Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Halaman depan Indomaret kerap dijadikan tempat bersantai.
“Kulo ngenteni ten meriki mawon Pak, soale penak tempat e (Saya menunggu disini saja Pak, soalnya tempatnya enak),” tutur seorang guru dari kampung sebelah saat kami bertemu di depan Indomaret. Saya sedang mampir di Indomaret untuk membeli minuman ringan saat rekan saya memeriksa darah di rumah sakit. Sementara itu si Ibu Guru kampung sebelah yang saya lupa namanya sedang menanti anak sulungnya yang baru pulang dari Bandar Lampung. Saya mengajaknya ke rumah sakit daripada duduk di depan Indomaret namun dengan sopan ia menolak.
Ibu ini duduk bersama anak bungsunya di pelataran Indomaret sambil mengemil beberapa makanan ringan dan minuman kemasan rasa jeruk. Tak jauh dari situ seorang ibu juga sedang melakukan hal sama dengan anaknya. Ia membeli beberapa kacang dan sebuah teh kemasan untuk dinikmati bersama anaknya. Pemandangan yang mirip dengan yang terjadi di pelataran depan Circle K di kota-kota besar. Bedanya tak ada botol bir maupun bungkus rokok, berganti dengan makanan ringan dan air minum kemasan.
Indomaret ini sendiri berada di Jalan Etanol. Sebuah jalan penghubung menuju Unit 2, salah satu pusat perekonomian di daerah Tulang Bawang Barat. Minimarket ini tumbuh sejak tiga tahun lalu. Sekitar tiga ratus meter dari tempat ini juga terdapat Alfamart. Bukan tanpa alasan dua minimarket ini membuka gerainya di kawasan Unit 2, kawasan ini dekat dengan pasar tradisional, pul-pul bus antar kota dan tempat persinggahan bagi kendaraan dari Lampung ke arah Palembang. “Lumayan rame lah Mas, banyak yang seneng kesini, lebih gampang belanja katanya,” tutur seorang pelayan Indomaret saat saya tanya pertumbuhan gerai ini.
Apa yang dikatakan pelayan tersebut bukan isapan jempol belaka. Pada bulan Januari lalu Indomaret membuka kembali gerainya di daerah Traya, ini merupakan jalan satelit menuju ke Unit 6, pusat ekonomi lain di dekat Unit 2. Tak ketinggalan, kompetitor utama Indomaret yakni Alfamart juga membuka gerai barunya di Satuan Pemukiman (SP) 1. SP 1 sendiri bisa dibilang pusat ekonomi nomor satu diantara Satuan Pemukiman lain, wajar jika kemudian mereka memilih kawasan ini sebagai tempat ekspansi bisnis baru.
Saat peluncuran Indomaret di SP1, Ibu Ana, seorang guru kelas 3 di sekolah, mengajak saya untuk menonton, ia mengatakan banyak acara yang akan diadakan. Sayang saya tak bisa menyanggupi ajakannya karena ada kegiatan lain yang harus saya lakukan. Seminggu kemudian saya bermain ke kediaman Ibu Ana sekedar untuk bersilaturahmi. “Ayo Satria, melu karo Pak Ardi, mengko dijak neng Indomaret (Ayo Satria, ikut sama Pak Ardi, nanti diajak ke Indomaret),” canda Bu Ana pada anaknya yang berusia empat tahun. Ia kemudian menceritakan Satria menangis saat hendak meninggalkan Indomaret.
Menongkrong di depan Indomaret dengan beragam camilan.
Cerita lain datang dari Keluarga Pak Imam yang tinggal di Hutan Tanaman Industri (HTI) sebuah daerah paling ujung di daerah Tulang Bawang Barat. Istri Pak Imam senang berbelanja di Indomaret yang letaknya di Traya. Padahal jarak antara HTI dan Traya bisa dibilang cukup jauh. “Kalau nyari apa-apa gampang, sekalian ajak main Difa juga,” tuturnya sembari menunjuk ke anak sulungnya yang kini duduk di kelas tiga.
Kebanyakan orang mungkin kaget dengan hadirnya Indomaret sampai ke daerah di luar perkotaan. Nyatanya hal ini sangat wajar terjadi, dalam situs resminya Indomaret menulis memiliki 5000 gerai yang tersebar di beragam daerah negeri ini. Sebuah jumlah yang tak bisa dibilang sedikit.
Saya senang mengamati kebiasaan masyarakat disini saat berbelanja di Indomaret. Bagaimana mereka senang nongkrong di depan Indomaret. Juga cara mereka berbelanja yakni dengan melihat semua jenis produk untuk kemudian menentukan akan membeli produk tertentu. Masyarakat disini juga jarang sekali terlihat pergi ke Indomaret sendirian. Yang paling sering terlihat adalah seorang ibu dengan membawa anaknya. Sang Ibu membeli produk kebutuhan sehari-hari dan sang anak diberi bonus konsumsi berupa chiki, coklat maupun air minum kemasan.
Lain waktu saat pertama kali mengunjungi Indomaret SP 1 untuk pertama kalinya saya menemui beberapa pasang sandal di depan pintu masuk gerai ini. Ternyata sandal itu milik beberapa orang yang sedang berbelanja. Lantai Indomaret yang berasal dari keramik membuat mereka mencopot sandal. Kebiasaan disini memang seperti itu, lantai keramik berarti haram hukumnya diinjak sandal. Indomaret harus beradaptasi dengan kebiasaan itu. Untunglah setelah beberapa lama saya tak pernah lagi melihat sandal berserakan di depan pintu.
Oke jika saya lanjutkan cerita-cerita di atas boleh jadi anda akan mengutuk saya dengan mengatakan seorang orientalis. Saya hanya senang mengamati kejadian-kejadian itu dan terus berpikir mengapa Indomaret menjadi begitu hip di daerah ini. Dan mengapa Indomaret (sebagai institusi bisnis) tanggap dengan hal itu.
Dalam sebuah kajian antropologi visual seorang mentor saya pernah mengatakan dengan sedikit iseng bahwa etalase adalah penemuan terbaik di abad 21. Ia mengatakan fungsi etalase bukan lagi sekedar sebagai pajangan beberapa barang, lebih dari itu barang ini membuat jarak tertentu antara orang dengan sebuah produk. Apalagi sebuah etalase kaca yang transparan.
Pada akhirnya etalase membuat seseorang ingin memiliki produk yang dipajang disana. Ada unsur ingin menguasai. Sesuatu yang berjarak dengan kita biasanya akan lebih membuat kita penasaran. Kita ingin menguasai produk tersebut bukan berdasarkan nilai guna melainkan karena ada unsur ingin menguasai produk yang berjarak tersebut. Dan ketika kita menguasainya maka hadiahnya adalah perasaan puas yang tak terhingga. Kepuasaan yang sebenarnya semu.
Suasana antrian di kasir Alfamart di SP 1.
Istilah etalase ini juga pernah digunakan Ahmad Yunus dalam catatannya mengenai Pulau Sebatik sebagai Pulau terdepan di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Ia menuliskan “Pulau Sebatik adalah etalase Indonesia di wilayah perbatasan. Namun bukan etalase seperti Plaza Indonesia di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Mall yang wangi, lantainya bersih, dan gemerlap itu. Sebatik adalah etalase yang terlupakan atau mungkin sengaja dilupakan? Entahlah,” tulis Yunus dalam Meraba Indonesia. Artinya etalase menghadirkan keasingan bagi yang melihat. Yunus menggunakan ungkapan itu untuk melihat Pulau Sebatik sebagai Pulau Terdepan.
Gerai Indomaret maupun Alfamart dipenuhi dengan etalase. Denyut nadi Indomaret adalah etalase tersebut. Etalase kemudian menciptakan komunikasi tak langsung antara produk dengan si calon pembeli. Orang merasa nyaman dan dimudahkan dengan pilihan yang beraneka ragam. Bukankah orang-orang yang ke Indomaret jarang datang dengan sebuah catatan belanjaan? Karena mereka ingin menikmati keterpukauan mereka atas produk yang dihadirkan.
Lantas pertanyaannya kemudian adalah mengapa Indomaret bisa menjadi sebuah “tujuan” di kawasan terpencil seperti ini. Maksud “tujuan” disini adalah, tempat ini menjadi tujuan utama dalam sebuah perjalanan. “Mengajak main Difa,” seperti kata Ibu Imam. “Diajak ke Indomaret,” yang dikatakan Ibu Ana. Semua itu merujuk pada kenyataan bhawa Indomaret adalah sebuah tujuan bukan sebuah “halte” untuk mengunjungi tempat lain.
Seorang Ibu dan anaknya memilih produk di Alfamart.
Coba bandingkan dengan mahasiswa kota besar yang pergi ke Indomaret. Mereka mendatangi gerai tersebut untuk menjadikannya sebagai halte. Indomaret adalah tempat mampir untuk menuju tempat tujuan utama. Kita menganggapnya sebagai halte. Mau ke tempat Adi maka mampir dulu ke Indomaret untuk beli makanan ringan dan air minum kemasan misalnya. Kita tak meniatkan Indomaret sebagai tujuan.
Saya ingat Phoenix Hotel Jogja pernah menawarkan sebuah perjalanan menarik. Mereka menawarkan sebuah kelas masak dengan trip khusus mengunjungi pasar tradisional. Saya pernah mengikuti kegiatan ini dengan beberapa orang turis. Para pelancong asing itu mengikuti kegiatan ini karena penasaran dengan pasar tradisional mereka tempatkan sebagai tujuan. Mereka “ingin” pergi ke pasar tradisional.
National Geographic Traveler dalam edisi ulang tahun Jakarta juga pernah melakukan hal serupa. Mereka mengajak beberapa orang asing mengunjungi pasar-pasar tradisional di Jakarta dari mulai Pasar Subuh yang menjajakan kue di bilangan Senen sampai Pasar Tanah Abang. Tujuan mereka ingin mendapat gambaran bagaimana warga asing memandang pasar tradisional sebagai nyawa Jakarta di jaman yang lalu. Sekali lagi Pasar Tradisional menjadi sebuah tujuan.
Indomaret berhasil menjadikan gerainya sebagai sebuah tujuan. Ia menjadi tujuan bukan karena ia menyediakan etalase yang rapi atau beragam macam produk. Jika itu terjadi lantas mengapa banyak orang asing yang menjadikan pasar tradisional sebagai sebuah tujuan. Yang membuat sesuatu menjadi tujuan agaknya adalah keterkejutan akan kehadiran sesuatu.
Pasar tradisional bukan tempat luar biasa di daerah ini. Pasar tradisional selalu ada di setiap Satuan Pemukiman (SP) di tiap kampung-kampung transmigrasi. Namun Indomaret tak selamanya ada. Ditambah nilai plus bahwa ia memiliki etalase (tak hanya dalam konteks fisik) beragam produk yang membuat orang ingin menguasai produk tersebut.
Artinya Indomaret menjadi sebuah tujuan karena ia menghadirkan sebuah keterpukauan. Ia hadir sebagai sebuah anomali tempat belanja di daerah ini. Etalase adalah usnur pendukung utama hal tersebut. Masyarakat disini tak terbiasa dengan etalase. Beberapa toko di pasar Satuan Pemukiman (SP) 2 memang sudah menggunakan etalase untuk memajang produk. Namun ia tak menghasilkan keterpukauan karena masyarakat masih mengenalinya sebagai pasar.
Indomaret melalui tagline “Mudah dan Hemat” menghadirkan sebuah keterpukauan tersebut. Mudah karena susunan produk yang rapi dan tak perlu berdesak-desakan layaknya di Pasar. Hemat karena memang harga di Indomaret lebih murah daripada di warung-warung biasa. Sebuah biskuit produk Roma di Indomaret misalnya dijual dengan harga Rp 6000,- sementara itu di warung biasa dijual Rp 7000,-.
Seorang anak mencopot sandal saat masuk ke Indomaret.
Indomaret dan minimarket sejenis seperti Alfamart misalnya adalah sebuah destinasi di tempat-tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Gerai ini hadir sebagai sebuah “pertunjukan” bukan sekedar tempat berbelanja. Orang-orang disini pergi ke Indomaret untuk merasakan sebuah pengalaman destinasi. Merasakan sebuah pengalaman seperti ketika kita pergi ke Dufan atau menonton The Raid. Sebuah pengalaman utuh untuk dibagi ke rekan sejawat. Mereka tak sekedar berbelanja.
Banyak orang yang (dalam pandangan saya) tak sadar akan apa yang dihadirkan Indomaret di daerah pedesaan. Lantas mengutuk dengan mengatakan bahwa Indomaret tak sepantasnya masuk ke desa karena merusak usaha kecil seperti warung klontong dan sejenisnya. Tentu cara pandang ini juga ada benarnya dalam kacamata pertumbuhan ekonomi kelas bawah. Namun pandangan ini juga menutup mata pada bagaimana masyarakat desa membutuhkan hiburan.
Bukankah setiap orang perlu penghiburan. Pasar malam ramai karena masyarakat desa tak punya banyak hiburan. Mengapa Pasar Malam tak diprotes layaknya Indomaret? Oke maaf itu pertanyaan banal. Keduanya sama-sama menjadikan dirinya sebagai destinasi kebahagaian. Bedanya yang satu lewat pengalaman bermain sedangkan yang satu lagi lewat pengalaman berbelanja.
Indomaret justru menjadi tempat berkaca bagi kita bagaimana kota adalah sebuah impian yang sulit di genggam. Pengalaman serasa diantara “etalase” pusat perbelanjaan kota menghadirkan sebuah keterpukauan bagi masyarakat disini. Sebuah keterpukauan yang juga tanda akan abainya kita dalam pembangunan dunia hiburan di desa.
Ibu Guru dari kampung sebelah itu menyuapi kacang untuk anaknya. Setelah mengunyah kacang sang anak meneguk air kemasan rasa jeruk. Mimik sang anak nampak sangat senang. Mereka menatap ke arah datangnya bus antar kota untuk mengetahui apakah kakaknya yang menuntut ilmu di Bandar Lampung sudah datang. Kakaknya yang sedang berjuang menjadi bidan, calon tulang punggung keluarganya. Mereka menanti masa depan mereka di pelataran tempat ini. Di atas pelataran itu sebuah tulisan berdiri tegak, Indomaret.
Advertisements

2 thoughts on “Destinasi Bernama Indomaret

  1. rocky says:

    sebagai sebuah convenience store sudah semestinya indomaret dkk menjadi alat untuk “menyenangkan” hidup, semacam eskapisme keseharian jg sih 😀

    Like

  2. bebe says:

    Indomaret adalah ancer ancer ke KPY….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: