Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Selain mengajar IPA dan Bahasa Inggris saya juga didaulat mengajar Agama Islam. Hal ini terjadi karena guru pengampu pelajaran ini sangat jarang masuk. Sebenarnya ini pekerjaan berat karena saya bukan anak sholeh apalagi anak mushola yang paham soal pelajaran agama. Namun setelah saya pikir-pikir daripada kosong ya diisi saja, toh ada buku pelajaran yang bisa saya jadikan sebagai acuan.
Jumat lalu saya mengajar Agama Islam di kelas enam. Biasanya saya jarang mengajar Agama di kelas enam, hanya kelas empat dan lima. Sebab pelajaran agama di kelas enam berbarengan dengan pelajaran IPA di kelas empat. Namun entah kenapa hari itu saya ingin mengajar agama di kelas enam. Mungkin syaraf sholeh saya sedang tinggi hari itu.
Pelajaran hari itu adalah mengenai Iman Kepada Hari Akhir atau Kiamat. Materi ini kemudian menjadikan surat Al Zalzalah sebagai salah satu landasannya. Di surat itu tertulis bahwa kebaikan sebesar biji zharah akan ada balasannya pun dengan kejahatan sebesar biji zharah. Saya kemudian bertanya kenapa biji zharah yang dijadikan sebagai contoh.
Beragam jawaban muncul mulai dari jawaban konyol seperti Tuhan tidak tahu biji salak sampai jawaban lain yang hampir senada. Ada yang menjawab karena biji zharah di Arab dan Arab itu suci, dan jawaban-jawaban seperti itu banyak muncul. Justru tak ada yang menjawab biji zharah digunakan sebagai contoh karena secara fisik buah ini amat kecil sehingga sekecil apapun kelakuan kita akan ada balasannya.
Mengetahui jawaban yang kebanyakan menjadikan Arab sebagai sesuatu yang penting saya kemudian bertanya, apakah Islam dan Arab itu sama. Benar saja kecurigaan saya terbukti, semua murid kelas enam menjawab Islam dan Arab itu sama. Koor masal terjadi di jawaban itu, tak ada satu pendapat pun yang berbeda. Padahal kelas enam sudah terbiasa dengan perbedaan pendapat namun soal Islam dan Arab mereka membentuk paduan suara bahwa keduanya sama saja. Saya menelan ludah mendengar itu.
Mereka mengatakan Islam dan Arab saja dengan beberapa alasan. Ada yang mengatakan karena Arab itu suci, Ka’bah adanya di Arab, karena Nabi Muhammad tinggalnya di Arab dan karena banyak orang Islam di Arab. Semua jawaban itu masuk akal dan saya menghargainya. Merubah pemikiran yang sudah lama tertanam itu tidak mudah, namun hal ini harus dirubah secara perlahan-lahan.
Arab dan Islam adalah dua hal yang berbeda, menyamaratakan keduanya tak hanya salah kaprah namun juga membiasakan pola pikir agama dan kebudayaan adalah dua hal yang sama dan itu jelas keliru. Menyamakan keduanya kerap menjadi masalah di negeri ini. Yang Arab berarti Islam dan benar, padahal iklan minyak Arab di Poskota belum tentu punya relevansi dengan Islam.
“Coba bayangin waktu David Beckham ke Indonesia, terus dia lihat Okto waktu giring bola, eh dia mikir wah ternyata orang Indonesia kulitnya hitam-hitam semua ya,” buka saya untuk mengubah persepsi mereka. “Sekarang benar enggak teman-teman orang Indonesia hitam semua?” tanya saya. “Enggak pak, yang putih juga ada,” jawab Aris. Saya kemudian menjelaskan bahwa apa yang kita lihat dari Arab terkadang seperti David Beckham melihat Indonesia. “Bukan berarti di Arab itu suci semua, disana juga ada orang non-Muslim, tapi karena kita tahunya hanya orang Muslim makanya kita kaya David Beckham yang lihat Okto, mikirnya semuanya orang hitam, padal kan enggak,” jelas saya.
Beberapa orang nampak belum paham dengan penjelasan saya. Mereka berkilah bahwa Arab dan Islam adalah dua hal yang sama. Apalagi Ka’bah berada disana, jadi menurut mereka Arab adalah Islam dan Islam adalah Arab. Jujur sangat sulit merubah persepsi ini. Saya berusaha menjelaskan bahwa Islam itu Agama dan Arab itu Negara, dua hal itu berbeda walaupun saling mempengaruhi. 
“Sekarang ada yang pernah lihat orang yang kalau kemana-mana celananya digulung sampai diatas mata kaki,” tanya saya. Beberapa dari mereka mengatakan pernah melihat hal itu. “Nah di Arab itu kan padang pasir, kira-kira kotor enggak celananya kalau enggak digulung?”. Edik, siswa yang secara fisik paling besar, menjawab celana akan kena pasir kalau tidak digulung. “Nah kira-kira kalau di Indonesia perlu digulung tidak?” tanya saya lagi. “Enggak perlu pak, kan bukan di padang pasir,” jawab Eko. “Nah bukan berarti semua yang ada di Arab harus kita ikutin teman-teman, karena keadaan Arab sama keadaan disini berbeda, yang kita ikutin itu Islam apa Arabnya?” pancing saya. “Islam Pak,” ujar mereka ramai-ramai.
Hari itu mereka belajar bahwa Islam dan Arab adalah dua hal berbeda. Pada dasarnya yang lebih penting adalah menaruh Islam pada konteksnya. Keadaan Indonesia dan Arab jelas berbeda, yang mestinya diajarkan sejak dini adalah hal itu. Mengajarkan bahwa Islam itu fleksibel bukan Arab oriented. Jika hal ini terus menerus diajarkan maka Islam bukan lagi menjadi sebuah entitas beku, melainkan sesuatu yang fleksibel dan membuka ruang diskusi.
Pengajaran bahwa Arab dan Islam adalah dua hal berbeda kemudian menemukan signifikansinya disini. Bahwa Kebudayaan dan Agama adalah dua hal berbeda yang harus disadari sejak dini. Namun kemampuan anak-anak jelas belum memadai dengan misalnya mengatakan, “Jadi anak-anak kita harus melihat segala permasalahan dalam konteksnya termasuk Islam dan Arab,” mereka hanya akan bengong mendengar retorika itu. Yang dibutuhkan adalah contoh-contoh kecil nilai-nilai adaptif Islam dan perbedaan umat Islam di Arab dengan di negeri ini. Dengan begitu mereka akan mampu membedakan mana Islam dan mana Arab.
Menyenangkan rasanya melihat siswa kelas enam mulai paham bahwa Islam dan Arab adalah dua hal yang patut dipisahkan. Tanpa mengajari ini sejak dini boleh jadi mereka tumbuh menjadi buta hati terhadap keterbukaan Islam. Dengan tertutupnya mereka efeknya bisa jadi mereka hanya tahu Islam sekedar Allahu Akbar, memakai sorban, membiarkan jenggot tumbuh dan merusak hiburan malam tanpa tahu konteksnya. Dengan mengajarkan dikotomi Arab dan Islam ini semoga mereka tumbuh menjadi anak yang bijak dalam melihat segala perbedaan. Islam bukan soal jenggot, sorban atau tetek bengek berbau Arab. Islam adalah tentang bagaimana keramahan menyelimuti keseharian hidup kita.
Advertisements

4 thoughts on “Islam (Bukan Arab)

  1. Kalau boleh, saya mau ngasih 2 tanggapan.
    Pertama, tentang celana di atas mata kaki. Konteksnya bukan karena di Arab banyak pasir. Silakan diriset lagi mengenai hal ini.

    Kedua, saya setuju dg polo pikir bahwa Islam tidak ekuivalen dg Arab. Ya contoh kecilnya saja, saya lebih suka pakai kopiah daripa bersurban, walaupun kalau ada orang ingin pakai surban ya ga masalah. 🙂

    Like

  2. Anonim says:

    ini kan hanya perumpamaan saja Om, sama hal-nya dengan David Beckham melihat Okto bukan?kalau kita memberikan perumpamaan yang berat mana mengerti mereka, yang ringgan sajalah dulu *coba dech ditelaah lagi*

    Like

  3. Anonim says:

    soal celana di atas mata kaki, saya setuju dengan agungfirmansyah. kenapa? jika contoh ini yg dipegang oleh anak didik bung ardi, suatu saat nanti, siapa tau, anak didik bung ardi terlibat perdebatan tentang topik di atas dan dia mengambil contoh itu sebagai argumen, tentu argumen ini akan mudah dipatahkan oleh orang yg tau betul 'alasan sesungguhnya' memakai 'celana di atas mata kaki' ini.

    hemat saya, bung ardi menggali contoh lain dan semoga berkesempatan menyampaikannya lain waktu. islam bukan arab, jika nabi muhammad lahir di jawa, mungkin ia akan memakai batik. kenapa islam lahir di arab? biar mereka yg mencarinya jika tertarik. lagipula, esensi agama itu bukan pada lahiriahnya kan? tuhan menyuruh kita solat, lalu jika kita tak solat apa dia akan gusar dan tidak puas? hohoho dia bukan manusia!
    mungkin hakikat beragama bung ardi, tolong sampaikan. pengalaman saya waktu kecil, agama jadi menarik saat kami dipancing untuk mencari, bukan menerima begitu saja: kewajiban solat, puasa, zakat, dan lain-lain.

    salut untuk bung ardi yg berkesempatan membuka wawasan dan mendidik anak-anak indonesia dengan meninggalkan segala kesenangan khas urban.

    salam dukungan untuk bung!

    -thiya

    Like

  4. Ardi Wilda says:

    @agung & thiya: senang rasanya bisa membuka diskusi disini. Memang tadinya alasan saya mengemukakan alasan tersebut karena sependapat dengan anonim. Namun masukan dari Mas Agung dan Thiya akan saya sampaikan pula pada pelajaran berikutnya. Mari bersama-sama terus membuka diskusi melalui ruang ini 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: