Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Arif datang dengan sebuah motor matic berwarna putih bersama dua orang temannya ke Pangkas Rambut Mantap. Siswa SMP ini menggunakan kaos hitam merah bertuliskan Rocket Rock bergambar seorang anak punk menenggak minuman keras. Sambil turun dari motor ia merapikan rambut mohawknya dengan jari-jari tangan kanannya. Sementara menunggu giliran untuk dicukur, Arif duduk dan mengobrol dengan saya. Dua temannya yang lain pergi meninggalkannya dengan motor matic yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa.
Remaja penyuka band Ungu ini datang untuk memangkas rambut mohawknya yang menurutnya sudah tak bagus lagi. Sebenarnya banyak pangkas rambut di sekitar kediamannya namun Arif lebih memilih untuk mencukur rambutnya di Pangkas Rambut Mantap. “Ya bagus aja mas kalau disini, macem-macem model cukurannya,” alasannya saat saya tanya mengapa memilih mencukur rambut di pangkas rambut ini.
Pangkas Rambut Mantap sendiri terletak di Jalan Etanol, Tulang Bawang Barat, Lampung. Jalan Etanol merupakan jalan pendukung untuk menuju Unit 2, salah satu pusat ekonomi di Tulang Bawang Barat. Pangkas Rambut berukuran setengah lapangan voli ini hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Unit 2. Sehingga tak mengherankan jika banyak orang yang mengantri untuk cukur disini karena berada di dekat keramaian.
Senin lalu saya menyempatkan diri cukur disana karena rekan satu penempatan saya mengatakan rambut saya sudah gondrong untuk ukuran guru. Sambil dicukur saya kemudian mengobrol dengan tukang cukur pangkas rambut ini. Obrolan diawali karena rasa penasaran saya mengenai tarif khusus Remaja di pangkas rambut ini. Tak seperti di Jawa dimana cukur rambut pria hanya mengkategorikan Anak-Anak dan Dewasa, di sini kategori harga ditambah dengan Remaja.

Bang Firdaus alias Daus tukang cukur di pangkas rambut ini kemudian menceritakan banyak hal terkait cukur remaja ini. “Saya Firdaus bang, dari Batak aslinya, panggil aja Daus bang biar akrab,” tutur pria berumur 21 tahun ini mengawali percakapan. Menurut Daus kategori remaja di pangkas rambut ini belum lama terjadi. Hal ini menurutnya karena remaja terlalu banyak meminta dan menuntuk saat dicukur sehingga ada kategori khusus remaja di tarif pangkas rambut ini.
“Kalo remaja-remaja anak muda itu cukur banyak maunya bang, ada yang minta dicukur gaya macem-macem, gaya gaul gitu, makanya repot nyukurnya, ada yang milih gambar gaya rambut aja sampe lima belas menit lebih” ujar Daus menjelaskan. Tarif remaja di pangkas rambut ini sendiri seharga Rp 10.000,-. Harga itu lebih mahal dari cukur untuk anak-anak yang dipatok dengan harga Rp 8.000,- dan lebih murah dari tarif untuk dewasa seharga Rp 13.000,-. Beda tarif dua ribu rupiah antara remaja dengan anak-anak menurut Daus karena remaja banyak mintanya dibandingkan dengan anak-anak.
Saat ditanya gaya rambut apa saja gaya yang sedang digandrungi anak remaja Tulang Bawang Barat, Daus kemudian panjang lebar menceritakan kepada saya. “Sekarang lagi musim gaya imoh (maksudnya Emo) sama mohawk bang, tapi udah enggak begitu musim juga,” tuturnya. “Kalau Imoh itu belakangnya aja bang yang dicukur depannya gondrong, jadi rambutnya nutupin muka lah,” jelasnya pada saya mengenai gaya cukur rabut emo. Ia juga menjelaskan pada saya bahwa mohawk adalah gaya cukur rambutnya berdiri-berdiri ngepunk.
Saya kemudian bertanya kenapa dua model itu bisa begitu populer bagi remaja di daerah ini. “Model rambut itu kan gaul bang, remaja sini gaul-gaul pinginnya,” ujar Daus. Tentu saja masalah ingin gaul, trendi atau keren adalah masalah yang biasa terjadi di kalangan remaja. Yang patut dilihat adalah referensi gaul versi apa yang dipakai oleh remaja disini.
Daus mengatakan bahwa Pasha (Vokalis Band Ungu) dan Enda (Gitaris Ungu) adalah dua artis yang kerap diikuti gayanya oleh para remaja disini. “Banyak juga yang kalau cukur disini bilang mau cukur kaya Pasha, Enda sama band Kunci saya lupa namanya siapa,” jelas Pria yang juga punya usaha pangkas rambut di Medan ini. Hal ini jelas wajar sebab dengan bergerak di jalur mainstream Band Ungu berhasil sukses secara komersil dan menuai popularitas. Lihat saja penjualan album Melayang (2005) yang menembus angka penjualan 300.000 keping lebih. Itu baru dari hitungan CD original, belum lagi CD bajakan yang tersebar dimana-mana. Di Unit 2 sendiri banyak lapak CD bajakan yang menjual  mp3 band Indonesia, campursari sampai dangdut, sehingga wajar jika kemudian Pasha dan Enda salah dua punggawa grup itu menjadi kiblat remaja disini dalam bergaya. 
Menurut Daus banyak juga artis lain yang kerap dijadikan contoh soal gaya rambut. Namun yang gaya rambutnya sedang banyak diikuti justru bek sayap Tim Nasional Indonesia di SEAGAMES lalu yakni Diego Michaels. Kepopuleran Diego terjadi karena sempat menjadi bahan berita utama infotainment. Hal itu disebabkan selain karena kemampuannya dalam mengolah kulit bundar juga karena paras tampannya. Di salah satu infotainment ia bahkan didaulat untuk menyanyi bersama Ayu Ting-Ting, seorang penyanyi dangdut yang sedang naik daun. “Sekarang kalau cukur banyak yang bilang pingin kaya Diego, tengahnya jabrik-jabrik gitu terus sampingnya dikerok, nah itu kan lama bang, kalau harganya sama kaya cukur anak-anak rugi di kitanya,” ujar Daus sedikit beralasan kenapa harga cukur remaja lebih mahal dibanding anak-anak.
Tak hanya soal gaya rambut, Daus juga menceritakan remaja disini senang mengecat rambutnya. “Kadang ya ada yang ngecat biru, merah atau pirang gitu bang, saya mah ngikutin aja,” kata Daus. Karena banyaknya remaja yang mengecat rambut akhirnya Daus dan rekannya menempelkan harga khusus untuk mengecat rambut di dinding pangkas rambut yang dituliskan dengan “Pirank” seharga Rp 25.000,-. Sambil tertawa Daus mengatakan dengan mengecat rambutnya remaja akan terlihat lebih gaul.

“Terus kalau udah dicat pada nongkrong dimana bang?” tanya saya penasaran. “Disini emang enggak ada mol kaya di kota-kota bang, makanya mereka nongkrongnya ya paling di pinggir-pinggir jalan aja kalau malam minggu atau kalau lagi ada organ (maksudnya organ tunggal),” tutur Daus. Ia menjelaskan saat malam Minggu remaja di daerah sini bisa nongkrong di Unit 2 sampai pukul sepuluh malam. Sementara itu jika ada organ tunggal yang ditanggap oleh orang yang punya hajat, bisa sampai pukul satu malam mereka baru pulang dari nongkrongnya.
Budaya nongkrong di pinggir jalan ini didukung oleh munculnya klub-klub motor di daerah sini. “Ada yang namanya Kenshin mas, itu kumpulan motor Ninja (jenis motor besar keluaran pabrikan Kawasaki), kumpulan Vixion (motor besar keluaran Yamaha) juga ada bang, mereka pada nongkrong di pom-pom bensin pinggir jalan,” ujar Daus semakin ngalor ngidul. Pom-pom bensin disini maksudnya adalah tempat jual bensin eceran, alasannya karena biasanya toko-toko ini kiosnya akan buka sampai larut malam.
Munculnya klub motor ini juga didukung oleh mudahnya mengambil kredit motor. Di Unit 2 banyak terdapat dealer motor penyedia jasa layanan kredit motor misalnya saja dari pabrikan Honda, Suzuki, Kawasaki sampai motor di luar pabrikan Jepang. Menurut Pak Kardi, warga Gunung Agung, seorang yang mengkreditkan sebuah motor Ninja untuk anaknya mengatakan bahwa mengkredit motor lebih enak karena tidak memberatkan secara ekonomi.
Selesai dicukur oleh Bang Daus saya menyaksikan beberapa remaja ngebut dengan menggunakan motor besar. Sayang saya tak sempat menyaksikan gaya rambut mereka apakah hasil cukuran Bang Daus. Namun satu yang pasti saya yakin setiap remaja akan selalu bergeliat dalam ruang bergaya mereka.

Mungkin selama ini kita memaki remaja di daerah dengan mengatakan alay atau kata sejenis lain yang berkorelasi dengan kampungan. Namun ternyata di balik hujatan alay itu terjadi beragam faktor dan kebudayaan yang melatarbelakanginya. Bahkan budaya alay pun tak serta merta terjadi begitu saja, ada banyak faktor yang membentuknya.
Remaja disini nyatanya tetap mengakses informasi melalui televisi, mereka menggunakan tokoh-tokoh di dalamnya untuk dicontek gaya rambutnya. Mereka menggunakan motor-motor besar untuk menunjukkan eksistensinya. Mereka nongkrong di pinggir jalan karena tak ada pusat kegiatan remaja disini. Mereka menghadiri hajatan atau dangdutan untuk menyaksikan organ tunggal.


Rasanya hal itu sama saja dengan anak kota yang mendownload Topman atau Nylon untuk melihat gaya dan properti model ternama sambil mencari celah mengadaptasinya. Atau jalan ke Mall dengan MVP keluaran terbaru untuk menunjukkan eksistensi. Kalau jalan ke Mall tak lagi berarti maka datang ke gig-gig musisi indie jadi alternatif menunjukkan eksistensi. Pada dasarnya remaja di Jakarta atau Tulang Bawang Barat sama saja.
Di setiap kesempatan pada dasarnya remaja akan mencari celah bergaya. Desa dan kota hanya salah satu faktor penentu output gaya mereka. Saya jadi ingat apa kata Bang Daus saat mencukur saya. “Abang udah tua ya Bang, pasti dulu waktu remaja juga gaya-gayaan juga ya? Saya juga gitu bang, wajarlah bang namanya juga remaja,” tuturnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: