Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Dalam perjalanan pulang dari pasar besar di daerah Lintas Timur Sumatera, saya dan Meiske, rekan satu penempatan saya, tiba-tiba membahas gaya menulis. Ya saat itu kami memang sedang random. Dia mengatakan dirinya paling tidak bisa menulis yang menyentuh perasaan atau biasa orang istilahkan dengan tulisan inspiratif. Saya juga menyatakan sependapat dengan dirinya. “Wah gw paling enggak bisa nulis tipe begituan Ci (Cici adalah panggilan akrab Meiske), mending gw suruh nulis sepuluh artikel dah,” balas saya menanggapi keluhan Cici. Kami pun kemudian menertawakan ketidakmampuan kami menulis “inspiratif”.

Sesampainya di rumah saya mulai memikirkan apa yang sebelumnya kami tertawakan, memikirkan menulis inspiratif. Lebih tepatnya apa itu inspiratif. Dan jika memang gaya menulis inspiratif itu ada, bagaimanakah wujudnya. Apakah ia harus bertipe seperti ini, “Embun pagi belum jatuh dari ujung daun tatkala murid saya datang ke sekolah. Ia datang dengan senyum khasnya dalam balutan seragam merah putih. Titik keringat di dahinya menunjukkan jarak yang begitu jauh antara rumah dengan sekolah, namun semangatnya tak pernah jatuh seperti keringat di dahinya.” Jika memang tulisan inspiratif seperti itu dengan berat hati saya bilang saya tak mau mempelajarinya, terlalu banyak bedak di dalamnya.

Saya ingat sebuah Esai Umar Kayam di bukunya berjudul Dialog. Esai itu berjudul “Yang Pantas dan Tidak Pantas”. Ia membuka esainya dengan mengatakan, “Pekerjaan paling sulit dari semua jenis nilai adalah menentukan yang pantas dan tidak pantas.” Kayam mengatakan menilai buruk atau indah lebih mudah karena didasarkan pada tangkapan mata, sifatnya konkrit. Sementara pantas dan tidak pantas tidak punya dasar yang kuat. Oleh karena itu ukuran nilai pantas dan tidak pantas terlalu longgar. Dan tentu saja semua ukuran nilai yang longgar akan dibentuk oleh media.

Pun dengan kata inspiratif. Entah sejak kapan kata ini tiba-tiba menjadi hip. “Wih pembicaranya inspiratif banget. Gila pengalamannya inspiratif banget,” kira-kira seperti itu celotehan yang sering terdengar di tahun-tahun terakhir. Tentu jikalau inspiratif adalah agama bisa jadi Mario Teguh jadi nabinya, nabi super tepatnya. Seperti ukuran “Yang Pantas dan Tidak Pantas” ala Kayam, inspiratif begitu longgar. Tentu saja kemudian kata ini jadi santapan empuk media. Yang terjadi kemudian adalah inspiratif berkorelasi dengan sedih, ungkapan puitis, jual air mata, atau teriakan kata super dimana-mana. Dan terus terang saya sebal dengan itu.

Inspiratif seperti menjadi pelarian akan sebuah masalah yang sebenarnya. Membingkai orang miskin dalam kacamata televisi yang jelas-jelas eksploitatif dibilang inspiratif, mau merubah hidup bukannya bertindak malah baca buku motivasi karena alasan inspiratif, saya takut jika ini diteruskan bahkan orang mau membuang air besar pun akan menunggu sebuah quote inspiratif. Maaf saya berlebihan. Tapi nyatanya inspiratif menjadi sebuah pelarian dari pengungkapan masalah yang sebenarnya. Ia bukan solusi.

Kritik paling kuat dalam kritik arsitektur mengatakan bahwa kritik arsitektur mulai bersifat lari dari kajian yang sebenarnya dibahas. Kritikus misalnya lebih senang mengatakan “Mengalami suasana ruang; Menghayati suasana ruang” dan beragam kalimat abstrak lainnya. Kritikus itu tak mengeluarkan alasan kenapa ruang itu “meruang” bagi dirinya. Struktur, karakteristik dan faktor lingkungan dinihilkan sekedar agar mendapat kata puitis, “Mengalami suasana ruang”. Silakan bergabung dengan Tantowi Yahya menyanyikan lagu country kalau tujuannya ingin bermanis-manis kata.

Inspiratif dan (jika memang ada) gaya tulisan inspiratif mirip dengan itu. Ukurannya sangat longgar seperti apa yang Kayam tulis tentang Pantas dan Tidak Pantas. Kedua ia juga berlindung di balik kata-kata indah tanpa sebuah dasar yang kuat. Coba ambil contoh jikalau memang peduli rakyat miskin maka tak perlulah menjual air mata di layar kaca. Tugas media bukan malaikat pencabut kemiskinan, tugas media memaparkan apa akar dari itu semua. Inspiratif kini hanya jadi balutan dari eksploitasi itu, Moron! (maaf saya kasar, kan saya tidak inspiratif).

Dan coba lihat ketika semua orang tergila-gila dengan “inspiratif”. Kontemplasi masyarakat (ah bahasa saya berat sekali) kemudian berubah menjadi kita dan mereka. Kelas menengah akan punya jurang yang sangat kuat dengan kelas bawah. Akan ada kata “kita” dan “mereka”. “Mereka” yang tentu saja merujuk pada masyarakat kelas bawah akan selalu dipandang berbeda dengan “kita” yang merujuk pada masyarakat kelas menengah. Jurang baru itu bernama Inspiratif.

Coba hilangkan kata itu, anggap semua biasa saja. Anggap sangat biasa seperti ketika anak kompleks mencari ikan kecil di selokan bersama anak kampung sebelah. Sebiasa ketika Mas Karyo berbincang dengan Sarah yang dari kelas menengah. Kita perlu membiasakan diri dan menghapuskan jurang baru bernama inspiratif. Jangan sampai di langit sana Umar Kayam menuliskan kembali sebuah esai berjudul Yang Inspiratif dan Tidak Inspiratif. Semoga tulisan ini cukup inspiratif, loh.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: