Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saat istirahat sekolah saya menyempatkan diri nongkrong bersama Reno, Egi, Viki dan Mitra. Empat sekawan kelas lima ini adalah beberapa murid yang selalu bisa membuat tersenyum. Saya memang sedang butuh senyum, kondisi kesehatan bapak di Jakarta yang sedang tak baik membuat saya melarikan diri dengan mencari seutas senyum. Pagi tadi empat sekawan itu tak hanya membuat saya tersenyum.

“Pak, bapak kapan pulang?” tanya Reno sambil memainkan keong yang baru saja ia beli. “Bapak pulang November, tiga bulan lagi,” ujar saya sambil memegang keong milik Reno. “Nanti yang gantiin siapa Pak?” balas Egi cepat. “Belum tahu Gi, bapak belum tahu ada gantinya atau enggak,” jawab saya. “Yah Pak, kenapa pulang tho Pak?” tanya Mitra. Belum sempat saya menjawab Piki sudah menimpali, “Iya Pak, nanti yang sering ngomong Pasukan Kelas Lima lagi siapa Pak?” kali ini ia sedikit mendesak. “Tiap orang harus pulang Pik, tiap orang punya rumah, tugas kita pulang ke rumah kita masing-masing,” ujar saya tanpa sadar sedikit filosofis.

Mereka berempat kemudian tampak murung mendengar jawaban saya. “Kalau mau ketemu bapak caranya cuma satu, kalian kuliah, kuliah di Jakarta,” ucap saya sedikit memotivasi. “Pak Pak, kenapa musti pulang tho Pak, nanti kami dipukulin lagi,” ujar Egi pasrah. Kali ini saya tak tersenyum, hanya diam. Egi memang biasa dipukul atau dibentak oleh guru di sekolah. Dan pertanyaannya kini harus saya jawab, “Kenapa harus pulang?”.

Seorang teman saya mengatakan hidup adalah soal mencari jalan pulang. Mungkin ia ada benarnya. Namun sebelum pulang kita musti berjalan. Saya sudah berusaha berjalan sejauh ini dan harus berakhir dengan pulang? Menyerahkan diri pada gegap gempita kota yang memuakkan itu. Untuk kemudian merasa selesai.

Dalam sebuah kumpulan tulisan mengenai Mudik, (kalau tidak salah) Sobary pernah menggambarkan keadaan pulang dengan apik. Diceritakan keluarga dengan ekonomi pas-pasan hendak mudik. Sang anak kemudian menggambar rumah nenek di atas buku gambar. Sang ibu bersiap menyiapkan oleh-oleh. Kemudian berita tak diduga itu datang, sang ayah tak punya uang. Sang ibu kemudian mendatangi anaknya. Si anak menceritakan gambarnya, “Ini rumah nenek, besok kita ke sana kan ya Bu?” Sang ibu tak menjawab, ia hanya mengangguk kecil.

Pulang bisa berarti sebuah perayaan atas sebuah keringat atas sebuah jerih payah. Dari kota ke desa biasanya. Menunjukkan kota adalah sebuah butir keringat. Sementara desa sebuah perayaan akan panen keringat. Bisa berupa oleh-oleh, kalung dan gelang keemasan, atau sekedar sungkem pada yang kita anggap lebih tua. Kita selalu merayakan pulang dengan sebuah kesenangan.

Pulang juga membelah sebuah konsep besar. Ia jembatan antara rumah dan perjalanan. “Tiap orang punya rumah, tugas kita pulang ke rumah kita masing-masing,” tegas saya pada Viki tadi pagi. Namun di mana rumah?

Saya generasi yang tercecer dari rumah. Generasi yang punya jurang kuat dengan rumah. Saya menemukan rumah di mana saja. Di sini rumah itu berarti keramahan Mbah Satinah, keramahan murid saya, bukan kemacetan pagi hari yang memuakkan. Tapi pada akhirnya sesuatu yang disebut “rumah” nun jauh di sana memanggil.

Empat sekawan di depan saya terpekur tak bicara. Keong yang baru saja dibeli sudah lari menjauhi mereka. Sedikit putus asa Reno berucap, “Saya mau kuliah di Jakarta Pak”. Saya menatapnya tajam. Teringat sebuah pernyataan rekan saya lagi, hidup mungkin hanya perihal menemukan jalan pulang. Kali ini saya tak setuju, omong kosong. Mungkin hidup adalah pertarungan orang-orang yang hendak pulang. Yang menang akan membawa pulang hadiah sebuah senyuman sambil berucap, “Saya pulang” di teras depan rumah. Sayangnya tak setiap orang ingin menang.
Advertisements

One thought on “Pulang

  1. RikaNova says:

    wis tak beri reaksi sangar kuwi wek. ternyata tak hanya sangar dalam membuat jingle, tetapi juga sangar dalam menasehati anak kelas 5 SD.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: