Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Pak Kasiyo, Bendahara Sekolah, menyerahkan seragam pada Sudi.
Awang menundukkan kepalanya saat saya tanya kenapa ia tak masuk di hari sebelumnya. Pada Selasa lalu bocah yang jarang sekali absen ini tiba-tiba menghilang di kelas. “Belum punya sepatu lho pak, jadi ya ndak masuk,” tuturnya polos. “Pakai sandal aja enggak apa apa Wang,” balas saya mencoba memberi solusi. “Yo malu tho pak sama temen-temen,” keluh Awang singkat.
Tak hanya Awang yang memiliki alasan seperti itu. Teman sekelas Awang, Egi atau biasa disapa Egi Smash karena mirip personil Smash juga tak masuk sekolah karena sepatunya basah. Bagi mereka sepatu adalah bagian penting dalam proses pembelajaran. Sepatu bukan lagi alat pendukung melainkan alasan utama mereka berangkat ke sekolah atau tidak.
Beruntung bagi Awang, Egi dan siswa lainnya. Keesokan harinya sekolah kami, SDN 01 Margajaya, mendapat bantuan seragam sekolah, tas dan sepatu. Bantuan itu dinamakan Bantuan Siswa Miskin (BSM). Satu anak mendapatkan jatah sebesar Rp 180.000,- yang dialihfungsikan menjadi tiga barang yakni seragam, tas dan sepatu. Sistem mendapatkan BSM sebenarnya sederhana, setiap sekolah mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat melalui dinas provinsi. Bersama lima sekolah lain di Kecamatan Gunung Agung kami mendaparkan bantuan tersebut.
“Dananya kalau dikasihkan ke orangtua mentah berupa duit takutnya kan digunakan buat yang lain tho pak, malah buat beli beras atau lain-lainnya,” ungkap Pak Santoso kepala sekolah kami. Dari pertimbangan seperti itu maka pemerintah memberikan bantuan berupa seragam, tas dan sepatu sekolah pada seluruh murid di sekolah kami.
Pemilihan seragam sebagai bantuan kemungkinan besar juga berakar dari Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82. SK itu dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 17 Maret 1982 yang mengatur mengenai seragam sekolah negeri secara nasional. Di situ diatur bahwa Siswa SD diwajibkan memakai pakaian putih-merah. Sepertinya SK ini memang sudah direvisi karena di SK ini tidak mengakomodasi pakaian muslim. Kenyataannya kini banyak siswi SD yang mengenakan baju muslim sehingga boleh jadi SK ini sudah direvisi namun akar dari peraturan seragam di Indonesia adalah SK ini.
Tiga puluh tahun setelah SK itu dikeluarkan Awang, Egi dan seluruh siswa kemudian tertawa senang sambil mencoba seragam dan sepatu mereka. Ada yang kekecilan dan kebesaran lalu saling tukar dengan temannya. Sepatu dan seragam baru terasa begitu meriah di sini. Namun meriah bukan berarti menyelesaikan masalah.
Banyak siswa yang bertukar seragam karena ukurannya tak sesuai.
Hari itu juga sekolah kami sedang berduka. Kami kehilangan tiga orang guru. Pak Kafidun (Guru Agama) resmi mundur karena pindah ke Bangka Belitung. Sebeumnya ia memang sudah beberapa bulan tidak masuk. Anak Pak Kafidun yang juga guru yakni Pak Mamat (Guru Matematika, Bahasa Lampung, IPS) juga mengundurkan diri karena mengikuti bapaknya merantau ke Bangka Belitung. Lain halnya dengan Ibu Sumi (IPS, Ketrampilan) yang harus mundur atau cuti selama waktu yang tak dapat ditentukan karena faktor usia dan penyakit diabetes yang semakin parah. Dengan kehilangan tiga guru itu otomatis kini kami pincang dalam kegiatan belajar mengajar.
Di tengah keceriaan mendapat seragam baru itu saya kemudian merenung apakah seragam adalah jawaban dari permasalahan pendidikan disini. Memberikan seragam seperti membangun monas ketika rakyat sedang kelaparan. Mercusuar dan instan.
Dalam sebuah diskusi dengan PNPM Pedesaan, Pak Herry, seorang fasilitator yang bertugas di daerah kami mengatakan bahwa kekurangan guru pasti terus terjadi karena daerah hanya jadi jembatan bagi para lulusan profesi guru sebelum mereka pindah ke kota. Pada akhirnya daerah terpencil hanya akan mendapatkan guru yang uzur dan akan tetap kekurangan guru. Masalah ini tidak menjadi pokok persoalan bagi pemerintah.
Tak ada salahnya memang membagikan seragam sekolah bagi siswa miskin. Bukti sederhanya murid-murid senang dengan hal itu. Namun ada cara pandang yang keliru disini. Program bantuan seperti menyamaratakan semua daerah.
Di Jakarta atau daerah Jawa secara keseluruhan boleh jadi seragam adalah hal yang sangat lumrah. Setiap senin siswa di Jawa berjejer rapi menghadap bendera dalam upacara. Kesalahan memakai seragam bisa berakibat seorang siswa disetrap. Tapi hal itu tak terjadi disini. Satu kelas kadang ada yang memakai baju seragam putih merah, olahraga bahkan pramuka. Seragam bukan faktor krusial disini, sepatu hanya membuat risih kaki. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan yang terjadi di Jawa.
Saya ingat Gusdur sering kali berucap, “Ojo Gebyah Uyah” yang kurang lebih berarti jangan sering menggeneralisir sesuatu. Sebuah masalah di satu daerah belum tentu menjadi masalah di daerah lain. Permasalahan seragam agaknya bukan menjadi pokok persoalan disini.
Mitra, lebih senang nyeker ketimbang memakai sepatu.
Lihat saja bagaimana penampilan Mitra, Andi atau beberapa siswa saat datang ke sekolah. Mereka sering kali menenteng sepatunya karena risih memakai sepatu. Atau jangan harap ada siswa kami yang memasukkan baju seragamnya ke celana karena mereka tak biasa mengenakan kemeja. Mereka tak tahu cara mengenakan kemeja yang secara umum dianggap “benar”. Bagi mereka mendapat seragam seperti anugerah namun bukan sebuah pemecahan masalah.
Seragam dan sepatu justru menjadi penghalang mereka untuk bersekolah. Seragam dan sepatu seperti membentuk benteng antara kehidupan sekolah mereka dengan kehidupan sehari-hari mereka. Tidak memiliki sepatu seperti yang dialami oleh Awang dan Egi berarti tak patut sekolah. Pemberian seragam pada akhirnya hanya akan memperkuat pemikiran tersebut.
Andi, senang membawa sabit ke sekolah.
Riset dan pemahaman sebuah daerah secara terpisah harusnya menjadi kata kunci penting dalam menjalankan sebuah bantuan. Menyamaratakan sebuah kondisi di kawasan tertentu dengan kawasan lainnya tentu mengutip kata Gusdur adalah sebuah Gebyah Uyah. Kesalahan bentuk bantuan tak hanya berimplikasi pada salah sasaran namun juga pembentukan karakter siswa yang keliru.
Munif Chatib, tokoh pendidikan dan penulis buku Gurunya Manusia mengatakan bahwa tugas sekolah adalah untuk mengembangkan karakter dan potensi siswa bukan menyeragamkannya menjadi sebuah robot. Pada dasarnya seragam dan tetek bengek lainnya sama sekali tak penting di daerah ini. Kami bisa belajar di pohon karet, kami terbiasa mengobrol di bawah pohon asem, dan kami terbiasa belajar dengan menenteng sepatu serta mengeluarkan seragam, apakah kami salah? Yang kami perlukan bukan seragam atau penyeragaman, kami butuh pemahaman mengenai kondisi kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: