Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Gilang menjabat tangan saya erat-erat sambil mengayunkan ke atas dan bawah. “Asu sui tenan ra ketemu Cuk (Sialan, lama banget kita enggak ketemu),” ujarnya pada saya. Menjawab sapaannya saya hanya tertawa terbahak-bahak. Kami kemudian berpelukan ala pemain basket setelah mencetak tiga poin. Ia memukul pundak saya keras-keras. Mungkin itu semacam cara kami mengobati kerinduan.
Wajar jika respon kami sedikit berlebihan. Gilang adalah teman akrab saya semasa kuliah dulu. Kami pernah menginap berdua di warung internet selama beberapa hari di kawasan Bandung karena kehabisan uang tatkala ke kota kembang tersebut. Tentu ada keharuan ketika saya bisa menemuinya lagi, menjabat tangannya lagi dan berinteraksi khas Jawa Timur dengan akhiran Cuk di tiap kalimat.
Kami kemudian duduk di pojok sebuah restoran. “Piye uripmu Cuk (Hidupmu sekarang bagaimana)?” ujar saya membuka obrolan. Ia tertawa mendengar pertanyaan saya. Namun bukan jawaban atas pertanyaan itu yang saya dapatkan, ia malah bertanya hal lain. “Koe ndue (kamu punya) bukunya Durkheim? Aku disuruh baca itu sama dosenku,” ujarnya dengan raut muka sedikit berubah.
Ternyata Gilang kini menempuh pascasarjana komunikasi. Tentu ia membutuhkan Durkheim, tokoh ini penting dalam kajian komunikasi dan khususnya sosiologi di awal perkembangannya. “Aku mau jadi dosen We,” tambahnya. Dan kini kami tak lagi tertawa-tawa. Ia kemudian menyendok bakso  dalam mangkuk di mejanya sambil menceritakan ia mau mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Kami tahu perbincangan ini tak lagi gelak tawa.
Dan ya kami berdiskusi soal tujuan berikutnya. Soal kawan yang tak lagi sejalan. Soal menciptakan kemebul nasi yang lebih menggiurkan dari mengaplikasikan ilmu kuliahan. Soal cicilan rumah yang bisa jadi momok dua tiga tahun ke depan. Kini kami menyeruput teh kemasan di depan kami, di kepala kami berlintasan teman-teman kami, mereka yang kami rindukan.
“Tuntutan Lang, enggak ada yang salah, umur wes tuo yo an (Umur juga sudah tua),” ujar saya padanya. Gilang hanya menganggukkan kepala, gelak tawa itu kini menghilang. “Kalau kita mau kita pasti bisa kok Lang, kalau ada kemauan pasti ada jalan, enggak usah ngikutin jalan banyak orang,” tambah saya. Dalam hati saya tahu lidah mudah mengecap tapi hati dan kepala sulit diyakinkan. Ya saya ragu dengan permainan lidah saya tadi. “Asu abot yo omongane dewe Cuk (Sial, berat ya obrolan kita),” timpalnya dan kami kembali tertawa.
Obrolan dengan Gilang membawa saya pada sebuah kebingungan. Saya tahu tak ada tempat mengadu. Tapi saya tahu ada kegelisahan yang selalu sama dengan yang kami alami. Saya tahu saya harus pergi ke mana.
***
“Mas lurus aja ke pojokan, nanti di bawah pohon gede ada orang yang lagi nyemen, nah di depannya ada papan nisan kecil, itu dia tempatnya,” jelas Pak Saiful. Pria paruh baya itu adalah penjaga makam Museum Taman Prasasti Tanah Abang. “Hati-hati mas jalannya, lagi renovasi soalnya,” ujar pria yang siang itu mengenakan baju putih dengan kerah yang sudah melar. Belum genap saya melangkahkan kaki ia kembali berucap singkat, “Entar kelihatan kok Mas di nisan ada namanya Soe Hok Gie,” ujarnya pelan.
Sedetik kemudian saya melompat-lompat kecil menghindari tumpukan tanah merah dan pecahan marmer. Di kiri dan kanan saya para pekerja sedang merenovasi makam di Museum Taman Prasasti, Tanah Abang. Beberapa pekerja juga sedang merapikan nisan besar yang berukuran besar. Ukurannya bisa mencapai 2×3 meter, mirip ukuran sebuah kantung tidur. Sekitar dua ratus meter melangkah saya menemukan nisan kecil itu, sebuah nama tertera kecil di nisan tersebut, “Soe Hok Gie”.
Nisan kecil itu berukuran paling kecil diantara nisan lainnya. Di samping kiri nisan tersebut ada empat buah nisan berukuran besar milik orang Belanda. Nisan itu berada di pojok barisan, tepat di bawah pohon tanjung dan angsana. Daun gugur kedua pohon tersebut menutupi tanggal lahir dan kematian si pemilik nisan. Sebuah patung kecil menghiasi nisan tersebut. Semacam peri dari mitologi Yunani, saya tak tahu tepatnya. Saat saya membuang daun gugur di nisan tersebut pundak saya ditepuk oleh seorang tukang bangunan.
“Saudaranya mas?” tanya Yanto seorang petugas renovasi makam di sana. Pria berusia awal 20-an ini mengenakan baju putih dengan bekas tanah merah di bagian lengan kanannya. “Bukan mas, cuma mau ziarah aja,” ujar saya dengan tambahan senyum saat mengucapkannya. “Banyak mas yang ke nisan ini, padahal nisannya kecil, bingung kadang saya enggak pernah tahu nama ini, dia pahlawan atau apa sih mas?” ucapnya sedikit bingung. Saya hanya tertawa kecil mendengar pertanyaannya. “Buat sebagian orang mungkin iya mas, buat yang lain saya enggak tahu,” jawab saya seadanya. Saya tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menganggukkan kepala kecil. “Kasian kalau dia pahlawan nisannya udah lama miring, mau dibenerin lupa terus,” tambahnya singkat sebelum ia berpamitan bekerja lagi.
Kini saya kembali menatap nisan tersebut sendiri. Nisan kecil itu miring sebelah. Seperti akan jatuh ke bagian kanan. Tanah merah di sekitarnya juga tak rata, mungkin hasil tumpukan galian tanah renovasi. Tokoh semacam peri mitologi Yunani di atasnya tampak muram, ia kecil dan sendiri. Tak kuat menahan beban kemiringan nisan.
Dalam hati saya mengucap “Hai Gie, saya sudah melaksanakan satu bagian hidup saya, bagian hidup yang kau sebut Buku, Pesta dan Cinta. Tapi Gie kenapa kau tak pernah bercerita ada kehidupan yang lebih berat setelah itu. Ah kau pernah menceritakannya mungkin, namun saya terlalu terlena dengan rentetan kehidupan kampus.”
Diantara pohon tanjung dan angsana itu saya teringat tulisan Herman Lantang untuk jenazah dalam makam di depan saya ini. Kalian pasti pernah kangen dengan masa itu bukan, masa yang disebut Lantang dengan, “Masa yang berazaskan study, enjoy masa muda dan hubungan akrab kompak saling mengasihi”.
Masa itu sudah saya lewati dan lantas setelah masa itu kami akan terpecah belah. Pada periuk nasi, pada altar pernikahan atau rengekan bayi. Mungkin Gie ada benarnya, mereka yang beruntung adalah mereka yang mati muda. Sehari sebelum ulang tahun ke dua puluh tujuh ia mengamini perkataannya sendiri. Kini ia ada di bawah nisan ini. Di bawah nisan kecil nan miring.
Beberapa daun kering dari pohon angsana jatuh kembali di nisan ini. Ia menutup sebuah bagian penting dalam marmer putih kecil tersebut. Di bawah tulisan “17 Desember 1942 – 16 Desember 1969” daun itu jatuh. Saya mencoba menyingkirkan daun tersebut dan ya keresahanmu terbaca Gie. “Nobody knows the troubles. I see nobody knows my sorrow”.
Saya melangkahkan kaki pergi dari nisan itu tepat ketika Adzan Ashar berkumandang. Beberapa pekerja kini mulai menuangkan air mineral ke gelas-gelas plastik yang ditaruh di atas nisan-nisan besar. Di atas nisan-nisan besar mereka mengisi tenggorokan dan bercengkrama seadanya. Yanto menganggukkan kepala ketika saya memandangnya dari kejauhan. Ia beranjak ke makam Gie, memandang nisan kecil tersebut. Adzan Ashar masih lamat-lamat terdengar dari masjid di samping makam.

Advertisements

One thought on “Di Bawah Pohon Angsana

  1. Ayu Welirang says:

    Ah, sudah mampir ke sana rupanya. Jangan lupa mampir Mandalawangi, buat menyatu dengan abunya Gie. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: