Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Malam Jumat dua minggu lalu berjalan seperti biasanya. Sehabis sholat maghrib berjamaah saya menyempatkan bercengkrama dengan Bapak Sobirin dan Budiono. Mereka berdua adalah dua pemuka agama di jalur Yasinan kediaman saya. Jalur Yasinan sendiri adalah sebuah istilah untuk menyebut pembagian kelompok mengaji surat Yasin. Satu mushola kecil (langgar) biasanya memiliki satu jalur Yasinan. 
Selesai mengobrol kami kemudian menuju ke kediaman Bapak Wage. Setiap minggunya jalur Yasinan berpindah tempat, malam Jumat ini kebetulan rumah Pak Wage yang menjadi tuan rumah. Pak Wage biasa dipanggil dengan Mbah Wage. Secara usia ia memang pria berumur yang patut dikatakan Mbah. Secara hubungan masyarakat ia juga dituakan. Hal ini ditambah ia selalu merokok dengan melinting, sebuah hal yang sudah ditinggalkan generasi yang lebih muda darinya. Mbah Wage akhirnya lebih cocok melekat pada dirinya ketimbang Pak Wage. 
Karena posisinya yang dituakan itu wajar rasanya jika kemudian Mbah Wage punya posisi kuat untuk berinisiatif melakukan sesuatu. Selesai membaca Yasin dan Sholat Isya berjamaah ia kemudian menggulirkan sebuah wacana dalam forum Yasinan. Wacana itu sederhana, ia mengingatkan bahwa sebentar lagi adalah Malam Satu Sura (dibaca: Suro) dan patut dirayakan. “Njih awak e dewe kan melu tradisi seng rumiyen, satu suro pantes e dirayakke (Ya kita kan mengikuti tradisi yang ada, satu suro sudah sepantasnya dirayakan),” tuturnya pada forum. 
Semua peserta Yasinan menyetujui hal tersebut. Kemudian Mbah Wage mengatakan, “Niki kan njih njaluk dongo ten Gusti, dhayang kalian Nyai ben urip e sehat lan adoh saking penyakit (Ini kan minta doa kepada Tuhan, Dhayang dan Nyai agar hidup kita sehat dan jauh dari penyakit),” tutur Mbah Wage yang membuat Malam Yasinan kemarin lebih panjang dari biasanya. 
Mendengar itu Pak Budiono langsung angkat suara. Ia berkata bahwa Malam Satu Suro harusnya hanya dirayakan karena meminta doa kepada Allah. Ia meminta tak ada embel-embel dhayang, Nyai atau demit. Dhayang sendiri adalah sejenis sebutan untuk dedemit dan Nyai merujuk pada Nyai Roro Kidul yang menurut mitos menjadi penunggu di Laut Selatan Jawa. “Pripun njih, tapi niat e kulo niku lak mung memurnikan agama lah istilah e nipun (Ya gimana ya, tapi niat saya bicara seperti ini ya untuk memurnikan ajaran agama),” ungkap Pak Budiono sedikit tegas. 
Mendengar itu Mbah Wage mengatakan bahwa ia hanya mengikuti tradisi yang sudah ada. Ia mengatakan bahwa tradisi merayakan malam Satu Suro dirayakan di Perempatan depan masjid disertai persembahan doa untuk Gusti, Dhayang dan Nyai. Menurutnya tak ada salahnya mengikuti tradisi. Ia beralasan tujuannya tetap sama yakni meminta doa untuk keselamatan selama setahun ke depan.
Perdebatan pun terus berlanjut. Pak Budiono beserta beberapa orang juga menolak mengadakan kegiatan di perempatan, menurutnya kegiatan lebih cocok diadakan di langgar (Mushola). Dengan dukungan Pak Sobirin yang membacakan beberapa hadits untuk mendukung hal itu ia meminta upacara diadakan di langgar. Mereka juga didukung oleh beberapa orang lain yang setuju untuk dalam istilah Pak Budiono “Memurnikan Ajaran Agama”. 
Sebuah jalan tengah kemudian coba diambil oleh Pak Mukson. “Njih niki menawi lak agama kaleh adat niku bedo, menawi nek panjenengan reti sejarah e lak seng liane dadi retos penak e pripun (Ini kan masalah agama dan tradisi yang berbeda, mungkin kalau anda –merujuk ke Mbah Wage – tahu sejarahnya yang lain akan jadi tahu langkah selanjutnya seperti apa),” tutur Pak Mukson mencoba menengahi perdebatan. 
“Kiambak e nipun kan tiang Jawi tapi urip e ten Lampung, nek sejarah e njih kulo mboten retos tapi tradisi ten Jawi lak ngoten niku (Kita sendiri kan orang Jawa tapi hidupnya di Lampung, sejarahnya saya juga tidak tahu tapi tradisinya kan seperti itu),” jelas Mbah Wage. 
Masalah ini sebenarnya merupakan masalah klasik yang bisa terjadi dimana saja. Saya kemudian mencoba mendiskusikan hal ini keesokan harinya pada Pak Hamdani, salah satu pemuka masjid yang juga guru ngaji di kampung mengatakan tradisi seperti itu masih kuat di desa ini. “Sebenernya saya juga bingung harus gimana, orang-orang masih percaya yang seperti itu. Saya diajak kalau nolak juga tidak enak. Akhirnya ya saya nganggepnya rame-rame ajalah, ya buat silaturahmi. Silaturahmi rame-ramenya yang dipikirin jangan yang itu-itunya,” tutur Pak Hamdani yang baru dua tahun ditugaskan oleh gurunya menjaga masjid besar di kampung ini. 
Melihat sejarah perayaan Malam Satu Suro seperti dikatakan Pak Mukson mungkin bisa sedikit membuka mata dalam melihat perdebatan ini. Malam Satu Suro adalah sebuah penanggalan Jawa yang merujuk pada tanggal 1 Muharam, sebuah awal tahun baru dalam penanggalan Jawa. Dalam situs resmi pemerintahan Yogyakarta (bisa dilihat disini) dikatakan bahwa tradisi ini dimulai dengan digabungkannya penanggalan Jawa dengan Islam. 
Adalah Sunan Giri II pada masa pemerintahan kerajaan Demak yang membuat penyesuaian antara sistem kalender Jawa dengan sistem kalender Hijriyah. Di tahun 931 Hijriyah atau 1400 tahun Saka Sunan Giri melakukan hal tersebut untuk memperkenalkan sistem penanggalan Islam pada masyarakat Jawa. Ia melakukan hal itu bukan tanpa alasan. 
Penggabungan sistem kalender itu dilakukan selain untuk memperkenalkan kebudayaan Islam juga untuk kepentingan kerajaan. Saat itu raja yang berkuasa yakni Sultan Agung ingin menyerang Belanda di Batavia maka ia berusaha menghimpun rakyatnya agar tidak terpecah belah. Ia ingin agar rakyatnya yang “Islam Abangan” dan “Islam Santri” (ini merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Geertz) dapat bersatu padu untuk menyerang Belanda. Islam abangan merujuk pada mereka yang beragama Islam namun tak menjalankan Syariah seperti sholat lima waktu, puasa dan perintah agama lainnya. Sementara Islam Santri merujuk pada mereka yang menjalankan perintah agama dengan sebaik-baiknya. 
Sultan Agung ingin dengan penyatuan penanggalan ini mereka tak terpecah belah, mengingat saat itu Islam Abangan sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu yang menggunakan sistem tanggalan tahun Saka. Menggabungkan tahun Saka dengan Hijriyah adalah salah satu cara menampik perpecahan ala Sultan Agung.
Penggabungan itu tak hanya menampik perpecahan, namun juga melahirkan ritual-ritual yang kemudian terus terbawa sampai sekarang. Pada Jumat Legi (hari jatuhnya Satu Suro pada saat itu) misalnya untuk kawasan daerah timur kekuasaan kerajaan diadakan laporan pemerintahan sekaligus dilakukan ziarah kubur dan Haul ke makam Ngampel dan Giri. Itulah yang mengakibatkan malam Satu Suro dikeramatkan di kemudian hari. 
Ratusan tahun setelah itu perdebatan terjadi di kampung ini, di kampung yang letaknya bahkan ratusan kilometer dari Tanah Jawa. Tanah kekuasaan Sultan Agung ratusan tahun yang lalu. Disini, di desa Margajaya, Tulang Bawang Barat, Lampung semua berdebat mengenai malam satu suro. Mengenai mengikuti tradisi atau dalam istilah Pak Budiono memurnikan agama. 
Dan malam Satu Suro telah berlalu. Kami berkumpul di perempatan jalan memanjatkan doa untuk Tuhan Yang Maha Esa tanpa embel-embel lainnya. Ini adalah racikan komposisi untuk “memenangkan dua kubu”. Kubu yang mengikuti tradisi memenangkan lokasi kegiatan yakni di perempatan. Kubu yang ingin “memurnikan agama” memenangkan pendapatnya yakni dengan memanjatkan doa hanya kepada Allah. 
Sejarah orang kecil bisa jadi bukanlah soal cerita sang pemenang melainkan justru cerita kompromi. Tak ada sebuah titah tunggal layaknya Sultan Agung di jaman terdahulu. Masyarakat ini belajar menghargai pendapat. Bagi masyarakat ini tak penting siapa menang siapa kalah dalam perdebatan. Di benak masyarakat sejarah adalah soal suara bersama. Suara bersama yang berbuah damai dengan memakan telur rebus di bawah tenda biru dengan penerangan seadanya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: