiswa rantau saya yakin mengalaminya. Saya menundanya sampai malam ini. Malam dimana saya menulis ini di kereta yang membawa saya ke kota Jakarta, membawa saya meninggalkan kota Jogja.

 

Saat menemani teman saya Jaki mewawancarai Acum Bangkutaman, banyak komentar Acum yang membuat saya banyak berpikir. Ia juga mahasiswa rantau dari Jakarta ke Jogja. Yang paling nampol saat ia berucap, “Balik ke Jakarta kaya kalah perang!”. Acum benar, saat saya menjejakkan kaki pertama kali di Jakarta saya akui saya kalah perang, saya bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Ini kota saya tapi saya kehilangan arah.

 

Akhirnya saya menyerah, saya memilih tinggal di Jogja sambil menunggu sebuah pekerjaan yang sekarang sudah saya dapat. Kota ini nyaman, sangat nyaman, liburan panjang saya diperpanjang sekitar dua bulan. Banyak orang bertanya kenapa masih di Jogja, selain jawaban rasional karena saya baru akan aktif mengikuti pelatihan untuk sebuah pekerjaan terhitung tanggal 12 September maka jawaban berikutnya karena saya tak tahu harus melakukan apa di Jakarta. Jogja terasa lebih, bahkan sangat nyaman bagi saya. Saya akui saya takut kalah perang.

 

Bagi kami mahasiswa rantau. Momen bertahun-tahun di Jogja adalah sesuatu yang sangat penting. Kami seperti burung yang dipersilakan bebas dari kandang selama lima tahun. Kami akan bertemu burung dari negeri seberang, berteman dengan mereka dan beradaptasi dengan habitat yang menyenangkan. Tapi kemudian setelah lima tahun kami harus pulang ke kandang, meninggalkan habitat terbaik kami. Kembali pada pelukan kandang. Kami bukan lagi burung yang bebas, dan tak berani membebaskan diri. Mungkin karena itu pula Saila menganggap saya hanya menjadikan Jogja sebagai liburan panjang.

 

Saya berusaha sekuat tenaga menolak anggapan Saila, namun akhirnya saya gagal. Jogja memang sebuah liburan panjang bagi saya. Setelah ini saya harus masuk “sekolah” kehidupan. Namun kamu lupa satu hal Sail.

 

Liburan adalah sebuah istilah yang sangat ambigu. Di satu sisi ia melepaskan diri dari tanggung jawab rutinitas tapi di satu sisi ia dilakukan untuk memperbaiki kualitas diri ketika memulai kembali rutinitas. Mungkin itu kenapa liburan penting. Dan liburan selalu akan dikenang.

 

Jogja adalah sebuah liburan buat saya Sail. Di kota ini saya berlibur sambil belajar beragam hal. Kota ini adalah kota baru buat saya, 17 tahun saya di Jakarta dan menutup mata tentang banyak hal. Jogja membantu saya membuka mata. Saya tinggal di Jogja saat berusia 18-23 tahun. Sebuah usia yang akan membentuk banyak kepribadian kelak, sebuah usia dimana kita dihadapkan pada banyak pilihan, banyak sekali pilihan. Dan pilihan yang tak bisa dihindari adalah menjadi tua (bukan dewasa). Kota ini menemani saya dalam proses, proses yang sulit dilupakan sampai bertahun-tahun.

 

Coba ingat kembali ketika kita SD. Sehabis liburan kita akan disuruh mengarang cerita liburan. Mengapa cerita tentang liburan, mengapa bukan cerita tentang belajar di kelas, atau cerita saat mengikuti upacara bendera. Itu karena hanya pada saat liburan kita melihat banyak hal baru. Bagi saya manusia cenderung ingin mencari apa yang tidak ia temui di keseharian. Liburan jelas berbeda dengan keseharian ia begitu spesial dan membuat orang yang melakukannya akan terus mengenangnya. Pun begitu dengan Jogja.

 

Dalam epos “Little Prince” sang tokoh utama si anak kecil pernah mengatakan, “Jika setiap hari adalah hari libur bisa jadi kita tak akan pernah menghargai dan menanti Hari Minggu”. Jogja menjadi berarti karena ia seperti sebuah tahapan hidup buat saya, tahapan liburan mungkin istilahmu Sail.

 

Malam ini saya resmi hijrah dari Jogja. Mengamini apa kata “Little Prince” saya akan berusaha menghargai liburan bukan menciptakan setiap hari menjadi Hari Minggu. Jika saya terus di sini bisa jadi Jogja hanya akan menjadi sebuah keseharian yang membosankan, saatnya berlibur ke tempat lain. Ah mengapa saya jadi mau menjadikan setiap tempat yang saya kunjungi sebagai tempat liburan, bukankah itu yang kamu bilang mengasyikkan Sail?

 

 *tulisan ini didedikasikan untuk Saila, salah satu teman terbaik yang saya temui di Jogja. Dibuat dalam perjalanan Jogja-Jakarta dengan kereta Argo Dwipangga.

 

Advertisements

One thought on “Liburan Panjang Bernama Jogja?

  1. Tulisan ini angker banget buat mahasiswa yang pernah berkuliah di jogja. *muter lagu kla project*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: