Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Malam takbiran lalu setelah melayani beberapa anak murid yang datang ke rumah, saya mendekat ke Mbah Satinah. “Kulo rewangi bungkus tape ne Mbah (Saya bantuin membungkus tapenya Mbah),” ujar saya menawari bantuan. “Geh monggo meriki Pak Ardi (Ya silakan, ke sini Pak Ardi),” balas Mbah ramah. Ia menunjuk pojok ruang tamu yang berdekatan dengan lemari. Mungkin ia memilih tempat itu agar ia bisa menyandarkan tulang punggungnya pada lemari di belakangnya.

Seperti halnya pada beberapa kampung di dataran Jawa, di sini tape adalah menu wajib saat lebaran. Lebaran ini Mbah membuat tape lumayan banyak. “Bahane limang kilo ketan Pak (Bahannya lima kilogram ketan Pak),” ujarnya membuka obrolan. Saya membalasnya dengan sederhana, “Lare-lare kulo do seneng tape kok Mbah, telas mestine (Anak-anak murid saya senang makan tape kok Mbah, pasti habis kok)”. Mbah hanya mengangguk kecil tanda setuju.

Kami baru mulai membungkus beberapa tape ketika Mbah tiba-tiba membuka obrolan lagi, “Pak Ardi, lebaran sesok kulo kalian sinten bungkus tape ne (Pak Ardi, lebaran depan saya dengan siapa membungkus tapenya)?”. Saya berhenti sejenak mendengar pertanyaannya. “Geh kan wonten Mamak kalian Yuyun Mbah (Ya kan ada Mamak dan Yuyun Mbah),” jawab saya seadanya. Mamak sendiri adalah wanita yang sering berkunjung ke rumah Mbah, sementara Yuyun anak Mamak yang duduk di kelas 4 SD. Mbah sekali lagi mengangguk kecil. Anggukannya tak seperti biasa, saya tahu ada kekecewaan dalam anggukannya.

Kami meneruskan membungkus tape tersebut tanpa banyak bicara lagi. Kami tahu ini lebaran terakhir bagi kami. Banyak pelajaran yang saya ambil dari Mbah. Dan ia pasti menganggap saya sebagai anaknya sendiri, anak nakal yang sulit dibangunkan dari tidur pun anak bodoh yang selalu gagal membuat kayu bakar tanpa minyak. Di luar suara petasan menggelegar tatkala mentri agama di televisi menyatakan besok adalah lebaran.

***

Suara telpon itu hadir mengagetkan lamunan saya. Di layar telpon selular saya tertulis tiga huruf, “Ibu”. Saya tahu Ibu pasti akan menanyakan kabar saya sekaligus mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Batin. Sudah lama tradisi ini muncul. Sejak tinggal dengan keluarga Pakde di Jogja saat kuliah saya tak pernah berlebaran bersama kedua orangtua saya. Ceritanya akan selalu begitu, saya menghabiskan malam takbiran sendiri untuk kemudian ibu menelpon dan mengucapkan selamat lebaran. Saya selalu kalah cepat menelpon dan justru menjadi yang ditelpon.

“Assalammualaikum Bu,” buka saya sangat standar. Ibu kemudian menyergap saya dengan banyak pertanyaan mulai dari sedang apa, melakukan apa sampai besok lebaran di mana. Saya menjawab semuanya perlahan-lahan. Tampak kebahagiaan terpancar dari nada suaranya. Anaknya baik-baik saja, mungkin itu pikirnya. Ia kemudian menyerahkan gagang telpon pada Bapak.

Suara bapak lemah, tenaganya belum pulih benar. “Maaf lahir batin yo le,” ujarnya malam itu. Tahun lalu suara itu masih kuat, tahun ini kekuatan itu memudar. Saya tahu bapak kangen dengan saya. Selalu tahu tanpa pernah ia mengungkapkannya. Suaranya akan menukik tajam tatkala ia kangen, ada kebimbangan meneruskan rentetan kalimat dan ya ia akan kembali menyerahkan gagang telpon pada ibu. Saya hanya tersenyum kecil.

“Sinten Pak?” tanya Mbah Satinah tiba-tiba. “Ibu kulo (saya) Mbah,” jawab saya singkat. “Pak Ardi lebarane kaleh Mbah sakniki, mboten kaleh ibu, pripun tho Pak Ardi niku (Pak Ardi lebarannya malah sama Mbah sekarang, tidak sama ibu, gimana tho Pak Ardi)?” tanyanya retoris sambil tertawa. “Geh mboten pripun-pripun Mbah (Ya tidak gimana-gimana Mbah),” balas saya dan kami tertawa bersama. “Pripun” adalah lawakan internal kami, ketika kami tidak tahu harus menjawab apa maka “Geh mboten pripun-pripun” adalah jawaban pamungkas untuk semuanya. Kami kembali tertawa bersama sambil membungkus tape. Di luar suara petasan masih meletup dengan kerasnya.

***

Pesan dari Gatya datang tepat ketika saya dan Mbah berhenti tertawa. Gatya adalah rekan Pengajar Muda yang bertugas di Halmahera Selatan. Sebelumnya saya memang menceritakan keadaan saya yang jarang berlebaran dengan orangtua. Balasan Gatya sederhana, “Oke boi, resolusi 2013 lah, lebaran ama bonyok, mumpung masih ada we ;)”. Salah satu teman menyampah saya kali ini berpesan bijak. Saya mengangguk membaca pesan dari Gatya.

Malam itu saya mengalami apa yang saya sebut dengan sindrom epos lebaran. Semua epos lebaran adalah soal jarak. Segala soal jarak dikemas ulang, dalam cerita pendek misalnya. Cerpen Umar Kayam bicara soal jarak yang tak bisa digapai, sebut saja “Lebaran di karet, di karet”. Cerpen Sobari bicara soal jarak yang terhalang ekonomi. Lebaran adalah sebuah temali penghapus jarak, padanya semua orang menyusun temali agar jarak itu hilang. Untuk kemudian mengambil jarak kembali setidaknya secara geografis. Saya lama tak menghilangkan jarak tersebut.

Tiba-tiba saya teringat ucapan Dina tatkala kami berjalan di trotoar Brunei yang sepi. “Brunei cocok dijadiin tempat berhenti, dalam berhenti sebenernya kita juga bergerak, pikiran kita kemana-mana, menurut gw sih gitu,” ujarnya tiba-tiba. Ia ada benarnya, malam takbiran lalu saya seperti mengamini apa yang diucapkan Dina. Berhenti bukan berarti kita tak mudik. Semua epos lebaran menggunakan logika cerita sederhana itu, berhenti namun lebaran menggiring pikiran kemana-mana.

Mbah merapikan panci tempat menaruh bungkusan tape. Kini semua tape sudah terbungkus rapi. Saya berpamitan ke kamar. Malam itu saya mengeluarkan foto kecil keluarga saya dari lemari baju. Dalam foto itu, ibu tersenyum bahagia memandang kakak saya yang sedang berjalan. Kakak saya yang lain terlihat menatap televisi dengan lugunya. Kami terlihat bahagia di sana. Tak ada jarak yang memisahkan. Menyenangkan rasanya bila bisa hidup dalam foto itu. Tak terasa saya menghabiskan banyak waktu menyaksikan foto tersebut. Di luar suara petasan tak lagi terdengar.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: