Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saya masih mengunyah sayur tahu buatan ibu ketika bapak mendatangi meja makan. Ia berkata sederhana, “Mbok abis ngajar balik ke Jakarta le, kuliah lagi sambil temenin bapak ibu, udah enggak ada yang di rumah kecuali kamu,” ujarnya pada saya. Untuk menghormatinya saya hanya menganggukkan kepala. Bapak kembali mencoba mengajak mengobrol, dahinya sedikit berkerut, tanda ia berharap banyak.
“Sebelum kuliah kan kamu bisa nganter ibu buka toko, bapak udah enggak bisa nganter lagi soalnya, pulang ke rumah yo le bar ngajar (pulang ke rumah ya abis ngajar),” kembali ia berharap. Saya menundukkan kepala, menyantap kembali sayur tahu di hadapan saya. Rasa tahu di sayur buatan ibu sedikit berbeda setelah perbincangan itu.
Perbincangan saya dengan bapak bisa terjadi karena saya sedang mengambil cuti. Kakak saya menikah dan saya sedikit membantu mempersiapkan pernikahannya. Dengan pernikahan kakak saya maka tinggal saya yang akan tinggal di rumah pasca saya purna tugas November nanti. Ya purna tugas berarti kembali dan cuti ini seperti sebuah pemanasan akan sebuah keseharian di purna yang akan datang. Aneh rasanya.
Mungkin benar apa yang diucapkan banyak orang. Terkadang peperangan sebenarnya terjadi ketika kita meletakkan senjata. Kembali ke kehidupan keseharian dan melupakan apa yang pernah kita lakukan. Medan perang mudah untuk ditaklukkan tapi kita tak kan pernah punya strategi cukup untuk menang di rumah dan merayakan sebuah keseharian. Ia begitu membosankan.
Saya ingat sebuah adegan di film Jarhead, Anthony “Swoff” Swofford menatap ke arah luar jendela. Ia mengingat perang yang dulu ia kutuk. Ia mengingat bagaimana komandannya mengajari ia berperang. Ia ingat letusan api di medan perang. Kini di jendela itu ia merindukan apa yang dulu ia kutuk, ia menang dalam peperangan namun kalah dalam keseharian. Ia kalah oleh rutinitas pasca perang. Kemudian terdengar narasi dari Swoff, “Every war is different, every war is the same”
Swoff tak sendiri, ada secuil kisah yang saya suka dari buku “Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme: Kesaksian dari Tanah Bencana”. Adalah secuplik kisah Handschuh yang begitu menarik perhatian saya. Ia adalah fotografer New York Daily News yang memotret WTC ketika kejadian 9/11. Orang lebih mengenalnya lewat foto-foto puing WTC yang membuat dunia menyaksikan kejadian itu serasa di depan mata. Namun saat memotret itu ia terhempas dan harus dirawat selama lima bulan di rumah sakit.
Pulang dari rumah sakit ia menyatakan pengunduran dirinya pada media tempat ia bekerja. Setelah mendapatkan sebuah karya yang begitu apik ia memutuskan mundur. Ada sebuah trauma mendalam pada dirinya. Ia merasa kalah ketika ia berhasil membuat sebuah karya yang bisa dibilang amat “kanon”. Ia mundur dari medan perang wartawan, ia menjalani kehidupan sehari-hari dan Handschuh tak menjadi apa-apa. Ia kalah melawan keseharian.
Swoff dan Handschuh tahu ada yang lebih berat dari medan perang. Menghadapi kehidupan sehari-hari, bertemu orang di sekitar yang berubah. Bertemu dunia yang sama sekali berbeda. Ada kegamangan di dalamnya, kegamangan yang lebih berat dari sekedar mengangkat senjata. Kegamangan yang lebih berat dari sekedar berdiri di depan kelas dan menyampaikan pada anak di depan saya ada dunia luas di luar sana.
Saya kini tahu apa yang ditakutkan Swoff dan Handschuh. Medan perang sebenarnya memang ketika kita merasa perang sudah selesai. Ketika kita merasa ada keseharian dalam kehidupan. Keteraturan, ya itu momok terbesar dalam hidup ini bisa jadi. Pada keteraturan kita tahu kita kalah, pada keteraturan kita tahu seperti kata Swoff, peperangan hanya berpindah tempat. Ironisnya perang itu berbentuk sebuah kata bernama rumah.
Di meja makan itu saya tahu Swoff dan Handschuh benar adanya. Kembali nyatanya lebih berat dari pergi. Sayur tahu yang berubah rasa jadi bukti sederhana. “Kasihan ibu kalau ke toko harus sendirian, apa lagi yang mau kamu cari? Udah pulang aja temenin bapak ibu,” ujar bapak sebelum ia pergi dari meja makan. Di meja makan itu saya tahu saya mengamini Swoff, “Every war is different, every war is the same”. Tidak lama lagi saya tahu perang itu bernama keseharian. 

Advertisements

One thought on “Swoff, Handschuh dan Meja Makan

  1. amimoys says:

    akhirnya? kembali ke rumah atau pergi?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: