Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saat berkunjung ke Kineruku dua minggu lalu, saya diajak piknik oleh Mas Budi, “kepala sekolah” perpustakaan tersebut. Kurang lebih ajakannya seperti ini, “Koe seneng piknik tho Di? Sesok ono piknik nang Babakan Siliwangi, ono SwimmingElephants barang (Kamu suka Piknik kan Di? Besok ada piknik di Babakan Siliwangi, ada Swimming Elephants segala),” ajak Mas Budi yang sebelumnya hanya saya kenal via dunia maya. Saya kemudian hanya menjawab klise, “Tak usahakke mas (Saya usahakan Mas)”.
Esoknya jawaban klise saya tak sekadar menjadi pemanis obrolan. Saya memutuskan untuk ikut piknik tersebut. Namun karena buta dengan kota Bandung saya hanya berputar-putar di arena lari Babakan Siliwangi. Sampai saya memilih menepi di pinggir lapangan tenis yang lumayan teduh.
Delapan orang pria matang terlihat sedang bermain tenis di sana. Pakaiannya tipikal iklan pria kelas menengah di toko olahraga dalam pusat perbelanjaan. Polo shirt, celana pendek dengan logo brand tertentu di bagian bawahnya, raket Wilson, tak ketinggalan sepatu tenis atau lari dengan sol yang beragam. Empat orang bertanding di lapangan, sementara sisanya mengobrol di pinggir. Saya sengaja menguping obrolan para pria matang ini.
Seorang yang memakai polo shirt putih berlengan jingga memulai perbincangan. Ia menceritakan prestasi anaknya di sekolah. Menurutnya meski nakal anaknya sangat kritis di kelas. Rekannya yang lain menimpali dengan mengatakan, “Anak lo sifatnya turun bapaknya tuh”. Yang lain mengamini perkataan tersebut dengan tertawa secara berjamaah. Obrolan kemudian bergulir soal bisnis mereka, urusan kantor dan hal remeh temeh seperti tren sepatu tenis.
Mendengar semua itu pikiran saya kembali meloncat pada sebuah buku di Kineruku. Buku itu terletak di rak pojok perpustakaan tersebut. Warnanya putih dengan cover bertuliskan huruf jepang atau mandarin (saya tak tahu perbedaan kedua huruf tersebut). Karena judul yang ditulis dengan huruf ala Asia Timur itu pula saya tak tahu apa judul buku tersebut. Buku itu sangat sederhana namun menarik buat saya.
Sang penulis buku tersebut menuliskan rentetan tipikal sifat manusia dari usia 1 tahun sampai 100 atau 96 tahun, saya sedikit lupa. Di tiap jenjang usia akan ada satu tokoh yang mewakili usia tersebut beserta penjelasan mengenai tipikal kita di usia itu. Untungnya penjelasan tersebut menggunakan Bahasa Inggris, tak seperti huruf di kovernya. Dengan alasan personal maka saya membalik buku tersebut ke halaman tipikal manusia ketika berusia 24 tahun.
Usia 24 tahun diwakili oleh Gandhi, dengan penjelasan yang kurang lebih seperti ini, “Usia ini adalah masa ketika kita berdiri di depan untuk menghalau ketidakadilan yang ada di sekitar kita”. Saya hanya tersenyum kecil membaca penjelasan tersebut. Kemudian saya membalik ke halaman selanjutnya, tipikal usia 25 tahun. Penjelasan usia ini sangat singkat dan padat menurut saya. Begini kira-kira bunyinya, “Usia ketika kita tak pantas makan sendirian”. Bersama Edi, rekan saya yang menemani membaca di Kineruku, kami terbahak. Ternyata tipikal manusia bisa begitu jauh melompat dalam interval yang berdekatan.
Saya kembali melihat delapan pria matang di depan saya. Mereka tak lagi memukul bola tenis dengan raket berlogo huruf “W” besar di senarnya. Kini mereka berkumpul di pinggir lapangan mengobrol banyak hal remeh temeh lain. Sesekali mereka mengenang masa muda dalam obrolannya. Sangat mirip dengan salah satu bagian di film Jakarta Hati yang dimainkan oleh Slamet Raharjo.
Mungkin setiap dari kita pernah menjadi Gandhi di tipikal usia 24. Atau lebih ekstrem mengutuk mereka yang berdasi pun berpolo shirt di lapangan tenis. Tapi jika mau sedikit iseng, coba bayangkan hidup kita di usia ketika sudah matang. Mungkin kita akan berada di sisi para pemegang raket tenis tersebut. Tanpa peluh keringat, tanpa perdebatan berkepanjangan, hanya soal tenis dan keluarga. Mungkin.
Ketika memikirkan hal tersebut pesan pendek dari Mas Budi sampai di telepon selular saya. Ia menyampaikan bahwa dirinya sudah di lokasi piknik. Saya kemudian mengabarkan bahwa saya tersesat di lapangan tenis dengan sedikit memberi sentuhan guyon. “Aku lagi liat bapak-bapak main tenis, malah mikir biar pas tua gaya harus mulai belajar tenis,” ketik saya dalam pesan pendek. Tak mau kalah, selain memberi arahan menuju lokasi piknik ia membalas dengan mengetik, “Menjadi tua dengan elegan ya”. Saya tersenyum membaca pesan pendeknya.
Sekitar lima belas menit kemudian saya sampai di lokasi piknik. Kain kotak-kotak berwarna merah putih, keranjang anyaman berisi buah, cupcakes yang diedarkan gratis menyemarakkan piknik tersebut. Dalam pembuka hajatan piknik tersebut salah seorang inisiatornya mengatakan selain bersenang-senang, tujuan piknik ini adalah wujud kecintaan mereka agar tempat tersebut tak dikomersialisasikan.
Sambil mengunyah belimbing saya hanya tersenyum menikmati piknik tersebut. Mungkin ibarat buku berkover tulisan mandarin di Kineruku, saya masih berada di halaman-halaman pertengahan. Para pria matang pemain tenis tersebut sudah melampaui halaman tersebut entah berapa tahun lamanya. Menengok halaman-halaman selanjutnya ternyata cukup menyenangkan. Sekedar memastikan tiap usia punya cara untuk berbahagia. Boleh jadi suatu saat nanti kita bisa berbahagia di lapangan tenis. Bukan di atas tikar piknik berwarna merah putih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: