Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Pria itu berdiri di perempatan, mengalungkan sebuah tanda penunjuk jalan. Topi bundarnya berwarna kuning, bajunya hijau dan celana yang entah harus disebut warna apa, gabungan kuning dan merah yang tak jelas. Di dadanya tergantung sebuah tanda panah besar ke arah kanan. Penunjuk jalan itu berisi tulisan besar adanya pusat perbelanjaan baru di daerah tersebut.
Tukang ojek yang memboncengi saya mengendarai motor terlalu cepat, sehingga saya tak dapat mengingat dengan jelas nama mal baru tersebut. Saat itu saya sedang menuju daerah Kemang dari Blok M. Hampir di tiap persimpangan jalan saya menemui sosok-sosok anonim penunjuk arah tersebut. Dengan topi, warna baju dan celana yang sama. Warna-warni keceriaan yang coba ditampilkan. Mencoba menjadi pengantar akan adanya pusat perbelanjaan baru. Menjadi sebuah mercusuar kecil di tengah jalanan Jakarta yang monoton. Sayang ia melupakan satu hal penting, wajah para “manusia instalasi” itu sama sekali tak berwarna, tertekan.  Ia berwarna namun sangat monoton.
***
Kini saya duduk di foodcourt kawasan Ambasador. Beragam pilihan makanan tersedia di sini, tinggal pilih. Saya memilih duduk di pojok. Alasannya karena saya senang menonton orang-orang berlalu-lalang di gerai cepat saji. Tepatnya batas antara beragam gerai kecil dengan yang lebih besar seperti Hoka-Hoka Bento dan Bengawan Solo.
Mata saya kemudian tertuju pada pelayan restoran cepat saji tersebut. Pria berusia 20-an awal itu memakai penutup kepala seperti kopiah berwarna biru. Badannya tertutup oleh sebuah pakaian khas Asia Timur. Seperti kimono dengan belahan leher berbentuk V yang panjang. Di tengah-tengah baju tertulis huruf kanji yang tak saya mengerti artinya. Pakaian itu berwarna putih dengan ornamen bunga dan batang bambu berwarna ungu.
Ia berdiri di depan kasir dengan mata yang bergerak ke kiri dan kanan. Tentu ia mencari pelanggan yang selesai makan agar piringnya bisa segera dirapikan. Nyatanya “Pria Asia Timur” ini memang begitu sigap ketika seorang pelanggan meninggalkan kursinya. Mengelap meja, merapikan bangku lantas mengambil piring kotor. Kecepatannya merapikan meja bagai serangan seorang samurai, begitu cepat.
Kini ia menunggu lagi di depan kasir. Beberapa pelanggan masih menyantap makanan khas Asia Timur yang disajikan restoran cepat saji tersebut. Ia berdiri dengan pakaian “kebesarannya” menunjukkan ini restoran bermenu Asia Timur. Topi bulatnya, warna dan ornamen dalam pakaiannya begitu timur, sayang restoran itu kembali melupakan satu hal. Wajah sang pria begitu tertekan dalam balutan pakaian kebesarannya. Pakaian kebesarannya menjadi kosong, ornamen yang tak berbicara apapun.  
***
“Bade tanglet Pak, kok nganggo blangkon, saking Jawi gih Pak (Kok memakai blangkon, bapak dari Jawa ya)?” tanya saya spontan ketika membuka pintu taksi di tengah hujan lebat. “Enggih mas, kulo saking Pati, lha mas e kok saget boso Jawi saking pundi (Iya Mas, saya dari Pati, lha kok Mas bisa berbahasa Jawa, emangnya dari mana)?” balasnya singkat. Dan perjalanan taksi menuju daerah Senayan pun kami isi dengan perbincangan bahasa Jawa.
Namanya Budiono, seorang supir taksi beranak tiga. “Mung jenenge seng mirip Wakil Presiden Mas, rejekine adoh (Hanya namanya yang mirip wakil presiden Mas, rejekinya jauh)” ujarnya sambil tertawa. “Tapi Pak Budiono belum tentu bisa narik taksi lho Pak,” balas saya disertai derai tawa kami berdua.
Sambil membenarkan blangkonnya yang miring ia bercerita mengenai kegiatannya. Bapak yang sudah lima tahun menjadi supir taksi ini bercerita ia mendirikan perkumpulan Orang Pati di Jakarta. “Dua bulan sekali kumpul mas, silaturahmi warga Pati yang tinggal di Jakarta, ben gayeng wae mas (biar seru aja mas),” ujarnya. Pria berusia 40-an tahun ini kemudian bercerita alasannya memakai blangkon di taksi.
“Kulo nganggo blangkon niki wonten sebab e lho mas (Saya memakai blangkon ada sebabnya lho mas),” kali ini ia sedikit menunjukkan mukanya kepada saya yang duduk di belakang. Kumis lebatnya tampak sedikit naik tanda memancing agar saya bertanya apa alasannya memakai blangkon. “Biar kalau orang Jawa apalagi Pati yang naik bisa saya ajak kumpul-kumpul bareng saya, solidaritas wong (orang) Pati lah mas,” jelasnya sambil tersenyum lepas dan menghadap spion tengah agar wajahnya terlihat oleh saya.
Bukan tanpa alasan jika supir yang mengaku rejekinya jauh dari wakil presiden ini senang berkumpul dengan orang Pati. Ia merasa Jakarta kota yang keras. “Saudara terdekat kita ya orang Pati mas,” ungkapnya, kali ini tanpa sebuah senyuman di bawah kumisnya yang lebat. “Kalau boleh milih ya milih hidup di Pati Mas,” lanjutnya. Saya tahu ia tak mau ditanggapi, ia sekadar ingin didengarkan.
Taksi terus melaju melewati gedung-gedung tinggi daerah Senayan. Kini kami terdiam. Saya kembali mengingat bagaimana blangkon yang ia pakai menarik perhatian saya. Penutup kepala khas masyarakat Jawa itu bukan sekedar ornamen fisik yang menempel, ia memakainya sebagai identitas. Blangkonnya yang mengingatkan dirinya akan Jawa, akan Pati tepatnya.
“Mas, udah sampai Pasific Place, mal e wong sugih (Malnya orang kaya),” tegurnya membangunkan lamunan saya. Mendengar itu saya hanya tersenyum simpul. Saat saya berjalan meninggalkan pintu, ia memanggil saya. “Mas, maturnuwun,” sambil mengangkat blangkon yang selalu menempel di kepalanya. Saya menundukkan kepala tanda hormat.
Budiono hanya memakai blangkon sederhana. Bajunya tak kalah simpel. Sebuah seragam biru taksi seperti umumnya supir kebanyakan. Tapi ia tak melupakan satu hal penting. Wajahnya sumringah, ia masih punya identitas di tengah kerasnya ibukota. Ia tak butuh banyak ornamen dalam kesehariannya, ia hanya butuh identitas. Sesuatu yang sulit ditemukan di belantara ibukota. Pada Budiono saya percaya Jakarta tak sekedar dipenuhi patung-patung bergerak yang menjemukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: