Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Ruang tamu di kediaman Ibu Dwi.
Sambil berlari-lari kecil menuju Halte Dukuh Atas akhirnya perempuan berusia sekitar 20-an tahun itu berhasil masuk ke Bus Transjakarta. Matanya letih, pakaiannya dapat menjawab mengapa sorot matanya begitu lelah, kemeja berbungkus cardigan gelap itu menyatakan ia baru pulang kerja. Hidungnya tertutup masker dan kupingnya tersumpal sepasang earphone. Setelah duduk di bus ia mengeluarkan ipod touch dari sakunya,  ia mengatur playlist selama perjalanan. Tanpa memperhatikan lingkungan sekitar ia larut dengan dunianya, dunia yang tertutup earphone ipod dan masker.
Pemandangan yang saya saksikan tersebut sangat mudah ditemui di ibukota. Orang dengan mata letih, masker untuk menyaring polusi dan earphone pencipta dunia privasi. Tak ada anggukan kepala, senyum sapa atau unggah-ungguh dengan lingkungan sekitar. Wajar, sangat wajar bagi saya. Pendramatisasian hal seperti itu seperti mengumpat padatnya jalan protokol Jakarta di jam-jam pulang kantor, klise.
Dua minggu kemudian saya berada di halaman depan rumah Pak Sutris bersama rekan satu penempatan saya, Arga. Pak Sutris adalah seorang warga di Desa Sumber Agung, Tulang Bawang Barat. Jarak kediaman Pak Sutris dengan tempat saya tinggal sekitar satu setengah jam perjalanan. Baru sekali saya mengunjungi rumah beliau. “Di sini aja mas ngobrolnya, ben penak (biar enak),” ujar beliau sambil mempersilakan kami ke ruang tamu. Ruang itu berukuran sekitar seperempat lapangan badminton. Ada beberapa sofa yang ditempatkan untuk tempat duduk tamu.
Seminggu setelah kunjungan ke rumah Pak Sutris saya mengunjungi kediaman Ibu Dwi bersama Meiske, rekan saya yang lain. “Masuk sini mas, mbak, ngobrolnya di ruang tamu aja,” ajak ketua persatuan guru TK di kecamatan kami itu. Beberapa detik kemudian kami sudah duduk di sofa ruang tamu. Berbeda dengan kediaman Pak Sutris, ruang tamu tersebut lebih tertata rapi dengan perabotan yang lebih mewah. Terlihat beberapa sofa empuk juga dengan pajangan yang lebih mentereng ada di ruangan itu.
Ada sebuah tren menarik di desa penempatan saya. Setiap rumah yang secara bangunan apik pasti memiliki sebuah ruang tamu yang juga apik. Setidaknya ruang tamu tersebut memiliki sofa, pajangan atau pernak-pernik pendukung, dengan tambahan suguhan yang mengundang selera tatkala tamu datang. Ruang tamu menjadi begitu penting dalam pembangunan sebuah rumah.
Hadirnya ruang tamu yang tertata rapi di pedesaan sebenarnya menarik. Rumah di pedesaan pada dasarnya memiliki dua bagian penting. Depan (Ngarep) dan Belakang (Wingking). Pembagian seperti ini misalnya dilakukan orde baru dalam pemberian jatah tanah transmigrasi. Tanah transmigrasi pasti dipatok mana untuk rumah (bagian depan) dan mana untuk kebun (lahan pertanian) di bagian belakang. Karena masyarakat terbiasa dengan dapur terbuka pada akhirnya kebun juga bersinggungan dengan bagian rumah yakni dapur. Ruang belakang atau disebut wingking dalam prakteknya terkadang tak selamanya berada di belakang namun kadang berada di samping. Fungsi ini tak kemudian terpisah, keduanya membaur.
Ambil contoh saat kita hendak bertamu ke rumah seseorang maka kita akan mengetuk rumahnya. Terkadang bila tak ada jawaban dari dalam maka tetangga terdekat akan menyahut, “Menawi ten wingking Pak (Mungkin di belakang Pak)”. Sahutan itu mengindikasikan kita untuk pergi ke bagian belakang rumah dan menemui si empunya rumah. Jika ternyata benar maka kita akan mengobrol di bagian belakang rumah, tak perlu seremonial ke ruang tamu.
Hadirnya ruang tamu membuat sekat depan dan belakang tersebut benar-benar ada dan sangat tegas. Ruang tamu menghadirkan sebuah batas antara depan sebagai sebuah ruang pertemuan dan belakang sebagai sebuah ruang privat. Ruang tamu membuat sebuah garis batas yang jelas antara tuan rumah dan tamu. Buat saya hal itu tak hadir begitu saja.
Agustinus Wibowo dalam buku Garis Batas mengungkapkan hal menarik. “Garis batas adalah kodrat manusia. Tanpa disadari, kita adalah seonggok tubuh yang selalu membawa garis batas portabel ke sana ke mari. Garis batas menentukan dengan siapa kita membuka hati, dengan siapa menutup hati.”Agustinus berbicara dalam konteks pembagian batas negara. Namun jika diresapi lebih dalam apa yang ia katakan soal garis batas lebih besar dari sekedar batas negara.
Warga Jakarta dengan begitu paradoksnya membuat garis batas terhadap dirinya bahkan di ruang publik. Lihat bagaimana di dalam Bus Transjakarta semua orang membuat garis batasnya masing-masing. Ipod, masker, atau buku bisa jadi solusi terampuh membuat garis batas di dalam Bus Transjakarta misalnya. Ruang publik menjadi sebuah ruang kompetisi di Jakarta, siapa cepat dia dapat, siapa cepat dia beruntung, individu di dalamnya membuat pagar privasi yang begitu tinggi. Berbeda dengan yang terjadi dalam pedesaan, ruang publik adalah ruang pertemuan.
Tak  ada garis batas dalam ruang publik di pedesaan. Kita mengangguk, kita mengucapkan salam dan yang paling kecil misalnya kita membuka kaca helm saat berkendara motor. Ruang personal sama sekali tak punya tempat di ruang publik dalam pedesaan. Namun ruang tamu di rumah adalah sebuah awal anomali garis batas ini. 
Arga berbincang dengan Pak Sutris di ruang tamu rumahnya.
Sebelum ada ruang tamu masyarakat desa sama sekali tak memiliki kontrol ruang atas apa yang ia miliki. Kehadiran ruang tamu juga penegasan atas ruang privasi. Kebanyakan tamu akan ditaruh di ruang tamu agar ruang di dalam menjadi sebuah ruang privat bagi si pemilik rumah. Tak ada lagi istilah ngobrol ten wingking (berbincang di belakang rumah). Ruang tamu juga sebuah tanda mulai tumbuhnya kesadaran akan kesadaran teritorial.
Dalam studi antara kaitan ruang dan psikologi, kesadaran akan teritorial setidaknya mencakup tiga hal, kepemilikan, kekuasaan dan identitas. Sebelum maraknya kehadiran ruang tamu warga desa hanya memiliki kepemilikan yang absolut sementara kekuasaan dan identitas tak sepenuhnya berdiri tegak. Ruang tamu membuat ketiganya berdiri secara serentak.
Kepemilikan jelas, ruang tamu tersebut milik si empunya rumah. Kekuasaan jelas, ruang tamu itu dikuasai atas usaha si empunya rumah membedakan mana pemilik mana tamu. Dan identitas? Lihat bagaimana pernak-pernik ruang tamu, sofa yang ditaruh di ruang itu menjawab bagaimana identitas personal menjadi semakin dibutuhkan masyarakat pedesaan. Lihat juga bagaimana iklan sofa di ruang tamu semakin marak di pedesaan dalam gerai-gerai penjual sofa di sudut kabupaten.
Tentu kesadaran akan teritorial dan garis batas di rumah ini menarik. Secara tak sadar masyarakat pedesaan mulai membuat sebuah garis batas yang jelas antara ruang-ruang di rumahnya. Tentu dibutuhkan sebuah pengamatan yang lebih mendalam mengenai hal ini. Namun setidaknya ruang tamu adalah contoh kecil bagaimana garis batas tersebut telah coba dibuat.
Seorang pelayan di rumah datang membawakan suguhan teh hangat dengan cangkir bergagang kecil. Di bawah cangkir itu terdapat sebuah tatakan piring kecil dengan warna senada. “Ayo diminum tehnya mbak, mas,” pinta Bu Dwi pada saya dan Meiske. “Santai aja kalo disini, anggep rumah sendiri,” tambahnya saat kami menyeruput teh. Sulit menganggap rumah itu sebagai rumah sendiri. Sofa yang empuk, pernak-pernik pendukung dan sebuah teh hangat khas sajian di kota membuat saya merasa asing di ruangan itu. Ada garis batas tegas dalam ruang tamu tersebut. Sambil menyeruput teh saya menyadari saya bukan bagian dari rumah itu, terpisah oleh garis batas bernama ruang tamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: