Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Seorang teman akrab saya, Jaki, pernah mengatakan kalau yang membuat orang senang dan selalu diingat itu bukan hal besar. Tak perlu membelikan seseorang mobil atau rumah mewah, cukup ingat momen kecil atau sederhana dengan orang tersebut. Jaki misalnya ingat judul liputan yang pertama kali saya buat untuk pers mahasiswa di kampus saya. Padahal artikel itu ada beberapa tahun silam, hal kecil namun membuat saya terharu.

Belum lama ini saya terkejut mendapat sebuah mention dari teman lama saya di twitter. Yesi Luisa namanya atau lebih kerap disapa Yece. Dalam mentionnya di dunia kicau mengicau dia dengan bercanda mengatakan saya sombong. Ya mungkin karena kami memang sudah lama sekali tak berkomunikasi. Alhasil saya berjanji untuk mengadakan komunikasi dengan Yece kembali, tapi saya tak tahu harus menggunakan media apa. Kalau hanya berbalas mention kurang ada perjuangannya bagi saya. Padahal jasa Yece lumayan banyak saat saya SMA dulu.

Sedikit kilas balik, saat SMA dulu Yece adalah orang yang keren bagi saya. Selain memiliki teman yang banyak dan pergaulan luas ia juga pintar. Bagi kebanyakan orang mungkin dia tak pintar, tapi saya tahu bahwa ia sebenarnya orang yang sangat pintar. Walau dia sering membully saya (kayanya semua juga ngebully gw ya ce?) Yece tetap menyenangkan sebagai teman. Setelah tahu ia lulus di Fakultas Hukum UI saya sama sekali tak pernah mendengar lagi kabar dirinya.

Sekitar lima tahun setelah tak ada komunikasi saya pun berusaha mencari kontak Yece. Sekitar delapan orang saya kirim pesan pendek untuk menanyakan nomer telepon selular Yece namun tak ada yang membalas. Maka saya iseng menyalakan YM saya, muncullah Ginta yang merupakan teman akrab Yece. Saya kemudian bertanya pada Ginta mengenai nomer telepon Yece.

Ginta kemudian memberitahukan bahwa sekarang Yece di Belanda untuk kuliah S2. Ah ternyata dugaan saya benar, dia pasti jadi orang terpelajar suatu saat nanti. Ia pun memberikan sebuah nomer Yece yang ia pakai di Belanda. Naas bagi saya, karena kemarin habis membeli peralatan mandi untuk satu bulan uang saya terkuras dan tinggal sedikit. Maka saya merelakan selembar uang berwarna biru yang tersisa di dompet untuk membeli pulsa (demi lo Ce demi lo!).
Dan tibalah saatnya menelepon. “Halo ini Yesi Luisa?” tanya saya sedikit ingin mengejutkan. Niat hati ingin mengejutkan sayang saya tak tega terhadap pulsa saya. Alhasil saya mengaku saja, “Ini Wilda Ce”. Yece tak percaya karena ia menyangka tak mungkin saya tahu nomernya di Belanda. Saya pun menceritakan kenapa tahu nomernya di Belanda. Dan kami tertawa bersama untuk sejenak sebelum otak pelit sayav timbul dan mengatakan kalau pulsa saya mau habis.

Senang rasanya bisa berbincang kembali dengan Yece. Orang yang mungkin secara stereotype dianggap kurang pintar dibanding yang lain. Tapi saya sejak dulu yakin ia orang yang pintar dan spesial. Mengetahui dirinya menuntut ilmu sampai ke negeri kincir angin jelas sangat membanggakan. Orang yang dulu sering bercanda bareng kini sudah terbang bebas untuk mencari ilmudi negeri Belanda.
Akhirnya perbincangan singkat itu bisa menjalin tali silaturahmi yang sudah terputus bertahun-tahun. Ya Jaki benar, yang dibutuhkan orang untuk merasa spesial bukan sebuah kado besar atau mewah. Cukup sebuah usaha kecil yang membuat seseorang merasa dihargai. Hari ini saya senang sekali bisa memberi sebuah kado kecil untuk salah satu sahabat lama. Sahabat yang dulu saya percaya akan jadi orang hebat. Dan Yece sedang menuju ke jalan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: