Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Satu-satunya hal yang tidak saya setujui dari Avianti Armand adalah pendapatnya soal hati. Arsitek cum penulis ini punya pendapat yang menurut saya kurang tepat soal hati manusia. Ia pernah menulis, saya lupa kalimat tepatnya seperti apa, “Hikmah dari hati yang kosong adalah ia dapat diisi kembali”. Saya sama sekali tak setuju dengan hal itu.
Hati bukan sebuah gelas yang dapat diisi ulang begitu saja. Tak ada ukuran sok filosofis setengah kosong atau setengah isi di hati. Untuk hati pilihannya hanya dua, terisi penuh atau kosong sama sekali. Mengisi ulang memang bisa dilakukan namun ia bukan sebuah hikmah dari kekosongan melainkan hal yang sangat berbeda.
Saat memberanikan diri ikut menulis “Destinasi Terbaik Untuk Move On” saya langsung teringat dengan tulisan Avianti tersebut. Belajar dari pengalaman dan kesalahan yang pernah saya lakukan, “move on” bukan sebuah proses mengisi ulang sebuah hati. Ia adalah proses mengosongkan hati. Jelasnya mengosongkan sampai hampa. Maka destinasi terbaik untuk move on adalah tempat yang dapat mengosongkan hati sampai hampa. Sampai kita merasa so called cinta adalah sebuah tai kucing garapan sutradara kacangan.
Namun hal ini jelas sulit dilakukan, sebab melancong atau bepergian sejatinya adalah untuk menambah pengalaman hidup. Menambah pengalaman sifatnya mengisi sementara untuk move on dibutuhkan sebuah usaha mengurangi, jelas tak mungkin menyambungkan kedua hal ini. Bagi saya mungkin saja. Sayangnya hanya satu tempat yang bisa melakukan itu.
Hifatlobrain (blog perjalanan yang aduhai) sebenarnya meminta setiap orang menuliskan dua tempat destinasi untuk move on. Maaf sekali saya hanya bisa menuliskan satu tempat. Karena hanya tempat itulah yang bisa mengosongkan hati sampai sangat kering. Bukan hanya tak lagi mengenal cinta, tapi anda bisa malas hidup dibuatnya.
Satu-satunya destinasi terbaik untuk move on bagi saya adalah kuburan. Bukan kuburan sembarangan, ada satu kuburan yang membuat saya berjanji akan kembali ke sana lagi bersama istri saya kelak, entah siapa. Kuburan atau lebih tepat disebut pemakaman itu bernama Labuan War Cemetery.
***
Sebuah salib terukir rapi di papan nisan atas nama B. Dowie. Dalam keterangan di nisan itu dapat diketahui Bowie meninggal pada 15 Desember 1945. Umurnya ketika meninggal masih sangat muda, 21 tahun. Entah atas alasan apa ia ikut berperang yang jelas ia menemui keabadian di usia yang begitu belia. Di bawah papan nisan tersebut tertulis, “Some Day We Will Understand”. Saya dibuat penasaran dengan maksud tulisan tersebut, mungkin saya belum sampai pada masa “some day” sehingga belum mengerti maksudnya.
Saya melihat papan nisan Bowie tepat sekitar dua bulan setelah saya putus. Masa yang sangat sulit dan begitu labil bagi saya. Meski sempat dalam istilah Avianti ada yang mengisi namun saya belum benar-benar mengosongkan hati saya. Labil dan kuburan adalah perpaduan paling pas untuk bunuh diri. Untungnya seperti kata Brilliant at Breakfast, “Nobody ever died of a broken heart” tentu saya tak bunuh diri karena dua hal itu.
Nisan B.Dowie, “Some Day We Will Understand”.
Nisan B.Dowie adalah satu dari 3908 papan nisan di Labuan War Cemetery atau oleh orang lokal disebut Tanah Pekuburan Perang Labuan. Pekuburan ini terletak di Pulau Labuan, sebuah pulau kecil yang berada dalam teritori Malaysia Timur. Pulau ini sebenarnya merupakan gugusan beberapa pulau yang terletak diantara Brunei, Sarawak (Malaysia) dan Kalimantan. Andai tak memiliki situs diving yang terkenal boleh jadi pulau ini dilupakan begitu saja.
Awalnya saya bersama tiga orang teman hanya iseng pergi ke Pulau Labuan. Lantas perjalanan membawa kami ke pemakaman ini. Sebuah pemakaman efek dari Perang Dunia II. Saat itu Jepang ingin menguasai Kalimantan, namun kawasan ini sedang dikuasai Inggris. Konflik kepentingan ini menyebabkan peperangan pasukan perserikatan Inggris dengan Jepang. Peperangan ini dikenal dengan “Battle of Borneo” yang terjadi pada 1941-1942. Labuan War Cemetery berisi korban perang dari pihak persemakmuran Inggris pada perang tersebut.
Mendatangi pemakaman ini pada saat sakit hati adalah keputusan tepat buat saya. Manusia suka membandingkan, maka perbandingan paling mudah yang terjadi adalah, “Saya hanya sakit hati, sementara mereka sudah mati?”. Tentu saja saya berhasil melakukan sebuah pelemparan penderitaan pada orang yang sudah meninggal. Bukankah sakit hati hanya kalah sakit dengan mati?
Peziarah asal Inggris mencari nisan kerabatnya.
Namun tak semua pemakaman saya yakin bisa melakukan itu. Pemakaman ini dapat sedikit menyembuhkan patah hati karena disusun dengan sebuah kesadaran akan nilai kemanusiaan. Nilai-nilai yang jika kita perhatikan jauh lebih esensial ketimbang hubungan pria dan wanita lalu berakhir putus cinta.
Tanah Pekuburan Perang Labuan berisi tentara persemakmuran Inggris yakni tentara Malaysia, India, Australia, Brunei dan Inggris sendiri. Papan nisan di pemakaman ini disusun seperti barisan tentara dengan pusatnya sebuah menara dan bendera Inggris. Di bawah bendera dan menara tersebut terdapat tiga papan nisan yang berpangkat paling tinggi. Merekalah pemimpin pasukan. Semua pasukan menghadap pada nisan ini, mereka jenderal di dunia sampai akhirat para tentara yang gugur di medan perang.
Saya hampir tak percaya ketika pada akhirnya menemui beberapa kuburan yang tak menghadap pemimpin mereka. Nama-nama India tertera pada papan nisan ini. Tulisan Arab menghiasi papan nisan mereka, ya mereka Muslim. Saya kemudian bertanya-tanya apa yang menyebabkan papan nisan ini tak menghadap pada pemimpin mereka, pada jenderal mereka. Jawabnya satu, nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi.
Nisan-nisan tentara Muslim India ini ternyata disengaja tidak menghadap sang jenderal sebab mereka menghadap sang “Maha Jendral”. Kuburan mereka menghadap sesuai dengan ketentuan Islam dalam pemakaman. Sebuah institusi militer yang angkuh pada akhirnya menyerah pada Tuhan. Pada nilai yang dipegang sang tentara Muslim tersebut. Seperti sebuah pengingat hanya pada Tuhan kita akan kembali.
Nisan tentara India
Mata saya kemudian mulai menyadari bahwa di pemakaman ini juga terdapat sebuah harmoni kecil yang menarik. Salib bersatu dengan tulisan Arab dan dihiasi dengan lambang Israel. Sebuah toleransi yang begitu cantik. Di hadapan Tuhan semua sama. Pada akhirnya kita akan menyatu dengan tanah. Di titik itu saya sadar banyak masalah yang lebih berat dari sekedar putus cinta, dari sekedar relasi pria dan wanita.
Saat sedang asyik mengamati nilai toleransi itu. Seorang peziarah asal Inggris tiba-tiba mendatangi saya, ia meminta saya ikut mencari nisan kerabatnya. Dengan payung hitam untuk melindungi diri dari panas ia meneliti satu demi satu papan nisan. Mencari papan nisan untuk sekedar tersenyum ketika menemukan orang yang dicintainya. Teduh rasanya melihat kasih sayang dapat terus mengalir walau terpisah secara fisik dan waktu.
Saya kemudian kembali melangkahkan kaki ke nisan B.Dowie. Membayangkan ketika usia 21 tahun ia sudah kehilangan semua cintanya. Sementara saya yang menatap, si manusia berusia 23 tahun merasa menyerah begitu saja karena hal kecil. Tak beberapa lama saya menekuk lutut saya untuk duduk lebih lama di samping nisan tersebut. Duduk di samping orang yang tak pernah saya kenal namun terasa begitu dekat.
Sambil sedikit merenung saya membaca kembali tulisan di bawah namanya “Some Day We Will Understand”. Malam ini setahun setelah saya tak lagi bersama orang yang saya sayangi saya baru paham maksud tulisan itu. Di titik ini saya sadar hikmah dari hati yang kosong bukan membiarkan hati itu kering. Hikmah dari hati yang kosong adalah menyadari bahwa ada banyak orang di masyarakat yang merindukan kasih sayang dari hati kita, tak hanya seorang kekasih. Sayangnya butuh waktu lama untuk menyadari itu. Menyadari apa yang dikatakan nisan Bowie, “Some Day we will understand”.
*proyek Destinasi Terbaik Move On digagas oleh Hifatlobrain. Kontributor tema ini antara lain Nuran Wibisono, Arman Dhani, Maharsi Wahyu, Farchan Noor Rahman, dan beberapa penulis lain. 
Advertisements

3 thoughts on “Some Day We Will Understand

  1. rocky says:

    Asem aq lagi moco iki, terasa “matang” tulisane hehe
    Dadi panitia ospek arsitek wae w ;p

    Like

  2. Anonim says:

    Thank you for sharing, Awe…
    Right post in the right time for me.
    Yeah, some day I will understand. 🙂

    *by: cah move on newbie yg suka chiki dan mau traveling tapi ga ada uang*
    😉

    Like

  3. Ardi Wilda says:

    @rocky: matang mergo tau digoreng, halah
    @anonim: menurut kabar burung sepertinya anonim ini dik intan metal chiki, salam chiki di udara

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: