Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Edna hanya menunduk kecil saat saya tanya apa cita-citanya. Setelah saya meminta seluruh kelas lima bertepuk tangan menyemangati Edna dan menyatakan bahwa yang paling penting adalah belajar berani, ia kemudian membuka mulutnya perlahan. “Mau masuk pondok pak,” kata dia polos. Mendengar itu saya hanya bisa menelan ludah, cita-citanya sungguh sederhana.
Jika anda bertanya apa cita-cita anak disini bisa jadi anda akan banyak menelan ludah. Bukan hanya Edna yang bercita-cita masuk pondok, sebut saja Imam, Egi atau Awang yang juga bercita-cita sama. Bagi mereka cita-cita bukan sesuatu yang digantung di langit. Cita-cita adalah apa yang paling mungkin bisa dicapai oleh mereka. Memang masih ada cita-cita klise khas anak kecil seperti menjadi dokter atau guru namun pengetahuan mereka sebatas profesi itu. Keterbatasan informasi, tak adanya role model mengenai orang yang sukses di profesi tertentu membuat mereka hanya bisa menurunkan cita-citanya dari langit ke pucuk pohon karet.
Saya kemudian mengingat kembali apa yang membuat saya bercita-cita menjadi wartawan. Ketika berada di kelas empat SD ada kakak keponakan saya berprofesi sebagai wartawan tinggal di rumah. Saat itu ia hanya wartawan kacangan media kecil. Namun yang saya tahu pekerjaan itu mengasyikkan, nama kita bisa muncul di koran. Berangkat kerja tidak memakai seragam dan hal-hal kecil lain yang membuat saya merasa bahwa pekerjaan ini adalah surga. Role Model adalah kunci penting dalam penggapaian cita-cita.
Saya beruntung tinggal di kota besar dimana akses informasi membanjir dan bisa menemui banyak role model sukses beragam profesi. Namun bagaimana nasib murid-murid di SDN 01 Margajaya. Akses informasi minim dan lupakan soal role model, profesi yang mereka tahu hanya menyadap getah karet di kebun karet bapaknya. Atau guru yang sehari-hari mengajar mereka. Hanya ada dua role model.

Solusi utama untuk menggantungkan cita-cita mereka tentu saja menghadirkan role model di depan mata kepala mereka. Mempelajari sebuah profesi langsung dari lakonnya. Saya dan seorang rekan Pengajar Muda bernama Meiske mencoba melakukan hal itu.
Di bawah pohon asem sekolah kami berkumpul dan melaunching Televisi baru kami yang dinamakan TV Cita-Cita. Ini bukan televisi yang anda kenal. TV Cita-Cita terbuat dari karton putih sederhana yang bagian tengahnya dibolong. Jika TV ini sedang siaran maka akan ada satu bintang tamu yang hadir di hadapan murid-murid SDN 01 Margajaya. Bintang tamu ini akan menceritakan mengenai profesinya kepada anak-anak, role model itu hadir di hadapan kami, di dalam TV Cita-Cita.
Seperti halnya televisi biasa kami juga memiliki remote TV. Remote itu bukan berisi tombol-tombol untuk memindahkan saluran TV melainkan berisi tombol memilih pertanyaan. Bagi murid yang mampu menjawab pertanyaan seputar pelajaran maka ia berhak memilih pertanyaan dari remote TV Cita-Cita. TV itu memang sederhana namun kami sangat menikmatinya kemarin.
Kemarin di bawah pohon asem, untuk pertama kalinya TV Cita-Cita siaran. TV itu menyiarkan mengenai profesi Pengacara, Meiske, rekan Pengajar Muda satu penempatan dengan saya hadir sebagai bintang tamunya. Sebelum menjadi guru di SDN 02 Sumberjaya ia merupakan seorang pengacara di salah satu firma hukum Ibukota. Saya membuka siaran itu dengan mengatakan, “TV Cita-Cita” dan dijawab oleh murid-murid “Profesimu, Cita-Citaku!”.

Sebelum Meiske menceritakan mengenai profesi Pengacara hanya ada satu murid yang tahu profesi itu, Mita namanya, salah satu murid kelas enam yang dianggap “pintar” (istilah ini aneh, sebab semua anak pada dasarnya pintar) oleh banyak guru. Mereka pun memandang Meiske dengan perasaan penasaran. Walau tentu tak dapat dipungkiri masih ada yang ribut sana-ribut sini khas anak kecil, namun tak menjadi persoalan berarti.
Pertanyaan dari remote saya susun dengan sederhana, harapannya di siaran TV Cita-Cita berikutnya murid-murid mulai belajar menyusun pertanyaan itu. Pertanyaan nomor tujuh misalnya menanyakan “Kenapa Ibu Meiske dulu mau jadi pengacara?”. Ia menjawab bahwa hal itu dikarenakan salah satu gurunya di SMA meminjamkan (atau menyuruh dirinya membaca,detailnya saya lupa) sebuah buku yang membuatnya ingin menjadi pengacara. Hal itu membuktikan bahwa setiap cita-cita pasti membutuhkan arus informasi (buku) dan “orang yang menjerumuskan” (guru SMA-nya). TV Cita-Cita berusaha menghadirkan dua hal itu.
Yang juga lebih penting adalah menghadirkan motivasi bahwa mereka bisa menjadi pengacara seperti halnya Meiske. Pertanyaan nomor tiga misalnya, “Kami berasal dari kampung, bisakah kami jadi pengacara?”. Meiske kemudian menyatakan dengan tegas bahwa hal itu sangat mungkin. Ia bahkan memberi contoh dosennya yang berasal dari pedalaman di Sumatera Utara bisa menjadi seorang pengacara hebat. Saat Meiske mengatakan itu, mata Mita, Luluk, Sella terpaku memandang Meiske, seperti mengatakan mereka juga ingin seperti itu.

Pertanyaan menarik juga datang dari Mita, ia bertanya apakah jika pengacara membela seseorang dan orang itu masuk penjara maka pengacara juga akan ikut masuk penjara. Saya dan Meiske tersenyum kecil dan kagum dengan pertanyaan itu, sebuah pertanyaan menarik yang bahkan jika saya seusia Mita saya takkan terpikir untuk menanyakan hal itu. Jika suatu hari Mita menjadi pengacara saya yakin dia akan mengingat betul jawaban dari Meiske mengenai hal itu.
TV Cita-Cita memang hanya sebuah karton putih yang bolong di tengahnya. Namun kami tahu di tengah bolongan itu ada sosok-sosok luar biasa yang akan membawa kami para murid-murid SDN 01 Margajaya berani bermimpi. Membuat kami kembali berani menggantungkan cita-cita kami setinggi langit. Bukan tak mungkin berpuluh tahun dari hari ini murid-murid itu yang hadir di tengah karton putih itu, mengatakan mereka berhasil menggapai mimpi mereka.
*terimakasih tak terhingga untuk Meiske yang sudah mau menjadi bintang tamu di TV Cita-Cita. Juga untuk salah satu pementasan monolog saat Kunci Cultural Studies melakukan penelitian mengenai Alun-Alun Selatan yang juga menggunakan TV seperti ini. Juga kepada Nino dan Keceng sesama rekan Pengajar Muda yang menghadirkan ide MNC TV di tempat pelatihan.

Advertisements

2 thoughts on “TV Cita-Cita

  1. sayang lampung jauh we, gak bisa nengok kamu 😦 keep up the good work dude 🙂

    Like

  2. Lah eneh idenya bagus sekali. Keren. Yang penting visual, auditeri dan kinestetik.
    Bawa pada pengalaman yang nyata.
    Semangat terus ya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: