Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Carilah mana yang ganteng? Oh itu dia yang pake handuk dan nutup mata.
Saya masih ingat gelak tawa ketika “Komendan” Havis hormat menggunakan tangan kiri di Kopassus. Pun saya masih belum lupa tetes keringat saat push-up karena dengan lantangnya mengajak senam “Aku Bisa” AFI Junior alih-alih melakukan senam ala Kopassus. Juga masih terngiang ketika Gatsoy selalu menenteng kameranya di dalam tempat pelatihan saat Malam Minggu menjelang (oke ini sedikit modus, semoga berhasil). Dan tentu saja selalu ingat tiap tetes air mata haru perpisahan di Bandara Soekarno Hatta.
Kini tak terasa hampir tujuh bulan Pengajar Muda 3 berpisah. Saat menulis ini saya sedang berada di Bus dari Bandar Lampung menuju desa penempatan setelah mengantar anak SMA yang ingin mengikuti SNMPTN. Sampai di desa nanti saya akan merekap nilai murid untuk rapor semester genap. Dan ya saya tiba-tiba merasa kangen dengan kalian.
Karena alasan itu saya membuat tulisan ini. Bukan, bukan soal mengungkapkan rasa kangen saya. Mengingat sebentar lagi kita akan menghadapi liburan semester, beberapa teman mungkin mengambil cuti, juga ada yang memilih berada di tempat penempatan. Tulisan ini adalah hadiah untuk mengisi liburan teman-teman.
Saya dan rekan-rekan di Jakartabeat.net (tempat saya biasa menulis) kerap membuat lima list beragam hal. Lima album terbaik tahun ini, lima puisi yang menggambarkan Indonesia dan banyak topik lain. Tradisi ini sebenarnya mengekor pada apa yang dilakukan oleh Rob Gordon (John Cusack) dalam High Fidelity. Ia senang membuat lima list terhadap apapun, karena menggilai film tersebut maka kami mengadaptasi apa yang kerap dilakukan oleh Rob.
Karena kita adalah keluarga besar Pengajar Muda 3, maka saya akan membuat tiga hal untuk dibuat lima list terbaiknya. Ketiga hal tersebut adalah lima lagu, film dan buku terbaik yang cocok dinikmati oleh Pengajar Muda. List ini tak selamanya berhubungan dengan dunia pendidikan. Namun dengan list ini saya berharap semangat kita akan terus terjaga sampai masa penugasan selesai.
 
***
Lima Lagu Terbaik

1.    Donna-Donna (Joan Baez)
Jika boleh menggambarkan Pak Anies dalam sebuah lagu saya akan memilih lagu yang awalnya berjudul “Danna-Danna” ini. Dalam sebuah catatannya Gie menulis pernah menonton pementasan lagu ini bersama teman akrab perempuannya bernama Sunarti alias Ker dalam acara kampus. Ker adalah sosok mahasiswi populer yang suka musik rock and roll dan kerap mengkritik apapun. Saat menyaksikan ini Gie berbisik pada Ker untuk mendengarkan salah satu bagian liriknya. Bagian lirik itu berbunyi, “Stop complaining!” said the farmer. Who told you a calf to be”. Ker lalu sadar ada kalanya kita harus berhenti mengutuk sesuatu. Ada yang lebih esensial daripada sekedar mengutuk kegelapan. Ingat ketika Yudhistira Massardi menyambut kita di sekolah Batutis-nya? Ia mengatakan. “Di satu titik saya merasa bosan menjadi jurnalis yang selalu mengkritik”. Joan Baez dengan baik merangkum itu semua dalam lagunya.

2.    Blowin in The Wind (Bob Dylan)
“Ini adalah satu tahun yang tak mungkin bisa kalian ulang,” ucap Pak Anies ketika melepas kita. Ya Pak Anies benar, ini soal perjalanan. “Satu tahun perjalanan lebih penting ketimbang empat tahun kuliah,” ucap seorang tokoh dalam sebuah novel yang pernah saya baca. Epos soal perjalanan selalu menarik. Bukan karena tantangan di dalamnya tapi mengapa kita harus melakukan perjalanan. Bob Dylan berbagi kegelisahannya soal perjalanan lewat lagu ini. Pembuka lirik lagu ini yang sangat legendaris langsung bertanya pada kita, “How many road must a man walk down. Before you call him a man?” Inikah perjalanan menuju kedewasaan? Atau hidup adalah soal pertanyaan akan apa arti kedewasaan itu sendiri? Dylan pun tak bisa menjawab.

3.    Season of Joy (Ballads of The Cliché)
Sebuah kepercayaan mengatakan bahwa saat menghirup nafas terakhir kita akan menjadi editor atas memori apa yang mau kita lihat. Mungkin prosesnya seperti sebuah scene dalam film. Kebanyakan orang akan memilih sebuah kenangan indah yang tak terulang. Bisa jadi scene terakhir ketika menemui ajal adalah masa penugasan kita. Tatkala melihat wajah lugu murid-murid kita di kelas. Atau ketika memandang raut wajah ceria saat bermain bersama mereka. Dan jika itu scene yang anda pilih untuk menutup kehidupan maka lagu ini wajib menjadi pengiringnya. Sebuah nomor manis dari band indiepop asal ibukota.

4.    Buka (Pure Saturday)
Secara berkelakar teman saya pernah berkata bahwa Indonesia dibentuk di satu kos-kosan yang tidak kompak. Perkataannya merujuk pada bapak bangsa negeri ini antara lain Bung Karno, Musso, Alimin dan Kartosoewirjo yang pernah mengekos di rumah Tjokroaminoto namun berbeda pandangan ketika negeri ini merdeka. Kos-kosan kita adalah Jalan Galuh yang teduh, “kuliah” kita adalah di daerah penempatan. Apakah kita akan kembali mengulang kesalahan bapak bangsa ini setelah kita pulang November mendatang? Ada baiknya dengarkan lagu ini baik-baik. “Hai kawan masihkah kita ada di jalan yang sama setelah sekian lama? Seperti dulu kita bersama menempuh banyak jalan dan rintangan.” Kita tak bisa menjawabnya saat ini melainkan sepuluh atau bahkan dua puluh tahun setelah penempatan. 

5.    Menjadi Manusia (Bangkutaman)
Bude saya selalu berdoa agar saya menjadi menungso. Dalam bahasa Jawa, Menungso berarti manusia. Ia tak mendoakan saya menjadi uwong alias orang. Menjadi “orang” menurutnya identik dengan kesuksesan finansial semata. Sementara menjadi manusia adalah bekerja untuk manusia yang lain. Tugas kita sebagai manusia adalah menjadikan sebanyak mungkin orang menjadi “manusia”. Rintihan Acum (vokalis Bangkutaman) di lagu ini bisa jadi pengingat akan nasehat bude saya. “Tutup mulut dan coba menunduk, kita semua yang terkecil” rintih Acum yang menjadi pengingat (setidaknya saya) bahwa menjadi manusia bukan pekerjaan yang mudah.

***
Lima Buku Terbaik

1.    Haikk! (Kumpulan tulisan 21 Arsitek Indonesia)
Untuk sebagian orang yang akrab dengan saya mungkin tahu salah satu obsesi aneh saya adalah memiliki istri arsitek. Salah satu alasannya adalah karena buku ini. Haikk! adalah sebuah buku berisi petualangan Yori Antar, Andra Martin, Amelia Miranti dan delapan belas arsitek Indonesia lainnya saat pergi ke Negeri Sakura. Mereka menguak budaya matahari terbit tersebut lewat bangunan-bangunan yang ada di sana. Dengan membaca buku ini anda tak akan lagi sekedar bengong ketika pergi ke rumah tetangga, berkunjung ke kediaman kepala sekolah atau ketika beribadah di masjid seberang rumah. Bangunan di sekeliling kita bukan sekedar batu, melainkan saksi paling polos akan kebudayaan setempat. Melihat bagaimana kultur terefleksikan dalam bangunan bisa jadi cara asyik melihat bagaimana kehidupan di pedesaan berjalan. Mengutip Ando, seorang arsitek yang banyak dibahas di buku ini, “I believe that the way people live can be directed by architecture”.

2.    Selimut Debu (Agustinus Wibowo)
Pergi ke Jakarta berarti ke Monas, pergi ke Bandung berfoto di Gedung Sate, atau melancong ke Jogja harus mengupload foto Tugu di Instagram? Jika pola pikir kita masih seperti itu lebih baik pergi ke klinik Haji Jeje dan operasi muka di sana. Perjalanan bukanlah soal semangat “I was there”. Agustinus Wibowo mengajarkan dengan sangat baik bahwa perjalanan adalah soal meresapi apa yang kita temui. Ia pergi ke Afghanistan dan membuat catatan yang sangat menarik soal negeri ini. Kritiknya terhadap lembaga donor asing, perspektifnya soal Islam di negeri ini dan cerita perjalanannya yang sangat ciamik akan membuat kita malu karena kita baru sampai di sini. Bacalah buku ini dan berhentilah berkicau soal sebuah pesan moral perjalanan.

3.    Mangan ora Mangan Kumpul (Umar Kayam)
Mungkin Pak Anies tak perlu repot-repot mengajari konsep “Pemahaman akar rumput dan kompetensi global” andai saja semua Pengajar Muda dihadiahi buku ini. “Mangan ora Mangan Kumpul” adalah pencapaian terbaik Umar Kayam selain “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan”. Ini merupakan kumpulan tulisan Umar Kayam soal kehidupan Pak Ageng, priyayi Jawa berpendidikan tinggi, dengan pembantunya bernama Mr. Rigen. Dialog mereka berdua dalam buku ini begitu sederhana namun sarat pesan bahwa orang yang terdidik sejatinya tak lupa dengan mereka yang tak terdidik. Bukan, bukan dengan menggurui melainkan dengan menjalin relasi yang cair nan penuh humor. Lihat misalnya perbincangan ini, “Apakah kalian setuju dengan konsep konflik kelas dari Marx?” Tanya Pak Ageng pada Mr Rigen. Dan batur-nya (pembantunya) itu hanya menjawab, “Walah Pak, siapa lagi orang itu?”. Lantas mereka berdua tertawa terbahak-bahak atas nama Karl Marx. Dialog absurd yang membuat kita sadar kadang ada jurang terlalu dalam diantara diri kita dengan masyarakat.
 

4.    Jurnalisme Sastrawi (Yayasan Pantau)
Jika pegangan dalam Islam adalah Alquran dan Hadits, bagi saya tuntunan penulis adalah buku “Jurnalisme Sastrawi” dan menutup kuping pada Mario Teguh. Buku Jurnalisme Sastrawi yang berisi kumpulan tulisan dari Andreas Harsono, Linda Christanty, Eriyanto dan penulis lain dari Yayasan Pantau boleh jadi adalah “bible” bagi para penulis. Jika NBA punya all star, maka allstar penulis terbaik negeri ini ada di buku ini. Membaca buku ini sekaligus mendalami jurnalisme sastrawi adalah cara paling ciamik untuk belajar bagaimana melaporkan sebuah fenomena di daerah penempatan dalam kacamata yang tak hanya eksotis namun padat dan esensial.

5.    The Little Princess (Antoine de Saint-Exupery)
Buku ini dibuka dengan pertemuan antara seorang pilot dengan pangeran kecil. Mereka berdua berdebat soal sebuah gambar domba. Sang pangeran kecil tetap teguh pada pendirian bahwa ia menggambar sebuah domba. Sementara sang pilot juga bersikukuh gambar itu tak menggambarkan domba sama sekali. Dalam perjalanannya cerita bertutur soal dialog soal kedewasaan dan masa indah anak-anak. Pangeran kecil menyadarkan kita bahwa terkadang berpikir sederhana adalah sebuah kekayaan yang sulit dibeli orang dewasa. Ketika melihat murid di sekolah mulai bertindak polos saya selalu mengingat sang pangeran kecil. Saat itupula di meja guru saya sadar kadang kedewasaan hanya mengikis pemikiran-pemikiran unik ketika kita kecil.

***
Lima Film Terbaik

1.    Cinema Paradiso (Giuseppe Tornatore)
Hampir semua sutradara memiliki kenangan menonton sebuah film saat kecil. Garin Nugroho misalnya dengan detail bisa menceritakan bagaimana kenangannya terhadap Bioskop Permata, sebuah bioskop kecil di Jogja. Film ini bercerita mengenai awal mula sutradara besar jatuh cinta pada dunia film hanya karena keakrabannya dengan Alfredo, sang projectionis film bioskop kecil di Sisilia. Cinema Paradiso mengingatkan kita bahwa kenangan masa kecil tak akan pudar begitu saja. Saksikan film ini dan sadarilah bisa jadi film yang kita putar untuk anak-anak kelak akan membawanya menjadi Garin atau bahkan Tarantino baru, siapa yang tahu?

2.    Super 8 (J.J. Abrams)
Joe (Joel Courtney) dan Charles (Riley Griffiths) adalah dua bocah yang terobsesi pada dunia film. Cita-cita mereka membuat sebuah film harus terbentur dengan beragam halangan yang merepotkan. Namun mereka tetap setia memegang kamera Super 8 (jenis kamera video dengan film 8mm) dan membuat cerita versi mereka sendiri. Super 8 seperti halnya Cinema Paradiso menggambarkan bagaimana kekuatan sebuah film dapat mempengaruhi kehidupan anak-anak.

3.    War Photographer (Christian Frei)
Film dokumenter ini sebenarnya berfokus pada cerita James Nachtwey saat mendokumentasikan beragam perang. Namun bukan fragmen itu yang menarik perhatian saya. Buat saya fragmen ketika ia membuat foto esai di Jakarta lebih menarik. Natchwey membuat foto esai mengenai seorang pengemis di jalanan Jakarta yang hanya memiliki satu tangan dan satu kaki. Mengapa hal ini menarik? Sebab Natchwey dapat menarik garis tegas antara eksploitasi dengan empatik. Cara kerja, riset dan foto Natchwey begitu empatik dan tak terkesan eksploitatif. Inilah yang bisa kita jadikan rujukan saat membuat sebuah cerita dari daerah penempatan. Ada sebuah ucapan Natchwey yang saya ingat di film ini, “The worst thing is to feel that as a photographer I am benefiting from someone else’s tragedy.” Mari ingat kembali apa yang dikatakan Mas Roby dalam sesinya, “Eksploitatif dan empatik itu terkadang tipis bedanya”. Saksikan film ini untuk membedakan cara kerja keduanya.

4.    Jakarta Maghrib (Salman Aristo)
Saya percaya cara terbaik memahami Jakarta adalah dengan memandangnya dari jauh. Pergi ke daerah penempatan selama setahun akan membuat kita memandang Jakarta dari jauh. Banyak dari kita nantinya akan kembali ke kehidupan Jakarta. Dan jangan salahkan siapapun jika kita kemudian banyak mengutuk akan anehnya kota besar ini. Jakarta Maghrib adalah sebuah sketsa terbaik menggambarkan hal tersebut. Kumpulan beberapa cerita yang terjadi di Jakarta ketika maghrib ini seperti berbisik ada yang aneh dengan kota ini. Saran saya sebelum pulang cuti ke Jakarta tontonlah film ini terlebih dahulu sehingga menertawakan Jakarta akan terasa lebih mengasyikkan ketimbang mengutuknya.

5.    Up (Pete Docter, Bob Peterson)
Premis Up sebenarnya sangat sederhana, “Apa yang kita lakukan jika orang yang paling kita sayangi jauh dari kita?”. Si tua Carl belum bisa menerima ia ditinggal mati oleh Ellie, istri tercintanya. Ia kemudian berjanji menuntaskan impian mereka berdua pergi ke Lost Island di Amerika Latin dengan balon udara yang mengangkat rumahnya. Malangnya ia bertemu bocah iseng delapan tahun bernama Russell yang main ke rumahnya. Cerita pun berputar pada bagaimana dua orang lintas generasi ini berdialog. Ada kalanya mereka berdebat, ada kalanya Carl merasa semestinya Ellie yang ada di sampingnya bukan Russell. Namun siapa yang tahu misteri kehidupan, orang tersayang bisa pergi kapan saja namun selalu akan ada Russell dalam tiap perjalanan hidup kita. Kita punya banyak Russell di kelas yang kadang nakal, kadang polos dan bahkan menyebalkan. Namun dari mereka kita belajar banyak hal.

*Itu tadi adalah lima list yang bisa dijadikan sebagai pengisi saat liburan sekolah. Silakan jika teman-teman ingin membuat listnya sendiri. Salam hangat dari saya untuk kalian semua. 
Advertisements

One thought on “Lima Untuk Tiga

  1. waw, lima bukunya juga favorit saya 🙂

    salam kenal 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: