Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Mbah Satinah bergaya ala hipster, halah.
Tak terasa hampir empat bulan saya mengajar di daerah penempatan. Banyak orang dan pengalaman baru yang saya alami. Namun dari sekian banyak itu, jika dikalkulasi ada satu orang yang paling intens berhubungan dengan saya di tempat penempatan. Orang itu tentu saja hostfam saya, Mbah Satinah.
“We, nanti kamu tinggalnya sama Mbah, dia rumahnya deket sekolah, tapi udah tua banget, keberatan enggak?” tanya Mbak Asti di seberang telepon. Mbak Asti adalah Pengajar Muda 1 yang tugasnya saya teruskan, saat itu kami intens berinteraksi via telpon untuk berdiskusi mengenai banyak hal. Salah satunya adalah dimana saya akan tinggal. Hostfam Mbak Asti yang dulu terdapat seorang anak gadis sehingga tidak etis jika saya bertempat tinggal disana. Maka Mbak Asti mencarikan saya tempat tinggal baru. Dan karena tak mau merepotkan dirinya yang sudah berjasa banyak pada saya maka saya berjanji mau ditempatkan dimana saja.
Waktu itupun tiba, saya kemudian tinggal bersama Mbah Satinah dan cucunya bernama Edi. Layaknya anak muda maka Edi sering bepergian untuk main bersama rekan-rekannya jadilah saya kerap berdua dengan Mbah di rumah. Awalnya memang aneh, sangat aneh malah. Namun empat bulan berjalan saya banyak belajar dengan Mbah. Oke jangan harap cerita ini akan berlanjut ke kisah prihatin saya terhadap Mbah dan saya meneteskan air mata dan bla bla bla, saya bukan penulis naskah “Jika Aku Menjadi”.
Di layar kaca banyak diceritakan kisah sedih soal lansia di Panti Jompo dan sejenisnya. Boleh jadi itu memang terjadi namun kita jarang mengulik sebenarnya kesedihan apa yang dirasakan oleh para lansia. Kita kemudian menjustifikasi, “Gila anaknya jahat banget ninggalin ibunya di panti jompo” atau ejekan lain, “Itu cucunya pada sableng apa ninggalin neneknya di Panti Jompo”. Cobalah berinteraksi dengan lansia maka anda akan tahu apa yang mereka inginkan.
Mbah Satinah lahir empat tahun sebelum Indonesia Merdeka. “Jaman-jaman agresi Pak Ardi,” tuturnya jika menceritakan kisahnya jaman dulu yang terus ia ulang-ulang. Kini ia berusia 71 tahun, “Sampun tuek Pak Ardi,” ujarnya sambil cengar-cengir pada saya.
Mbah, begitu saya biasa memanggilnya, dan mungkin lansia-lansia di luar sana memiliki jenis komunikasi yang aneh buat saya. Ia senang bercerita, senang sekali. Sambil menonton televisi bersama ia menceritakan kisahnya saat peperangan dulu, keinginannya naik haji atau yang paling remeh temeh menceritakan cara membuat minyak goreng dari kelapa. Ia tak menatap mata lawan bicaranya ketika bercerita mengenai sesuatu. Di setiap penggalan babak ceritanya ia biasanya menutup dengan tawa kecil.
Ia bicara dengan bahasa Jawa tanpa mencampurnya dengan Bahasa Indonesia. “Mbah isoh ngomong Bahasa Indonesia Mbah?” tanya rekan saya Acha yang sedang belajar Bahasa Jawa pada Mbah suatu ketika. “Bahasa nggeh mboten saget, mung sitok sitok isoh e (Bahasa Indonesia enggak bisa, cuma sedikit-sedikit),” jawab Mbah.
Latar belakang Mbah memang membuatnya tak dapat menggunakan Bahasa (istilahnya untuk Bahasa Indonesia) dengan baik. Saat kecil ia tinggal di Garek, sebuah daerah kecil di dekat Madiun, Jawa Timur untuk kemudian melakukan transmigrasi antar pulau ke Lampung Tengah pada 1958. Dan di tahun 80-an ia melakukan transmigrasi antar daerah di satu pulau atau dikenal dengan istilah Transmigrasi Lokal (Translok). Semua perjalanan itu ia tempuh bersama dengan komunitas orang Jawa. “Numpak truk wong akeh Pak Ardi, nganti koyo iwak tumplek blek (Naik truk dengan banyak orang Pak Ardi, sampai kaya ikan yang ditaruh di satu tempat),” cerita Mbah mengenai proses transmigrasinya dulu. Dengan latar belakang itu wajar jika ia hanya bisa menggunakan Bahasa Jawa.
Kemampuan Bahasa Indonesia Mbah yang minim tak membuatnya ragu mengajak orang lain mengobrol. Meiske dan Acha dua rekan satu penempatan saya yang tak dapat berbahasa Jawa tetap ia ajak mengobrol dengan bahasa Jawa Tak peduli apa respon lawan bicaranya Mbah biasanya tetap bercerita dengan seru. Yang penting bagi dia adalah bercerita, ia tak butuh respon lawan bicaranya.
Dari situ saya kemudian menarik kesimpulan mungkin lansia hanya butuh teman mengobrol. Ralat, ia butuh pendengar. Ketika tak ada yang mendengar kadang ia mengobrol sendiri atau terkadang mendatangi kamar saya mengajak makan atau sekedar mengajak mengobrol singkat. Jika sudah begitu saya tahu ia berarti butuh teman, saatnya mengajaknya bercanda dan merekam perkataan-perkataan lucunya.
Saya kemudian terus bertanya mengapa pendengar begitu penting bagi Mbah. Dari beberapa obrolan akhirnya saya tahu kenapa itu menjadi penting. Mbah suka dengan tayangan Tutur Tinular yang ditayangkan Indosiar saat malam hari. Namun suatu ketika ia pernah bercerita dulu ada tayangan Tutur Tinular di Radio yang lebih menarik. Ia merasa tayangan radio dahulu lebih menarik dibandingkan dengan tayangan di televisi.
Hal ini bukan tanpa alasan, televisi mulai marak hadir di desa kami tahun 2004-2005 ketika listrik sudah masuk desa. Sebelumnya Mbah bercerita lebih senang mendengar radio, artinya televisi hadir saat usia Mbah sudah 64-65 tahun, sebelumnya hidupnya ditemani oleh radio. Artinya ia terbiasa dengan komunikasi verbal ketimbang visual. Cerita, mengobrol dengan tetangga atau pertemuan seperti Yasinan membentuk budaya lisan lebih kuat ketimbang visual. Hal ini mungkin yang menyebabkan ia senang bercerita.
Untuk memenuhi kebutuhan komunikasi verbalnya Mbah Satinah sebenarnya hanya ingin memiliki teman yang bisa dia ajak mengobrol. Pun begitu dengan ribuan lansia lain mungkin. Boleh jadi anak yang mengirimkan orang tuanya ke panti jompo tak punya waktu untuk mengobrol bersama. Atau penggambaran lansia di televisi yang butuh dikasihani dan diberi beragam sembako untuk menghadirkan tetes air mata menjadi percuma. Mbah Satinah bisa dan mau makan apa aja, tak perlu makanan enak, yang ia butuhkan teman yang mau mendengarkan bukan sembako atau sumbangan lainnya.
Oke agar tulisan ini tampak sedikit menggugah perasaan mungkin kalimat penutupnya perlu sedikit ada pesan moralnya. Empat bulan bersama Mbah Satinah mengajari saya kalau kita harus belajar mendengar ketimbang berbicara. Dengan kemajuan komunikasi semua aspirasi bisa disalurkan. Kita terbiasa berbicara ketimbang mendengar di era komunikasi serba cepat ini. Namun apakah kita pernah mendengar aspirasi dan cerita dari lansia? Sempatkanlah waktu anda mendengar mereka yang butuh didengarkan, niscaya lebih menenangkan ketimbang mendengarkan gombalan penuh motivasi ala Mario Teguh.

Advertisements

One thought on “Mendengar Mbah Satinah

  1. rocky says:

    kui gayane mbah tinah,,,,,,,,,,, –“

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: