Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“We, mau ngajarin ngaji?” tanya Mita singkat setelah kami selesai sholat maghrib berjamaah. “Wuidih rock and roll nih baru,” kata saya menerima tawaran (baca: tantangan) dari Mita, rekan satu penempatan saya di Program Indonesia Mengajar. Saya pun langsung menjumpai seorang bocah bergigi ompong di Mushola Kecil itu.
Saya, Mita dan seorang rekan lain bernama Arga memang berkumpul di Mushola kecil di depan hostfam Mita menjelang rapat koordinasi. “Tiap habis maghrib disini emang ada TPA we, ya kecil-kecilan lah,” tutur Mita menjelaskan. Kondisi Mushola itu memang sederhana. Tipikal Mushola di dataran Jawa, berukuran satu lapangan badminton. Di belakang Mushola terdapat beberapa bangku kayu dan meja yang disusun bertumpuk untuk keperluan TPA.
Malam itu hanya satu anak yang datang untuk mengaji. Karena rekan saya Arga yang lebih kompeten mengajar TPA sedang mengaji maka saya yang diminta Mita untuk mengajar. Anak itu memamerkan gigi ompongnya saat pertama melihat saya. Sambil mengajak tos, saya bertanya siapa nama sang anak. “Irul Pak, bapak siapa?” jawabnya sambil balas bertanya. “Bapak namanya Pak Ardi, Irul hari ini ngaji sama bapak ya.” Ia hanya mengangguk tanda setuju.
Bocah bernama lengkap Choirul Chandra Saputra ini kemudian membuka buku Iqro-nya untuk mulai mengaji. “Irul Iqro dua pak,” tuturnya saat saya tanya ia sudah sampai mana. Kami pun memulai sesi belajar membaca Al Quran dengan membaca Basmallah.
Irul kemudian membaca dengan sangat lancar. Sampai kemudian saya terkejut dengan sebuah kebiasaan unik. Saat membaca huruf hamzah yang seharusnya dibaca “a” dengan penekanan pada sisi belakang leher, Irul malah membacanya dengan “Nga”. “Irul ini dibacanya ‘a’ bukan ‘Nga’,” tutur saya mencoba mengoreksi. Dengan muka bingung Irul kemudian bicara singkat, “Ini Nga,” katanya tetep teguh dengan pendirian. “Tapi ini dibacanya ‘a’ Irul bukan ‘Nga’ ayo coba ulangi Rul,” sekali lagi saya mencoba mengoreksi Irul. “Nga bukan a,” kata Irul tetap setia dengan pendirian.
Merasa tahu diri kemampuan membaca Quran saya masih minim saya kemudian bertanya pada Arga yang kebetulan sudah selesai ngaji. Pendapat Arga sama dengan saya, ia pun kemudian mencoba mengoreksi Irul. Sayang Irul tetap kekeh dengan pendiriannya. Melihat kebingungan kami berdua Mita akhirnya turun tangan. “Mbak Mita, ini si Irul bacanya Nga bukan a, bener begini ya?” tanya saya sepolos anak kecil.
Mita kemudian menjelaskan bahwa itu banyak terjadi di masyarakat Jawa. Karena Nga lebih mudah dilafalkan ketimbang huruf a dengan penekanan di belakang leher. “Coba perhatiin orang jaman dulu kan bacanya Ngalamin bukan alamin,” papar Mita memberi contoh yang lebih nyata. Irul hanya bengong melihat perbedaan pendapat kami.
Selesai berdebat dengan Mita dan Arga saya kemudian melanjutkan mengajar Irul dengan tetap membiarkan dirinya untuk melafalkan dengan Nga bukan a. Selesai membaca tiga halaman Iqro kemudian Irul mengajak saya mengobrol sampai menjelang waktu Isya. Sayang karena ada keperluan lain saya tak bisa menemani bocah kelas 3 di SDN Bangunjaya ini untuk menunggu shalat Isya.
Malam ini saya teringat Irul. Bukan Irul tepatnya, tapi pada huruf hamzah yang ia baca a bukannya nga. Apa yang diucapkan Irul lewat Nga menyadarkan saya mengenai hubungan agama dengan budaya setempat. Irul hidup di lingkungan Lampung yang didominasi masyarakat Jawa. Kebiasaan dan pelafalan masyarakat Jawa terhadap huruf hamzah tak sama dengan pelafalan orang Arab untuk huruf yang sama.
Mungkin itu kenapa dulu ketika Sunan Kalijaga menyebarkan Islam menggunakan pendekatan yang lebih dulu dikenal masyarakat. Baik melalui wayang ataupun kesenian lain yang lebih dekat. Atau bagaimana Dalang Ki Enthus asal Tegal menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas ketika tampil di luar Tegal misalnya. Semua tujuannya satu, yakni mendekatkan diri pada Tuhan namun dengan cara yang berbeda-beda.
Mungkin Irul merasa dekat dengan Tuhan ketika ia membaca hamzah dengan Nga bukan dengan a. Irul adalah contoh kecil perbedaan pendapat soal agama. Kini banyak orang saling membunuh hanya karena hal itu. Di Mushola kecil itu saya dan Irul berbeda pendapat mengenai masalah itu. Namun kami berdamai, kami pada akhirnya tak saling memaksa apakah harus dibaca dengan a atau Nga.
“Kenapa Irul suka ngaji disini?” tanya Mita pada Irul. “Senang,” jawabnya singkat. Jika saja perbedaan pendapat tak pernah kita wadahi boleh jadi kesenangan Irul hanya akan jadi cerita fiktif belaka. Berkat Nga saya menjadi mengingat Irul. Dan berkat Irul juga saya tahu tak selamanya hamzah dibaca a. Kami berbeda tapi pada akhirnya kami tertawa bersama. “Besok ngaji lagi ya Pak,” kata Irul ketika melihat saya kembali. Saya dan Irul memang berbeda pendapat tapi ia tetap meminta saya mengajar, meminta kami tetap berteman. Mengapa kita yang mengaku dewasa dan religius tak pernah belajar pada Irul?
Advertisements

2 thoughts on “A dan Nga

  1. itu namanya aliran Ngislam Pak Ardi :D, ditempat simbah saya banyak yg begitu juga

    Like

  2. rocky says:

    agek males moco wek mampir wae, haha#macakdwi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: