Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Tiga hari ke belakang beberapa adik kelas kuliah saya datang ke daerah tempat saya mengajar di Tulang Bawang Barat. Mereka adalah adik kelas saya di UGM, kampus tempat saya belajar dulu. Dua orang berasal dari jurusan yang sama dengan saya yakni komunikasi sementara satu orang lagi berasal dari Fakultas Teknik. Mereka datang ke derah penempatan saya bukan tanpa alasan.

Ketiga orang ini hadir untuk melakukan survey daerah karena mereka berniat melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di dekat daerah tempat saya mengajar (sekitar 20km jaraknya dengan tempat saya mengajar). Karena mereka masih buta dengan daerah ini saya kemudian mengenalkan medan daerah disini yang berbeda dengan di Jawa. Selain itu saya juga mengantarkan mereka ke beberapa pamong masyarakat yang bisa mereka jadikan teman berdiskusi perihal program KKN mereka. Karena sering mengajak mereka berkeliling ditambah mereka menginap di tempat saya, maka saya intens berinteraksi dengan mereka. Kami sering mengobrol ataupun berdiskusi santai.

Senang rasanya bertemu dengan mereka. Saya banyak bertanya tentang keadaan kampus, sahabat-sahabat saya di kampus yang belum menyelesaikan studinya, beberapa dosen yang menyebalkan dan tentu saja gosip-gosip kecil yang beredar di kampus. Saking senangnya saya jadi merasa kangen dengan kampus. Namun kehadiran ketiga adik kelas ini tidak hanya memunculkan rasa senang dan kangen kampus, lebih dari itu ada hal-hal esensial yang baru saya sadari setelah kedatangan mereka.

Memandang mereka bertiga seperti memandang masa muda saya. Penuh keceriaan, tertawa lepas tanpa beban, beban mereka mungkin hanya nilai mata kuliah. Salah satu dari mereka kecewa setelah melihat nilai di portal akademik situs kampus. Ah sungguh saya pernah mengalami hal itu beberapa tahun lalu.

Mereka juga adalah generasi yang tumbuh dari munculnya komunitas-komunitas kecil di kampus. Salah dua dari mereka tumbuh dan bergiat di komunitas penggiat fotografi tingkat kampus. Mereka kadang mengobrol soal fotografi, baik seputar teknik maupun peralatan yang mengasyikkan untuk digunakan. Mereka juga dengan senang hati dan semangat hunting foto di dekat daerah penempatan saya. Dari senyum saat memotret saya tahu saya pernah mengalami senyum itu.

Tak ketinggalan saat saya tanya ada gig apa di Jogja mereka menjawab ada Bangutaman yang mengasyikkan. Salah satu dari mereka bercerita bahwa gig Bangkutaman cukup mengasyikkan sayang orang yang datang tak sebanyak yang ia sangka. Ia juga bercerita Answer Sheet sedang naik daun di dunia perhelatan musik Jogja. Mendengar itu saya jadi ingat perjuangan saat masih sering meliput gig di Jogja dulu, mencatat beberapa hal penting di suasana gig yang hangat.

Saya kemudian sadar ada hal-hal yang telah berubah, tatkala berbincang mengenai masalah ini dengan Acha, salah satu Pengajar Muda yang satu penempatan dengan saya. “Ngeliat mereka gw jadi kangen kampus We, enak ya hidup mereka, kita enggak sadar lima bulan ini kita banyak berubah mungkin We,” tutur Acha di motor, saat saya mengantarkan adik kelas saya main ke tempatnya. Lima bulan merujuk pada dua bulan masa pelatihan dan tiga bulan penerjunan kami sebagai guru sekolah dasar di daerah penempatan kami.

Saya kemudian berbincang banyak dengan Acha di motor. Kiri kanan kami adalah pohon sawit dan karet, di depan kami rumah papan yang status tanahnya masih sengketa, mungkin lima bulan lalu kami tak pernah membayangkan berada di tempat ini. Lima bulan lalu kami masih berjalan di pelataran kampus sambil tertawa bersama sahabat kami atau sekedar pergi menonton bioskop. Kini kami disini, di tempat yang biasa kami sebut nowhere land.

“Mungkin emang banyak yang berubah lima bulan ini Cha. Yang jelas kayanya kita udah tua,” kata saya dan kami pun tertawa bersama. “Tapi mungkin kita enggak sadar kalau kita udah tua karena kita selama ini enggak punya pembanding, bersyukur gw Cha anak-anak yang mau KKN ini datang jadi bikin sadar kalau udah bukan waktunya lagi gw main-main, udah tua boi,” kata saya pada Acha. “Nah kalau gini nih gw galau jadinya,” balas Acha singkat dan kami tertawa bersama diantara pohon karet.

Pagi buta kemarin setelah sholat subuh saya mengantarkan mereka ke agen bus menuju Lampung karena kegiatan survey mereka sudah selesai. Kini kamar saya sepi dari tawa dan obrolan mereka. Selain berharap survey yang mereka lakukan bisa banyak membantu program KKN mereka kelak, saya juga berterimakasih kepada mereka untuk satu hal. Mengingatkan bahwa saya sudah tua.

Mereka menyadarkan saya bahwa menjadi mahasiswa adalah anugerah terindah di hidup ini. Ya sekali lagi Gie benar, mahasiswa adalah buku, pesta dan cinta. Ada kalanya kita menanggalkan itu semua ketika kita keluar dari kampus. Seperti sebuah konser, hidup paca kuliah adalah sebuah encore yang antiklimaks. Saat encore kita tahu kebahagiaan konser akan segera berakhir namun tanpa encore kita tak pernah tahu bahwa konser itu begitu berharga. Kedatangan adik kelas saya adalah encore manis buat saya yang sudah tua, sekaligus menyadarkan bahwa konser saya telah berakhir. Terimakasih untuk Astrini, Wahyu dan Okta, nikmatilah masa mahasiswa kalian, KKN adalah lonceng kencil yang mengingatkan bahwa sebentar lagi encore perkuliahan akan menyapa kalian.
Advertisements

2 thoughts on “Encore dari Adik Kelas

  1. rocky says:

    mas ardi sekarang lagi deket sama mbak gatya yah? #polos :p

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    pret rok -_____-

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: