Sidekick

Urip mung mampir ngejus

(Kritik Terbuka Untuk Mata Kuliah Fotografi)

Saya ingat Ed Zoelverdi dalam bukunya yang berjudul “Mat Kodak Melihat dengan Sejuta Mata” membuat sebuah perumpamaan yang menarik. “Surat Kabar di negeri kita dewasa ini tidak lagi membiarkan wajahnya gundul bagai lapangan bola,” tulisnya. Catatan ini kemudian dimuat kembali dalam artikel “Mat Kodak Tidak Asal Jepret” dalam buku Cerita di Balik Dapur Tempo. 

Ed mengungkapkan hal tersebut untuk merespon perkembangan media massa yang mulai sadar akan arti penting kehadiran foto. Perumpamaannya dengan lapangan bola begitu konyol tapi menarik. Coba bayangkan misalnya sebuah koran tanpa ada foto di dalamnya maka rasanya begitu hambar. Kosong dan datar seperti sebuah lapangan bola. Namun apakah kemudian fungsi foto hanya sebagai gimmick agar “lapangan bola” tersebut terlihat berisi? Mat Kodak tidak sebodoh itu.
Editor foto pertama di Majalah Tempo ini melanjutkan kalimatnya dengan menulis, “Dibandingkan sektor tulis menulis, pengelolaan sektor foto belum dilakukan sepenuh hati dan dengan pengertian yang jelas,” tambahnya. Artinya sejak awal kehadiran foto di media Ed sudah mewanti-wanti agar foto tak sekedar dipandang sebagai sebuah penghias semata. Ada yang lebih dalam dari tampilnya sebuah foto di media.
Tulisan Ed seketika mampir di kepala saya tatkala beberapa hari lalu saya membaca sebuah tulisan adik kelas saya, Saila (bisa dibaca di sini). Di situ Saila menuliskan kritik atau lebih tepat dikatakan unek-uneknya mengenai pengajaran mata kuliah fotografi di jurusan Komunikasi UGM. Sebuah unek-unek yang mungkin juga keluar dari banyak mahasiswa yang pernah atau sedang mengikuti mata kuliah itu. Artikel itu bagi saya penting untuk dicermati, ketika sebuah institusi pendidikan menutup mata pada apa yang diinginkan oleh mahasiswanya, apa bedanya dengan Rizieq (tanpa embel-embel Habib) yang merasa tahu segalanya.
Saya setuju terhadap kritik yang dilontarkan Saila. Ia menganggap bahwa mata kuliah fotografi begitu kering dan abai terhadap konteks. Juga ia menyikapi absennya pengajaran kritik foto yang penting bagi perkembangan mahasiswa yang mengikuti kuliah itu sendiri. Saya sepenuhnya setuju dengan apa yang dikatakan adik kelas saya tersebut. Yang ingin saya tambahkan adalah mengapa keluhan itu menjadi penting untuk didengarkan.
Pengajaran fotografi di Komunikasi UGM terdapat dalam sebuah mata kuliah Fotografi (nama yang dipakai pada jaman saya kuliah). Sepengetahuan saya namanya kemudian berubah menjadi fotografi jurnalistik. Pengajaran fotografi di sini biasanya diawali dengan pengajaran teknik dasar, hubungan segitiga antara diafragma, ISO, dan kecepatan rana. Juga mengenai pencahayaan dan komposisi untuk kemudian ditutup dengan esai foto.
Buat saya (dan mungkin Saila) ada sebuah kajian yang dilupakan padahal vital. Kita tak pernah diberi sebuah pengertian yang menyeluruh mengenai fotografi itu sendiri. Hal ini misalnya terlihat dari absennya pengajaran mengenai kritik foto pada mata kuliah ini. Absennya hal ini bukan hanya membuat fotografi dimaknai sebagai sebuah dunia praktis saja. Yang lebih memprihantikan absennya kajian ini membuat mahasiswa tak paham dengan konteks mengapa foto penting dalam sebuah kajian media. Dalam buku “Pot Pouri Fotografi”, Soeprapto Soedjono mengatakan bahwa kritik foto adalah elemen ketiga yang penting dalam pengajaran fotografi. Artinya pengajaran fotografi tanpa menyertakan hal ini hanya akan jadi arena membentuk kuli yang menggotong kamera kemana-mana.
Mungkin sebagian orang akan berpikir saya dan Saila terlalu naif. Lalu mengatakan bahwa di lapangan yang diperlukan adalah teknis semata. Saya tak bisa menjawab hal ini. Saya hanya akan mengutip apa yang selalu dikatakan Kartono Riyadi. Fotografer legendaris Kompas ini mengatakan, “Kalau memotret pakailah otakmu!” Istilah memakai otak berarti mencakup penguasaan teknis dan tahu konteks apa yang akan dipotret. Miris rasanya ketika sebuah mata kuliah di jurusan komunikasi tak memperhatikan hal yang mulai dirisaukan Mat Kodak dan Kartono Riyadi puluhan tahun lalu.
Abainya pengajaran kritik foto dan pemahaman yang lebih menyeluruh pada fotografi sejatinya membuat McLuhan menangis tersedu sambil mengunggah fotonya di instagram. Seperti idiom dari McLuhan yang pasti semua anak komunikasi pernah mendengar “Medium is the message”, maka pengajaran fotografi harus menyadari medium foto itu sendiri. Diungkapkan Jakob Oetama di biografi Kartono Riyadi bahwa kerja wartawan tulis dan foto identik. Pemahaman mengenai medium masing-masing menjadi penting.
Fotografi sebagai sebuah medium penyampai pesan (apalagi jika kemudian berubah namanya menjadi mata kuliah fotografi jurnalistik) harus mencoba menengok apa yang dikatakan John C Merill mengenai produksi makna. Merill melukiskan sosok wartawan sebagai “yang berpikir dan merasa, yang rasional sekaligus sensitif, yang berdedikasi kepada dunia objektif di luar “sana” dan kepada dunia subjektif di dalam “sini”. Artinya dari situ jelas bahwa konteks berdiri dan kritik fotografi penting untuk diperhatikan. Pemahaman akan medium foto dan tulisan sebagai penyampai pesan harus dipahami secara menyeluruh.
Ini misalnya terjawantahkan pada Workshop Foto Jurnalistik garapan Antara di mana pewarta foto juga dididik untuk menulis laporan jurnalistik. Hal itu sebenarnya agar logika produksi makna yang dikatakan Merill menjadi nyata. Sehingga foto yang dihasilkan adalah sebuah penyampai pesan yang punya alasan atau setidaknya pesan jurnalistik yang jelas.
Sayangnya hal itu nampaknya belum disadari betul dalam pengajaran mata kuliah fotografi di Komunikasi UGM. Miris meihat hal ini. Apalagi ditambah kenyataan bahwa media kini begitu pesat perkembangannya. Kecepatan perkembangan media yang tentu saja tak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia visual. Ketika sebuah institusi pendidikan penyuplai “orang media” masih gagap dalam pengajaran medium penyampai pesan secara visual maka tak heran jika media kita berhenti di tengah jalan. Sudah saatnya kita semua memikirkan nasib mata kuliah fotografi. Jika terus begini saya yakin seperti kata Mat Kodak, kajian ini hanya menjadi lapangan bola. Tepatnya lapangan bola yang gersang.
Advertisements

One thought on “Lapangan Bola Yang Gersang

  1. rocky says:

    Tulisan iki kirim nang kepel news wae w, sayang nek ming mandek dadi arsip grundelan wae, sopo reti bijine brubah dadi A, ealaahh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: