Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Salah satu hal yang paling saya benci dalam acara di televisi negeri ini adalah bagaimana kaum marginal digambarkan. Kalau tidak jadi objek penderita palingan mereka jadi pelengkap semata. Yang paling anyar pura-pura peduli atau ceritanya menjadi bagian dari masyarakat itu padahal yang digambarkan hanya eksploitasi. Coba tengok acara yang menggambarkan orang kota tinggal bersama dengan masyarakat desa dalam frame jika aku menjadi, maaf tidak sengaja keyboard saya mengetik nama acara itu.
Masyarakat kota datang dengan sebuah persepsi, ceritanya mau belajar. Lalu disuguhi gambar nenek atau kakek yang mengais rezeki demi sesuap nasi. Biasanya pekerjaan sektor non-formal yang memiliki sedikit keuntungan. Digambarkan si masyarakat desa tak bisa berkembang dan hidupnya itu-itu saja.
Lalu datanglah si anak kota, ceritanya membantu pekerjaan orang terpinggirkan. Atau hidup dalam cara kerja mereka yang tak punya. Mulai dari masak menggunakan kayu bakar, menimba air atau sekedar mengeluh dikeroyok nyamuk saat tidur. Dan tibalah ketika si anak kota tersadar lalu merenung dan mengumbar air mata. Bercerita mereka banyak belajar dari si masyarakat pedesaan arti hidup sederhana dan bla bla bla.
Mungkin tak ada salahnya dengan itu. Namun ada satu yang mengganjal saya mengenai hal itu. Masyarakat desa dianggap tak belajar apa-apa, mereka dianggap sebagai objek diam di depan corong kamera. Yang belajar adalah si anak kota dengan cerita melankolis yang lebih parah dari lagu Rinto Harahap. Nyatanya pertemuan manusia adalah sebuah transaksi sosial, bukan sebuah garis panah searah.
Dua bulan lebih saya tinggal dengan Mbah Satinah dan Edi (cucunya) di Desa Margajaya. Banyak hal yang terjadi, namun satu yang pasti saya belajar banyak soal bagaimana transaksi itu dilakukan. Kacamata memandang orang kecil ala televisi itu mentah-mentah terbantahkan. Banyak hal kecil yang menggambarkan transasksi sosial itu, bukan hanya saya “si anak kota” yang beradaptasi melainkan juga Mbah Satinah dan Edi beradaptasi dengan kehadiran saya.
Sejak kecil saya tak terbiasa makan tanpa nasi hangat. Sehingga saya sering menaruh nasi yang dingin di penanak nasi yang dimiliki Mbah Satinah agar hangat. Saya kemudian menunggu sekitar lima belas menit untuk menyantap makanan ditemani nasi yang hangat. Proses itu berjalan sekitar satu minggu pertama, untuk kemudian saya kaget di minggu kedua. Di minggu kedua tak ada nasi dingin melainkan sudah ditaruh di penanak nasi. Mbah Satinah memperhatikan kebiasaan saya dan ia belajar darinya.
Saya juga tak menyukai makanan pedas sehingga jika Mbah memasak sayur tahu atau tempe saya akan menyingkirkan cabe hijau di sayur atau meminimalisir kuah agar tidak pedas. Dan saya kaget setengah mati ketika beberapa minggu kemudian makanan di rumah ini rata-rata tidak pedas. Maka nyamanlah saya dalam makan. Sekali lagi Mbah Satinah belajar dari kebiasaan yang tak saya ungkapkan secara verbal.
Karena tidak ada kompor maka saya pun belajar memasak menggunakan tungku. Kini saya sudah handal menggunakan tungku, bahkan saya tahu pengaruh menggunakan batok kelapa, daun kelapa atau kayu bakar pada rasa makanan. Ketiga jenis bahan tersebut akan mempengaruhi rasa dan aroma yang berbeda pada makanan. Target terdekat saya adalah bisa menyalakan kayu bakar tanpa minyak tanah, sebuah keahlian yang dikuasai Mbah namun belum saya kuasai. Selain soal masak memasak saya juga belajar mengenai mandi yang cepat, atau cara menjemur pakaian agar nampak rapi tanpa disetrika. Semua saya pelajari dari Mbah Satinah dan Edi cucunya.
Artinya dari situ, baik saya maupun Mbah Satinah dan Edi saling bertransaksi membentuk sebuah dinamika kehidupan yang kami nikmati bersama. Mbah Satinah dan Edi mungkin “orang kampung” yang digambarkan televisi sebagai objek yang hanya bisa dipelajari tanpa bisa belajar apa-apa. Mereka yang hanya bisa menimbulkan air mata si anak kota.
Nyatanya Mbah dan Edi bisa mengamati kebiasaan saya. Mereka mempelajari itu dan menerapkannya dalam interaksi kehidupan yang kami lakukan. Pun saya juga melakukan hal serupa untuk beradaptasi dengan cara hidup mereka yang belum saya kenal sebelumnya. Kita saling tawar menawar dan kita saling beradaptasi. Adaptasi ternyata dilakukan oleh pihak pendatang dan yang didatangi, bukan penyesuaian satu pihak semata.
Dari sini saya tahu masyarakat marginal juga bisa belajar. Mereka bukan objek penderita semata seperti di televisi. Mereka berkembang dan belajar dengan pengaruh dari luar. Menempatkan mereka hanya sebagai objek semata adalah sebuah pemikiran bodoh industri televisi kita. Pengawetan cara pandang ini lebih menyebalkan ketimbang menyaksikan anak kota menjual air mata sok berempati di televisi.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: