Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Undangan Pernikahan di Tulang Bawang Barat.
Saat merayakan kemenangan dalam Piala Tiger beberapa tahun silam, Tim Nasional Singapura mengenakan kaos yang sangat menarik. Semua pemain dan ofisial tim memakai kaos bertuliskan “I Was There With The Boys”. Saat itu Singapura memang menang di kandang sendiri, di National Stadium kebanggaan negara singa putih ini. Semangat dokumentasi terasa sekali dalam kemegahan kemenangan tersebut, “I Was There” adalah sebuah penasbihan akan momen kemenangan.
“Brooks Was Here” tulis Brooks ketika ia hendak bunuh diri di Film Shawshank Redemptions. Brooks, mantan narapidana yang menjadi pustakawan di penjara, justru merasa hidupnya mentok tatkala keluar penjara. Di tengah kebingungan dan tanpa seorang teman ia mengikis dinding kamarnya dengan pisau dan menuliskan namanya disana. Ia kemudian gantung diri dengan tali yang diikatkan tepat dibawah tulisan tersebut. Dalam kematian ia merayakan sebuah pendokumentasian, “Brooks Was Here”, ia pernah hidup di sana.
Seorang teman pernah berkata, manusia adalah soal darah dan sperma. Kita merayakan keduanya, mendokumentasikan keduanya. Kita merayakan kematian lewat pengajian. Kita merayakan kelahiran lewat beragam upacara. Jika ada dua hal diantara darah dan sperma maka itu adalah pernikahan. Pernikahan dalam tanda kutip tentu saja pelegalan penetrasi sperma. Ia menjadi sebuah jembatan kelahiran dan membentuk relasi anak dan orang tua. Sudah barang tentu pernikahan dirayakan.
Pendokumentasian dalam pernikahan adalah sebuah hal yang penting. Apalagi ketika fotografi seperti kedipan Moerdiono di jaman Orde Baru. Foto pre wedding, liputan pernikahan, candid, dan apapun jenis foto tersebut jelas punya tujuan satu yakni dokumentasi. Sebentar, apakah tadi saya menyebut hanya punya satu tujuan?
Seminggu lalu Pak Sugiyana, seorang Kepala Sekolah di kecamatan saya datang ke sekolah. Ia memberikan sebuah undangan pernikahan anaknya. Sambil mengobrol basa-basi saya melihat-lihat undangan pernikahan tersebut. Apakah tujuannya hanya sebuah pendokumentasian?
Di halaman muka undangan tersebut Pak Sugiyana berpose dengan istrinya yang bernama Rusmiati. Saat saya balik kembali foto pasangan suami istri ini muncul. Pasangan calon pengantin justru hanya menghiasi halaman terakhir dari foto undangan ini. Menarik bagi saya, ketika porsi di undangan lebih banyak diisi oleh foto orang tua calon mempelai daripada calon pasangan pengantin itu sendiri. 
 ***
Foto orangtua di cover undangan.
Menikahi Keluarga?

Saya menghampiri pusat pembuatan undangan pernikahan di daerah ini, “Percetakan Yudhistira”. Sebuah kios kecil yang memiliki lahan usaha mulai dari percetakan, fotokopi, video dan foto pernikahan sampai jual beli mp3. “Lihat aja mas, macem-macem kok modelnya,” ungkap Mul ketika saya bertanya mengenai undangan pernikahan.

Banyak jenis undangan dipamerkan di sana. Tipikalnya sama. Banyak foto orang tua terpampang di halaman depan undangan. Sang bapak tampil dengan setelan baju Jawa yang rapi ataupun jas parlente. Sang ibu biasa tampil dengan kebaya atau menutup rambutnya dengan jilbab. Sangat tipikal.
Namun bukan soal atribut pakaian yang jadi masalah tentunya. Masalahnya adalah mengapa orang tua ikut mejeng di kartu undangan pernikahan anak? Bukankah ini pesta sang anak? Pernikahan seperti dibukanya sebuah sangkar, sang anak yang selama ini dalam dekapan orang tua kini bebas terbang tinggi dengan pasangannya. Menampilkan wajah orang tua di undangan seperti menutup kembali sangkar tersebut, ia seperti diajak kembali ke sangkar bernama orangtua.
Undangan pernikahan di daerah ini biasanya berupa kertas berukuran 2/3 kertas A4. Kertas tersebut kemudian dilipat menjadi dua bagian, sehingga akan menjadi empat halaman. Halaman muka alias cover tergantung dari keinginan pembeli. Biasanya halaman pertama didominasi oleh wajah orang tua dengan background gambar indah.
Undangan yang didominasi oleh gambar orangtua biasanya adalah yang berbahan kertas dengan kualitas bagus. Percetakan Yudhistira menyediakan beragam jenis kertas untuk bahan undangan. “Yang bagus itu misalnya bahan king, pernis, atau doff Mas,” jelas Mul kepada saya. Harga satu lembar undangan dengan bahan yang tergolong bagus sebesar Rp 2500,-. Sementara yang berbahan kertas kualitas rendah antara Rp 1000,- sampai Rp 2000,-. Satu orang biasanya memesan sekitar seribu lembar undangan. Artinya untuk undangan dengan kualitas kertas yang bagus bisa menghabiskan sekitar dua setengah juta rupiah, sebuah nominal yang tak sedikit. Bandingkan dengan dana menyewa organ tunggal untuk dijadikan hiburan pada saat resepsi misalnya. Menyewa organ tunggal tidak sampai menyentuh angka sebesar itu. Artinya undangan adalah sebuah unsur penting dalam ritual  pernikahan di masyarakat daerah ini.
Undangan dengan kualitas kertas yang bagus.
Yang kemudian menarik adalah, mengapa sebagai sebuah unsur penting dalam pernikahan, foto orang tua harus muncul dalam undangan pernikahan? Boleh jadi adalah pengejawantahan adanya otoritas yang membuat pesta tersebut. “Ini pesta anak saya,” semacam penegasan seperti itu. Tentu saja anak kalimat dari penegasan seperti itu adalah, “Saya yang buat pesta ini, maka ini jadi pesta buat saya,” boleh jadi seperti itu. Satu yang pasti pesta tersebut memang dibuat oleh orang tua untuk anaknya. Namun foto orang tua di undangan lebih dari sekedar penegasan ini pesta mereka.
“Nikahin anak orang berarti nikahin keluarganya juga Nyet,” tutur teman saya ketika mengeluhkan keluarga pacarnya. Mungkin ia ada benarnya, pernikahan adalah hal rumit daripada sekedar pelegalan penetrasi sperma. Pernikahan adalah pelegalan penetrasi dua keluarga. Undangan adalah jembatan akan perkenalan dua keluarga tersebut. Orang tua kemudian menjadi tokoh sentral dalam penetrasi tersebut. Pesta yang ia buat, foto dirinya di undangan adalah penasbihan bahwa mereka tokoh sentral dalam sebuah pernikahan.
Foto orang tua boleh jadi penegasan relasi antara orang tua dan anak sampai mati. Di sini pernikahan adalah penambahan keluarga baru. Nantinya sang anak tetap tinggal bersama keluarga. Uang orang tua adalah juga uang anak. Tak ada sebuah status yang benar-benar baru di dalamnya. Jari anda takkan cukup untuk menghitung anak yang sudah menikah namun masih tinggal bersama orang tuanya disini. Sangkar itu tak benar-benar terbuka, anak tak benar-benar berpisah dari orang tuanya.  
***
 
Dua undangan dengan template gambar yang sama.
Siapa Yang Saya Nikahi?

 “Enaknya ambil undangan satu paket, udah sama edit foto,” tambah Mul. Ia menambahkan biaya Rp 2500,- adalah harga rata-rata satu undangan yang biasa dicetak sejumlah seribu buah. Biaya tersebut termasuk edit foto. “Kenapa harus diedit Pak?” tanya saya penasaran. “Biar kelihatan bagus,” jawabnya singkat.

Proses editing foto di undangan pernikahan sebenarnya sederhana. Setidaknya ada dua objek mayor yang diedit. Pertama adalah background foto. Background foto biasanya menampilkan sebuah kemewahan, misalnya rumah mewah atau taman bunga yang indah. Background di sini adalah penegasan akan sebuah status yang hendak ditampilkan.
Hal ini sebenarnya wajar mengingat fungsi background (sebenarnya dalam kasus foto studio lebih cocok dinamakan backdrop) itu sendiri. Background pada fotografi seperti diutarakan Yudhi Soerjoatmodjo dalam wawancara mengenai tradisi visual di negeri ini sebenarnya menampilkan hasrat yang ingin disampaikan oleh yang difoto. Tradisi ini sebenarnya tak bisa dilepaskan dari penggunaan backdrop pada pementasan teater. Background lah penanda setting terjadinya sebuah peristiwa. Artinya rekayasa pada background juga berarti rekayasa setting terjadinya sebuah peristiwa.
Hal ini dimanfaatkan betul oleh Mul sebagai pembuat undangan. Ia memiliki beberapa template gambar yang cocok dijadikan sebuah background dalam komputernya. Kebanyakan tentu saja gambar-gambar indah nan mewah. Begitu klise tapi amat digemari. “Saya nawarin ke orangnya dulu maunya gambar apa,” jelas Mul mengenai pemilihan background ini. Artinya ada sebuah konsensus mengenai status yang hendak ditampilkan. Jelas kemudian bahwa background itulah hasrat yang ingin ditampilkan oleh si keluarga mempelai.
Editan mayor kedua adalah foto orang tua atau mempelai itu sendiri. Proses pemotretan objek ini menarik. “Kalau ada waktu mereka saya foto di sini Mas,” ujar Mul sambil menunjuk studionya. Studio yang dimaksud Mul sebenarnya hanya sebuah ruangan dua kali tiga meter yang ditempeli kain polos beragam warna untuk pemotretan pas foto. Orang tua mempelai dan mempelai biasanya difoto di ruangan itu.
“Ya difoto biasa aja Mas, enggak usah rapi-rapi, kalau misal enggak ada jas atau batik ya nanti tinggal diedit” lanjut Mul santai. Ternyata ada kalanya pemotretan tersebut hanya bertujuan mengambil wajah orang tua atau kedua mempelai untuk kemudian ditempelkan pada sebuah gambar lain. Gambar lain yang dimaksud adalah sebuah foto setelan jas atau gambar pakaian pengantin ala barat. Wajah itu kemudian ditempelkan untuk mengisi wajah pada pakaian pengantin ala barat. Sebuah cara yang sangat instan dan sederhana.
Sedikit tidak percaya dengan penjelasannya, saya kembali membolak-balik undangan yang ada di sana. Nyatanya benar, editan foto tersebut terkadang kurang rapi. Wajah-wajah yang mengisi busana jas atau gaun pengantin itu seperti tertempel begitu saja. Foto-foto orang tua yang nampak asing dengan latar belakang hasil editan. Juga foto-foto calon mempelai yang terasa asing. Tak ada sebuah keakraban di dalamnya. Jepretan kamera seperti penghakiman bagi mereka, wajah keras, ekspresi dipaksakan, dengan latar belakang antah berantah, komplit sudah beragam keanehan itu.
Sebuah undangan saya amati. Mempelai wanita memakai busana pernikahan barat. Berwarna putih, kalung berlian ada di lehernya dan seikat bunga ia pegang. Sang pria menjadi komplemen dengan jas hitam necis dan dasi merah. Busana parlente itu diisi oleh dua buah wajah yang asing dengan busana tersebut. Sang wanita tampak malas, sang pria tampak kaku. Dua wajah itu merupakan wajah mempelai yang ditempelkan pada sebuah gambar gaun pengantin ala barat. Ada keterasingan yang sangat terasa dalam foto-foto tersebut. Sebuah keterasingan yang membuat sang mempelai mungkin bertanya, “Siapakah yang saya nikahi?”.
***
Pak Mul sedang mengedit foto.
Sampanye dalam Undangan

Saya amat suka sebuah fragmen di Novel Lenka mengenai alasan Pandan Salas, seorang pecatur, saat menjelaskan alasannya menyukai catur. Lenka, sang adik Pandan Salas bertanya, “Apa yang menarik dari permainan catur? Catur tidak membuatmu membuka sampanye seperti para pembalap mobil saat memenangkan perlombaan.” Pandan hanya menjawab, “Catur bisa mengungkapkan banyak mengenai kepribadian seseorang”.

Banyak orang selalu terfokus ketika sampanye terbuka. Pesta pernikahan adalah sampanye yang terbuka. Di sana semua kejadian adalah sebuah rekayasa para event organizer semata. Itu kenapa kisah pra dan pasca pernikahan lebih menarik ketimbang pernikahan itu sendiri. Sampanye adalah sebuah seremonial permukaan. Undangan pernikahan seperti sebuah permainan catur, ia langkah awal memahami sebuah keinginan masyarakat.
Undangan pernikahan juga bagaikan anomali ilmu psikotelemetri dalam kriminologi. Psikotelemetri sendiri adalah sebuah cara mengungkapkan kepribadian seorang pembunuh dari barang pribadi miliknya. Ada persamaan antara dua hal ini. Psikotelemetri menilik sebuah keseharian untuk mengungkap sebuah kegiatan kriminal. Pun dengan undangan pernikahan. Sejatinya undangan pernikahan menekankan unsur “Who” alias yang mengundang. Artinya karakteristik keseharian si orang yang mengundang harusnya muncul di undangan. Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya.
Melihat undangan pernikahan seperti melihat sebuah botol sampanye yang habis. Orang-orang terpukau pada lompatan bulir-bulir sampanye namun lupa bahwa lompatan itu hanya sepersekian detik. Setelah itu mereka akan menemui sebuah keseharian yang sama setiap harinya. Rumah sederhana, kebun karet dan jalanan berlubang. Atau jangan-jangan mereka memang tak memimpikan suasana seperti di undangan pernikahan. Seperti halnya sampanye mereka hanya butuh jeda. Sebuah jeda dengan kemewahan yang semu nan imajinatif. Dalam undangan pernikahan, masyarakat ini bermimpi menjadi sebuah sosok lain. Menyebar undangan pernikahan seperti membuka tutup sampanye, sebuah pelepasan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: