Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Cover buku Risa Mickenberg yang legendaris.

Salah satu perkataan yang saya ingat dari ibu saya adalah soal pilihan berkendara. Ia pernah mengatakan, “Kalau kesasar cari jurusan Blok M, Kampung Melayu. Kalau masih bingung cari Taksi,” ujarnya pada saya yang saat itu menginjak usia belasan. Taksi seperti sebuah dewa penolong akan ketersesatan dan kebuntuan. Pilihan yang begitu instan ala kelas menengah. Nyatanya saya mengamini apa yang dikatakan ibu saya.
Ketika bingung harus naik apa dari toko buku di daerah Kemang atau ketika malas naik Metro Mini dari kawasan Cikini saya menyetop taksi. Membuka pintunya lalu mengucapkan alamat rumah saya. Saya pun langsung diantar, tanpa perlu berdesakan dan menunggu lama ala antrian halte Bus Trans Jakarta Dukuh Atas misalnya.
“Saya seneng mas kalau ada yang ngajak ngobrol,” ujar seorang supir taksi berwarna biru saat saya pulang dari daerah Cikini. Ia kemudian menceritakan tingkah polah pengguna taksinya. Ada yang diam seribu bahasa, ada yang rendah hati duduk di depan, ada yang langsung bilang tak usah diajak ngobrol. Hal itu menyadarkan saya, taksi boleh jadi kendaraan paling menarik di Jakarta.
Di tabung kecil itu dua orang yang sama sekali tak kenal harus berinteraksi. Sang supir dan penumpang tak tahu apa yang akan terjadi, perbincangan atau jalan apa yang akan dilalui ketika pintu terbuka dan argometer berjalan. Taksi khususnya di Jakarta bisa jadi cermin kecil bagaimana pertemuan orang yang tak saling mengenal dalam sebuah ruang. Jok supir dan penumpang hanya berjarak tak sampai satu meter namun jarak keduanya bisa jadi amat “asing”.
Saya kemudian menemukan buku “Taxi Driver Wisdom” karangan Risa Mickenberg di Aksara. Layaknya mahasiswa kere saya pun membaca habis buku itu di sana, harganya yang mahal membuat saya hanya gigit jari ingin memilikinya. Kalau boleh jujur ide Risa sangat orisinil, buku hitam kecil itu merangkum perkataan supir taksi di New York yang pernah ia tumpangi. Bukan tanpa alasan ia memilih New York.
Sebagai sebuah melting pot beragam ras di dunia maka supir taksi di New York pun berasal dari mulai Tibet, Bangladesh, India, Vietnam sampai Peru. Tentu saja ragam ras tersebut memiliki efek pada beragamnya pemikiran sang supir taksi. Dan menurut saya membaca buku ini seperti membaca sebuah taksi-isme yang sangat menarik. Bahkan salah satu review di amazon menulis buku ini dengan, Hail a taxi cab, open the door to a burst of easy listening music, breathe in the poppy air freshener, lean over the seat, and say hello to the next Jean Paul Sartre or Kahlil Gibran.” Saya setuju seratus persen dengan hal itu.

Belum lama ini ketika mengutak-atik twitter saya menemukan sebuah akun yang saya kira milik Risa Mickenberg. Avatar akun itu bergambar cover buku Risa dengan tulisan “Taxi Driver Wisdom” yang sangat ikonik. Ternyata akun tersebut bernama @SupirTaksiJkt. Penasaran dengan akun ini saya membaca linimasa akun ini dan saya tahu ini semacam Risa Mickenberg dengan konteks Jakarta, keren.

Menurut saya apa yang dilakukan akun ini menarik. Jika menilik jumlah taksi di Jakarta (data tahun 2007) mencapai 16.045 unit dari 44 perusahaan taksi yang beroperasi. Jelas itu bukan angka yang kecil. Belum lagi bila kita ingat di kurun waktu 2007-2012 ada beberapa perusahaan taksi baru beroperasi yang jelas menambah jumlah unit taksi di Jakarta.

Namun fenomena ini seperti menjadi angin lalu. Di ranah budaya populer misalnya, sedikit sekali kiah mengenai supir taksi yang digarap secara serius hanya Taksi (Arifin C. Noer, 1990) dengan tokoh Rano Karno. Yang terbaru misalnya Full Moon (Sidi Saleh) dalam kompilasi Belkibolang (Terimakasih Mas Adrian sudah mengingatkan). Di luar itu tema taksi sepertinya digarap serampangan semisal dalam FTV yang selalu jatuh pada cerita klise jatuh cinta antara supir taksi dengan penumpang misalnya. Padahal taksi adalah sebuah tema yang begitu kaya untuk digali.

Hadirnya @SupirTaksiJkt di twitter menurut saya membawa angin segar. Kicauannya yang sederhana kadang nyeleneh namun puitis membuat saya membayangkan Risa sedang bermain-main di taksi Jakarta. Untuk itu saya tertarik membuat sebuah obrolan ala Risa.

Saya mencontek konsep Twitalk (melakukan wawancara di twitter) dimana kita bisa melayangkan pertanyaan untuk akun @SupirTaksiJkt. Tadinya saya hanya ingin bertanya dari sudut pandang saya sendiri. Namun setiap orang tentu punya pengalaman personal dengan taksi yang pastinya menarik. Menghimpun pertanyaan dari beragam orang menjadi sangat menarik bagi saya, akan ada beragam perspektif soal taksi yang hadir lewat perbincangan ini. Untuk itu saya mengajak setiap orang untuk terlibat dalam diskusi ini.

Anda saya ajak bertanya apa saja seputar taksi dengan memention akun saya (@ardiwilda) dengan menyertakan tagar #SupirTaksiJkt. Semua pertanyaan saya tunggu sampai 15 Juni 2012. Mengapa sampai tanggal 15 Juni 2012? Ada sedikit gimmick yang menarik menurut saya.

Semua pertanyaan yang terkumpul sampai 15 Juni 2012 akan saya tanyakan kembali pada akun @SupirTaksiJkt pada 16 Juni 2012 untuk ia jawab di tanggal itu. Jika ditilik lebih lanjut beberapa catatan mengatakan tanggal 16 Juni ini adalah pertama kalinya perusahaan taksi bermotor (sebelumnya kereta kuda juga disebut dengan taksi) di Stuttgart, sebuah kota yang identik dengan industri otomotif. Sehingga tak ada salahnya kita merayakan taksi di hari ketika taksi pertama kali menjadi komersil bukan?

Tanggal ini tentu saja bisa berubah sesuai dengan persetujuan akun @SupirTaksiJkt yang sebelumnya menyetujui melakukan wawancara via twitter. Semoga dengan wawancara ini kita makin sadar di kapsul kecil bernama taksi ada lebih dari sekedar supir dan argometer. Ada sebuah perbincangan di dalamnya. 

Advertisements

One thought on “Antara Argometer

  1. agen bola says:

    wah cerita tentang taxi..lanjutkan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: