Sidekick

Urip mung mampir ngejus

“Mungkin ini terakhir kali We,” bisik Edi pada saya malam itu. Saat mengucapkan itu ia mencoba mengembangkan senyum di bibirnya. Saya menatapnya dalam-dalam. Ekspresi mantan akuntan ini tak seperti biasanya, matanya berkaca-kaca, wajahnya terlihat letih dan ada kecemasan dalam senyumnya. Saya hanya menganggukkan kepala mendengar bisikannya. “Nyantai Di, just another goodbye kok,” balas saya. Tentunya sambil mencoba mengembangkan senyum penuh kecemasan.
Jumat malam itu bukan hanya saya dan Edi yang mencoba tersenyum. Ada tiga puluh orang lebih mencoba menyunggingkan senyum malam itu. Pepatah lama mengatakan kadang senyum obat mujarab menyembunyikan kesedihan, malam itu saya mengamininya. Beberapa gagal menyembunyikan, yang berhasil mencoba menguatkan.
Sambil menepuk pundak Fitut saya mencoba mencerna apa yang dikatakan Edi. Ya boleh jadi ini terakhir kali Pengajar Muda angkatan 3 berkumpul. Malam itu tepat tanggal 16 November kita menjalani hari terakhir orientasi pasca penugasan. Sehabis mencoba menenangkan Fitut, sekali lagi saya menundukkan kepala, tak terasa sudah setahun lebih bertugas.
Mata saya kemudian mencoba memandang wajah-wajah di lingkaran itu. Terlihat Gatya berlari kecil memutar ulang video perpisahan pra penugasan setahun lalu. Sorot lampu infocus menayangkan gambar yang sama dengan keadaan kita saat ini. Membentuk lingkaran, bergandengan tangan. Hanya satu yang berbeda, kita tersenyum lepas menyambut penugasan, malam itu senyum itu juga ada, sayang fungsinya berbeda. Saya hanya menelan ludah menyaksikannya.
Saya kembali memalingkan wajah dalam lingkaran besar kita malam itu. Sambil membenarkan topi abu-abunya Bang Jogi dengan suara khasnya bersenandung lagu “Pagiku Cerahku”. Di lirik “Kurindukan dirimu, di depan kelasku” ia mengusap bagian bawah matanya. Mungkin ia merindukan momen itu, mungkin juga kita semua. Bukankah kita selalu mengenang sebuah momen justru ketika kita meninggalkannya? Malam itu setidaknya Bang Jogi menyetujui pendapat itu.
Lingkaran itu kini tak lagi bulat, beberapa dari kita saling menyalami satu per satu. Tepat ketika itu saya ingat Adi dengan suara lantang melontarkan sebuah ucapan terbaik malam itu. “Teman-teman selamat menjalani penempatan yang sebenarnya,” tuturnya malam itu. Ia tak sedang melakoni perannya sebagai lakon teater seperti biasanya, malam itu ia menjadi dirinya sendiri.
Dan kini saya hanya bisa mengenang lingkaran itu, tentu dengan latar ucapan Adi. Kita tak lagi berada di sana. Malam ini saya kembali mengerjakan pekerjaan saya sebelum berangkat mengajar. Mungkin Edi, Fitut, Gatya, Bang Jogi pun kita semua juga sedang merajut mimpi kita setelah penugasan. Mimpi yang pastinya berbeda-beda. Mengutip Adi kita kini menjalani penempatan kita sebenarnya.
Entah kenapa renungan mengenai ucapan Adi membawa saya pada sebuah sekuen Novel Amba karya Laksmi Pamuntjak. Tokoh novel itu bernama Bisma. Ia seorang dokter yang dihukum sebagai tahanan politik di Pulau Buru. Setelah puluhan tahun mendekam di Buru ia diperbolehkan pulang ke Jawa. Tanpa dinyana beberapa waktu kemudian ia kembali lagi ke Buru. “Kemanapun saya pergi Buru adalah akar saya,” alasannya saat kembali.
Ucapan Adi adalah oposisi biner dari Bisma. Adi meminta kita membawa akar itu kemanapun kita pergi. Bisma meminta kita menguatkan akar itu, di tempat akar itu berada. Ia seperti kisah klasik para napi dalam Shawshank Redemption, kepulangan adalah sebuah kepergian yang lain, ironis.
Meski ironis Bisma ada benarnya, akar itu akan selalu ada. Malam ini saya mungkin merindukan akar itu. Pun mungkin beberapa dari kita. Tapi Bisma lupa, ia meninggalkan banyak hal ketika ia berpikir kembali ke akarnya. Ia tak siap dengan perpisahan. Sialnya hidup adalah soal perpisahan satu ke perpisahan lain. Mereka yang siap dengan perpisahan adalah mereka yang siap menjemput pertemuan selanjutnya.
Saya kembali mengingat lingkaran malam itu. Ucapan terakhir Edi, usapan Bang Jogi di bagian bawah matanya, tetes air mata Vivin, pun ucapan Adi adalah bukti kita mencintai akar itu. Malam itu secara tak langsung kita menggelengkan kepala untuk Bisma. “Akar itu bisa dibawa ke mana saja Bisma,” mungkin itu yang akan kita ucapkan tepat di depan hidung Bisma.
Dan ya lingkaran itu kini telah tersebar. Kita hanya bisa mengingatnya sesekali. Tugas kita tak lagi sekadar di lingkaran itu. Seperti kata Adi tugas kita kini adalah membangun hidup di penempatan sebenarnya. Kelak ketika anak saya bertanya mengenai kalian saya takkan menutupnya dengan “Bapak pernah di lingkaran itu”. Saya akan menutupnya dengan mengatakan, “Kesamaan akarlah yang membuat kita terus menjadi lingkaran”. 

Advertisements

One thought on “Pada Lingkaran Itu

  1. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: