Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Artwork Album Perdana Wong

Saya percaya setiap orang, setidaknya para generasi Y, pasti pernah mengalami masa menjadi William Miller dalam pencarian referensi musik. William Miller yang saya maksud tentu saja tokoh utama dalam Almost Famous (Cameron Crowe, 2000). Setidaknya saya merasa perjalanan referensi musik saya sedikit banyak mirip dengan Miller. Seperti halnya Miller dengan Stillwater-nya buah dari referensi musik biasanya adalah pengkultusan sebuah idola.
William Miller mengenal musik dari sang kakak, Anita Miller, saat itu sang kakak membawa vinyl Simon and Garfunkel dengan mengatakan, “Simon and Garfunkel is poetry”. Mungkin kejadian itu mirip ketika kakak saya mendengarkan kaset Scorpions lewat radio di kamarnya. Atau tatkala bapak saya memutar CD The Beatles untuk mengisi kekosongan di hari Minggu pagi. Kita merasa musik itulah yang paling hebat di dunia. Mendengarkannya terasa sejuk dan begitu menyenangkan.
Namun kemudian hadirlah fase ketika kita bosan dan mulai merasa bahwa musik itu sudah tidak “keren” lagi. Dalam Almost Famous hal ini digambarkan ketika Anita Miller memegang bahu sang adik, William, lalu mengatakan, “One day you will be cool. Look under your bed, it’ll set you free”. Setelah itu William melihat sebuah harta karun di bawah kasurnya, tersebutlah vinyl The Beach Boys, Led Zeppelin, Neil Young dan The Who. Inilah masa awal ketika kita merasa musik adalah pembebasan, banalnya, “Musik yang keren ya ini”. Fase ini biasanya datang ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan hadirnya referensi dari peer grup. Bagi saya pribadi ketika The Cure, Blur, ataupun KLA Project menjadi sesuatu yang sangat eksotis.
Masa inilah yang menurut saya begitu menyenangkan, masa ketika kita mulai dibukakan mata namun tak sepenuhnya terbuka. Masa yang begitu banal namun mengasyikkan. Di masa inilah saya mengenal sebuah grup band yang saya idolai sampai kini, bahkan ketika mereka vakum atau bubar tanpa kejelasan. Adalah “Wong” nama grup band itu.
Band yang terdiri dari Heppy (Vokal), Iwan (Gitar), Ganjar (Gitar), Herman (Bass), dan Nunu (Drum) ini melejit lewat album kompilasi Indie Ten. Bersama Padi, Coklat, Caffeine dan beberapa band lain, Wong tergabung dalam kompilasi yang bagi saya bersejarah ini. Indie Ten sendiri adalah sebuah kompilasi Sony Music digagas oleh Pak Yan Juhana yang konsepnya mirip dengan proyek misalnya 10 Bintang Nusantara yang melejitkan nama Kahitna.
Di kompilasi itu Wong memainkan nomor “Tak Ingin” dengan musik yang sangat catchy di telinga saya. Suara Heppy sang vokalis menurut saya begitu keren untuk ukuran pendengaran saya saat SMP dulu. Tak seperti Cindy Fatika Sari yang mengumbar suara genit di band Gallery maka Heppy terkesan lebih kontemplatif. Mungkin ini juga dikarenakan lirik lagu Wong yang bersifat lebih konotatif ketimbang beberapa band lain dengan vokalis wanita pada masa itu seperti Coklat ataupun Gallery. “Ku tak tahu lagi mencari makna yang pasti,” erang Heppy di lagu itu yang membuat saya jatuh cinta pada band ini. Bersama Padi dengan single “Sobat” saya rasa Wong berhasil mengajari bagaimana membuat lagu yang catchy pada band lain di kompilasi ini.
Namun apakah saya membeli kaset Indie Ten murni hanya karena suara Heppy dan melodi gitar di intro lagu “Tak Ingin” yang begitu apik? Tentu tidak. Ya anda benar, seperti halnya Edi Brokoli yang sukses jadi penyanyi Harapan Jaya hanya karena rambut kribonya maka alasan saya membeli album ini hanya karena ada embel-embel “indie”. Siapa yang tak mau jadi (oke setelah ini saya akan menanggung malu) anak indie pada saat itu? Menjadi indie begitu keren pada waktu itu, ketika indie dijual dengan paket kaset “Indie Ten” anak SMP mana yang tak tergoda. Tak hanya musik, nyantanya produsen pasta gigi juga membuat hajatan kompetisi film bertema indie. Jika William Miller di Almost Famous begitu terpukau ketika melihat artwork Bob Dylan di bawah kasurnya maka saya merasakan hal sama ketika mendengarkan Wong di pojokan kamar dengan Walkman hasil menabung uang saku satu caturwulan tentu dengan berharap mendapat stempel anak indie, banal tapi mengasyikkan.
Walkman itupula yang saya gunakan untuk mendengarkan full album selftitled Wong. Kalau tidak salah dari sepuluh band di album kompilasi Indie Ten hanya dua yang dibuatkan album yakni Padi dan Wong. Sayang nama besar Wong tertutup oleh kesuksesan album perdana Padi bertitel Lain Dunia yang memang sangat apik. Namun saya tetap setia dengan Wong, saya merasa nomor-nomor seperti “Jangan Lagi”, “Bilakah ?” atau “Karena Semua” lebih menggigit dibandingkan nomor “Sobat” dari Padi. Kesetiaan saya pada Wong juga masih berlanjut dengan membeli album kedua mereka yang kurang populer bertitel “Esok Pagi”.
Saya selalu senang mengenang masa itu. Wong adalah idola saya bersama dengan Blur. Bahkan saya pernah bermimpi bisa menonton konser Wong dan meminta tanda tangan para personilnya di artwork album mereka, mimpi yang begitu polos. Sayangnya faktor usia dan referensi kadang membuat kepolosan itu semakin bergeser.
Seperti halnya William Miller yang naik “kasta” tatkala dihubungi oleh Rolling Stone untuk meliput Stillwater maka semua orang pasti pernah mengalami hal serupa. Kadang saya malu mengakui saya pernah suka Wong. Dan lebih senang bercerita hal lain yang dianggap lebih tinggi kastanya. Fase ini biasanya dimulai ketika kita datang ke gig dengan melipat kedua tangan di dada layaknya seorang kritikus musik. Inilah fase ketika idola tak murni berasal dari kuping kita sendiri melainkan dari review Rolling Stone, Pitchfork ataupun webzine yang semakin terdengar aneh tampak semakin keren. Saya yakin semua orang pasti pernah mengalami ini.
Dan seperti pada Almost Famous ketika William Miller merebahkan tubuhnya selesai mengikuti tur Stillwater. Ia merebahkan tubuhnya di kasur yang sama ketika ia melihat vinyl Led Zeppelin pemberian kakaknya. Saya selalu suka scene ketika ia merebahkan tubuh di kasur. Itu seperti sebuah panggilan bahwa kemanapun kita pergi pada akhirnya kita akan kembali. Dalam kasus Miller ia kembali pada keterpukauannya akan musik.
Bagi saya panggilan menulis dari rekan saya Fakhri Zakaria seperti merebahkan kembali tubuh ke kasur di rumah. Mengingat kembali bahwa ada yang lebih penting ketimbang riuh rendah kritik musik di Jakartabeat ataupun kehebohan pilihan editor akan beragam hal di dunia showbiz. Pada akhirnya kita akan kembali ke rumah kita masing-masing. Melihat kembali apa yang ada di bawah kasur kita. Hari ini saya kembali mencoba melihat apa yang ada di bawah kasur saya. Dan tentu saja menemukan Wong di dalamnya.

Advertisements

One thought on “Ada "Wong" di Bawah Kasur

  1. walau kau coba paksakan aku tetap ku tak mau..seribu cara kau lakukan tuk keinginanmu… #numpangnyanyisambillewat

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: