Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Nak, entah siapapun namamu perkenalkan saya Ardi Wilda. Bapakmu biasa memanggil saya Awe. Jika bapakmu tak pernah mengeluarkan nama Awe dari mulutnya saya tak akan marah. Laki-laki katanya berubah ketika jadi bapak, saya belum pernah menjadi bapak, jadi tak tahu apakah pepatah itu berlaku untuk bapakmu. Tapi jika bapakmu pernah mengenalkan nama Awe, sampaikan padanya ia telah membuat blunder terbesar sebagai bapak.
Saya mengenal bapakmu saat kuliah. Dulu saat masih muda bapakmu senang mengenakan kaos T dan menutupnya dengan kemeja lengan panjang yang tak dikancing. Saya tahu kiblat busananya Lupus. Jika saat membaca ini dandanan Bapakmu berubah menjadi kemeja lengan panjang bermerk dengan celana panjang klimis jangan salahkan dirinya, sekali lagi semua laki-laki bisa berubah saat jadi bapak.
Bersama bapakmu kami aktif di pers mahasiswa kampus. Tidak, kami bukan aktivis. Kami tak pernah menulis soal kebobrokan negeri ini, moral para pejabat atau hal besar lainnya. Tulisan pertama bapakmu sebuah feature sederhana. Tentang mereka yang tak berlebaran karena melaksanakan tugas di Idul Fitri. Bapakmu berfokus pada penjaga pintu rel kereta di dekat kediamannya. Mbak Hayu, nama pemimpin redaksi kami dulu memutuskan artikelnya sebagai salah dua artikel terbaik. Artikel saya hanya masuk sepuluh besar, namun bukan soal kompetisi itu yang saya ingat dari bapakmu.
Suatu sore di pojokan kampus, Kepel nama tempatnya. Tempat itu dinamakan Kepel karena letaknya di bawah pohon Kepel, bapakmu meledek saya. “Seni Kontemporer yang Homy di Rumah Seni Cemeti, tenan iki cuacane”. Saya kaget, sebab yang ia ucapkan adalah judul artikel saya yang masuk sepuluh sepuluh besar. Padanya dulu saya berdusta alasan saya menulis itu karena saya suka seni rupa. Tentu motifnya agar dibilang keren. Nyatanya saya memilih Cemeti ya memang karena letaknya yang tinggal jalan dari rumah pakde saya di Jogja, begitu sederhana dan tak ada keren-kerennya sama sekali.
Di titik itu saya jujur pada bapakmu tentang alasan saya menulis itu. Saya kemudian bertanya, “Ngopo koe inget artikel kui Jak (kenapa kamu inget artikel itu Jak)?”. Sambil tersenyum sok manis bapakku mengatakan hal bijak sore itu. “Menghargai orang itu dari hal-hal kecil We,” ujarnya. Andai saja dia perempuan dan berparas cantik pasti saya akan memeluknya detik itu juga. Sayang bapakmu hanya Lupus versi nyata, saya tak mau dianggap Boim di titik itu.
Setelah itu hubungan saya dan bapakmu laksana dua orang bodoh yang sevisi. Bapakmu pernah memijiti saya karena lelah, bapakmu juga rela menemani saya makan di warung bubur kacang ijo (Burjo) tepat pukul tiga dini hari hanya karena saya sedang mendekati seorang perempuan dan berharap ia makan sahur di tempat itu. Bapakmu pernah membentak saya karena saya egois dan tak meminjamkannya jas hujan saat pergi ke kampus. Bapakmu, ah terlalu banyak kenangan bersamanya.
Waktu bergulir dan bapakmu mengenakan toga tepat di Grha Sabha Pramana (GSP). Selempang kuning bertuliskan cumlaude mampir di toganya. Sebodoh-bodohnya bapakmu ia anak cumlaude. Saya memfotonya sambil merenung kapan akan bisa menyusul mengenakan pakaian itu. Kami berfoto berdua di akhir acara wisuda, itu foto kami berdua terakhir sebelum ia hijrah ke Jakarta. 
Setelah foto bersama itu komunikasi kami hanya via dunia maya, ia sering bercerita mengenai sulitnya mendapat pekerjaan. Sampai sebuah titel Pegawai Negeri Sipil (PNS) melekat di diri bapakmu. Dengan keegoisan khas mahasiswa saya meledek status tersebut. Ia membalas ledekan saya dengan serius. Pada intinya ia mengatakan lulus lah dahulu dan tatap realita dunia. Saya meminta maaf pada bapakmu. Saya tahu bapakmu berubah, setiap orang berubah dan saya tahu kali ini bapakmu memiliki alasan kuat memilih jalan itu.
Nyatanya ia tak seratus persen berubah. Banggalah padanya, ia rela bekerja teratur untuk nasi dan pendidikanmu tapi tetap menjalankan hobinya. Ia tetap menjadi Lupus seperti dahulu. Ia punya dua dunia, jujur terkadang saya iri dengan bapakmu. Namun saya selalu menempatkan diri saya sebagai sidekick bapakmu. Bapakmu adalah Batman yang tegas, sementara saya Robin yang labil dan penuh gejolak. Banggalah padanya Nak.
Ketika saya memilih jalan yang lain dari bapakmu ia mengirim sebuah pesan pendek pada saya, “Saiki impianmu go ndue TK mulai ceto, koe wes isoh ngerasakke dadi guru setaun, selamat (Sekarang impianmu untuk punya TK mulai jelas, kamu bisa ngerasain jadi guru selama setahun),” tulisnya di pesan pendek. Saya terharu namun sekali lagi sayangnya bapakmu bukan wanita berparas cantik sehingga saya malas membalas dengan kata-kata manis. Maka saya hanya membalasnya dengan sederhana, “Makasih Jak”.
Sepulang mengajar, bapakmu memberi kabar mengejutkan ia akan menikahi ibumu. Saya tahu berita ini tinggal tunggu waktu. Padanya saya berjanji untuk datang di hari pernikahan. Sayang seperti hari-hari sebelumnya saya lebih senang mengecewakan bapakmu daripada membuatnya tersenyum. Saat pernikahan kedua orangtuamu saya tak datang. Ada sebuah pekerjaan di luar kota yang membuat saya kembali mengucapkan “Maaf Jak” pada bapakmu.
Tepat ketika pernikahan bapakmu saya tahu saya akan kehilangan salah satu rekan terbaik saya selama hidup. Saya tak akan menagih bapakmu ketemuan, membuat janji ngopi bersama atau sekedar mengajaknya menonton gig. Saya tahu kini bapakmu menjadi milikmu. Saya sama sekali tak berhak mengajaknya menjadi Lupus seperti yang saya kenal dulu.
Namun Nak, sampaikan pada bapakmu, saya tak meminta apapun dari dirinya kecuali satu hal. Jika kelak kamu membaca tulisan ini, tanyakan padanya soal masa mudanya. Jangan tanya soal jabatannya, jangan tanya soal kendaraan ayahmu, atau jangan tanya bagaimana ia menjadi orang sukses. Tanyalah apakah ia pernah menjadi pemuda dengan kaos T tertutup kemeja lengan panjang tak berkancing? Saya harap ia akan menundukkan kepalanya. Pun jika ia menggelengkan kepala, tetaplah bangga padanya. Sekali lagi laki-laki mungkin berubah saat menjadi bapak. Salam hangat untuk bapakmu Nak, sampaikan padanya saya bangga pernah menjadi temannya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: