Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Kemarin saya bertemu dengan Galant, pemain bass dari DeuGalih and Folks. Jika anda belum mengenal Deugalih and Folks anda harus mencoba mendengarkan band ini. Sebuah grup folk lintas generasi dengan sentuhan bebunyian Skotlandia di dalamnya. Kami berbincang tentang keinginannya mengadakan gig di depan murid-murid Sokola, Sokola sendiri adalah sebutan unntuk sekolah dari gerakan yang diinisiasi oleh Butet Manurung. Kami juga berbincang panjang atau lebih tepatnya menggosip tentang kabar teman-teman musisi dan penulis. Selesai dengan itu, ia kemudian bertanya sebuah pertanyaan yang terlalu sering saya dengar. Ia bertanya, “Kenapa lo enggak nulis musik lagi malah jadi guru SD?”

Pertanyaan itu terlalu sering saya dengar, sangat sering sampai saya sering menjawabnya dengan nada bercanda. Namun saya tahu pada akhirnya pertanyaan ini penting untuk dijawab. Untuk menjawabnya saya ingat sebuah sore sekitar satu tahun lalu.

Sore itu saya diantar Imam menuju LIR. Shop. Saat itu saya langsung duduk (baca: mengganggu rapat) di satu meja dengan Mbak Mira (pemilik LIR), Mas Dito (Pacar Mbak Mira, salah satu penulis favorit saya), dan Risky Summerbee. Setelah membincangkan gelaran In The Woods, Dito bertanya pekerjaan apa yang saya pilih, saat itu saya harus memilih antara menjadi seorang guru atau jurnalis (televisi dan sebuah majalah). Saya tak bisa menjawab pertanyaannya saat itu. Mereka bertiga saat itu seperti ingin saya menjadi guru, entah kenapa, memang racun mereka itu.

Beberapa hari kemudian saya menyaksikan sebuah gig, saya lupa siapa headliner dalam gig itu. Mereka yang datang kebanyakan mahasiswa, beberapa teman-teman saya sendiri. Mereka datamg karena jelas paham dengan musik yang dimainkan oleh sang musisi. Mereka datang dengan pemahaman yang sangat mumpuni. Bisa dibilang kami generasi referensi. Memelintir perkataan Soekarno, kumpulkan sepuluh orang di gig ini dan tanyakan mereka beragam musik dari belahan dunia manapun saya yakin mereka bisa menjawab.

Sepulang dari situ saya menulis review konser tersebut. Jemari saya sudah terbiasa menulis liputan konser. Masih terngiang gelak tawa setelah pergelaran atau sekedar coretan-coretan kecil di setlist si artis yang main . Esoknya catatan konser itu naik di media. Dan ia dibaca oleh ratusan orang yang juga datang di gig itu, dibahas lagi dan kadang menjadi bahan becandaan.

Di titik itu saya berpikir jika jurnalisme diambil dari kata journal yang berarti catatan maka apakah saya masih seorang jurnalis? Konsep dasar journal adalah sebuah catatan untuk dibaca orang yang tidak tahu agar menjadi tahu. Mereka yang datang ke gig itu terlalu paham dengan musik untuk kemudian saya cekoki lagi. Mereka kebanjiran journal, mereka kebanjiran referensi, dan mereka teredukasi. Sampai di titik tertentu saya merasa jenuh dengan perputaran informasi seperti ini.

Dalam catatannya di Jurnalisme Sastrawi tentang pembakaran seorang pemulung bernama “Kebo” ada sebuah catatan menarik dari Linda Christanty. Saya lupa bagaimana tepatnya tulisan Linda di behind the scene cerita itu. Kurang lebih ia mengatakan, “Saya merasa seperti alien saat bertemu dengan kerabat-kerabat Kebo di Kampung. Mereka takut saya wawancara, jarak antara orang biasa dengan jurnalis begitu jauh. Apakah jurnalisme memang sudah meninggalkan masyarakatnya. Jika iya mungkin tugas setiap jurnalis kini adalah menjadi alien. Mendekati apa yang seharusnya mereka dekati.”

Ucapan Linda menjawab keraguan saya, menjawab semua gundah dalam memilih pekerjaan saya, maaf bukan pekerjaan tapi permainan, karena saya senang bermain. Mungkin sudah saatnya saya menjadi alien, ,melatih diri menjauhi apa yang selama ini sudah teredukasi. Mendekati mereka yang sama dengan keluarga Kebo tanpa melupakan latar belakang saya sebagai seorang jurnalis atau penyuka musik.

Linda benar, saat mengetik ini saya berada di Bus, jauh di Lintas Sumatera. Musik di bus mendendangkan sebuah lagu yang membuat saya ingin menendang kepala sang supir dan memberikan seluruh playlist di ipod saya kepadanya. Besok pagi saya akan mendengarkan murid-murid saya bernyanyi Indonesia Raya dengan falsnya, murid kelas tiga akan bernyanyi lebih cepat dari kelas lima. Biasanya saya hanya tersenyum saat itu terjadi.

Saya teringat kejadian sekitar setahun lalu saat duduk bersama Mbak Mira, Mas Dito dan Mas Risky di LIR. Setahun kemudian saya berada disini. Sebuah tempat dimana musik adalah sebuah luar angkasa. Mereka tak mengenal musik, jangankan membincangkan gig, Indonesia Raya saja belum tentu mereka nyanyikan dengan sebuah nada yang pas. Namun saya senang berada disini, saya merasa pekerjaan saya tak sia-sia, bukan lagi sekedar perputaram informasi dari yang teredukasi ke yang teredukasi. Saya merasa melakukan sebuah pencatatan disini, saya tetaplah seorang jurnalis yang melakukan pencatatan.

Galant, si Bassis DeuGalih and Folks hanya tersenyum ketika saya mengucapkan, “Gw bosen mas nulis musik terus dibaca sama mereka yang udah paham juga sebenernya terus gunanya pekerjaan gw apa sebenarnya?” Jawab saya sambil tertawa. Ia hanya senyum mendengarkan itu dan kami berjanji mengadakan kegiatan untuk pendidikan musik di sekolah dasar setelah saya selesai mengajar di tahun ini.

Bertemu dengan salah satu personil DeuGalih and Folks membuat saya merindukan gig di Jogja. Merindukan saat saya, Ocha, Dimpil, Hafiz, atau Mas Dito saling iseng melemparkan lawakan soal musisi indie. Atau ketika saya, Jaki dan Andrea memperebutkan setlist. Tapi saya lebih rindu mendengarkan murid saya bernyanyi Indonesia Raya dengan falsnya. Saya senang menjadi Alien seperti yang dikatakan Linda. Tanpa menjadi Alien saya takkan pernah tahu esensi jurnalisme sebenarnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: