Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Sambil menghabiskan mie rebus, sore itu saya dan Eza mengobrol perihal remeh temeh. Eza sendiri adalah seorang Pengajar Muda di kawasan Muara Enim, Sumatera Selatan. Saya berkesempatan menemuinya untuk kebutuhan dokumentasi visual. Kami berdua mengobrol setelah seharian kelelahan mengambil gambar kegiatannya mengajar. Untuk melemaskan otot-otot di kaki maka kami memilih tema obrolan yang ringan ditemani semangkuk mie instan.  
Di sela-sela obrolan ringan kami, Eza menunjukkan beberapa foto muridnya. “Ini foto pertama gw di sini We, waktu pesantren kilat,” jelas Eza sambil memperlihatkan hasilnya di badan kamera bagian belakang. Saya hanya manggut-manggut menyaksikan foto tersebut. Secara visual tak ada yang spesial dari foto tersebut. Dengan pengambilan sudut lebar terlihat murid-murid duduk rapi di bangkunya masing-masing. Tapi pandangan saya terhenti ketika Eza menjelaskan cerita di balik fotonya.
“Ini foto pertama gw di sini karena gw janji selama dua bulan pertama enggak ngeluarin kamera,” ujarnya. Saya memicingkan mata tanda penasaran. “Gw enggak mau orang deket sama gw karena gw motret mereka We, gw mau murid-murid gw, masyarakat sini deket sama gw karena gw emang temen mereka,” tambahnya. Tak terasa mulut saya tersenyum mendengar penjelasan lulusan sebuah Insitut di Bandung ini.
Apa yang dilakukan Eza menarik, ia menggunakan kamera tanpa sebuah semangat “I Was There”. Ia tak menggunakan medium kamera sebagai sebuah kepanjangan tangan dirinya. Baginya interaksi paling murni adalah person to person, tanpa medium apapun. Ia ingin membuang jauh-jauh kamera, membuang jauh-jauh sebuah medium. Tepatnya membuang jauh-jauh stereotip sebagai seorang asing, sebagai stranger.
Saya pernah berada di posisi Eza. Kini saya melihatnya dari kotak kecil bernama viewfinder. Ia menjadi objek. Rasanya aneh, seperti melihat diri sendiri. Sebuah pengalaman yang, oke ini klise, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Saya seperti mengintip kehidupan pribadi. Sebuah “kunjungan kedua” pada diri saya. Untungnya saya menemukan sebuah ilustrasi yang mirip dengan keadaan ini.
Tersebutlah Hisanori Kato. Penulis asal Jepang ini menulis sebuah buku yang bagi saya sangat unik. Kato menuliskan pengalamannya berada di Indonesia selama sekitar sepuluh tahun. Pengajar yang sempat meneliti Islam di Jawa ini menceritakan bagaimana ia mencoba belajar mengenai negeri ini khususnya Jakarta.
Apa yang dilakukan Kato mirip dengan Eza. Ia ingin menyingkirkan status stranger dengan cara yang unik. Ia bercerita pada awal kedatangannya di Jakarta dompetnya kerap dicuri dalam bus kota. Ia merasa begitu kesal, menurutnya tindak kriminal itu ada kaitannya dengan statusnya sebagai orang asing. Sampai suatu ketika Kato melihat seorang pengamen masuk ke dalam bus, layaknya para pengais rezeki di jalanan, sang pengamen meminta uang pada para penumpang. Melihat itu Kato tahu bagaimana cara melepas jubah bernama stranger.
Bersama seorang rekannya dari negeri Sakura ia membentuk kelompok bernama “The Selamat”. Mereka berdua kemudian mengamen di bus kota. Semangatnya sederhana, ingin balas dendam karena uangnya dicuri. Namun pengalaman yang ia temui lebih dari itu. Ia mendobrak dinding asing dan lokal dengan menjadi pengamen. Ia menulis, “Balas dendam saya terhadap Indonesia menjadi ‘anugerah’ besar yang mengubah pandangan saya terhadap Indonesia dan orang Indonesia”.
Eza menyingkirkan sementara kameranya untuk melepas status stranger. Sementara Kato bergumul dengan kunci nada gitar di bus kota untuk merobohkan dinding strangerdan lokal. Saat mengunjungi Eza saya berada diantaranya. Saya bukan stranger layaknya Kato karena pernah menjadi seperti Eza. Pun bukan Eza yang lokal karena saya memang pendatang. Saya menjadi voyeour (pengintip).
Menjadi voyeour adalah pengalaman aneh bagi saya. Kini saya melihat Eza, melihat Pengajar Muda dalam kacamata orang lain. Seperti James Stewart dalam Film “Rear Window”. Ada kenangan visual yang tentu berjalan di kepala. Romantisme sekolah, murid, guru dan banyak kenangan lainnya berlintasan. Tapi ada semangat turistik pendokumentasian. Eza tetaplah seorang objek yang patut dalam tanda kutip saya eksploitasi.
***
Kini saya duduk di sebuah restoran cepat saji, saya tak lagi ditemani Eza dan semangkuk mie instan. Kini saya ditemani oleh segelas kopi hangat beserta sandwich. Mengutip Seno Gumira, kini saya kembali menjadi Homo Jakartanesis. Namun tepat saat ini saya menjadi yang asing di kota ini. Tak ada bedanya dengan yang saya rasakan ketika menyeduh mie instan bersama Eza.
Di salah satu epilog bukunya Kato punya perasaan yang hampir mirip. Ia merindukan Jakarta ketika berada di Tokyo, pun sebaliknya. Sampai ia menemukan kesimpulan yang menarik. “Mungkin yang saya rindukan adalah kondisi masyarakat yang memberi sedikit jarak pada peradaban modern. Jakarta memang kota besar yang modern, tetapi kemajuan masyarakat dan teknologinya masih berjalan beriringan dengan unsur-unsur pra modern, masih melekat dan tidak hilang. Bisa disimpulkan bahwa Indonesia adalah masyarakat yang berstuktur ganda”.
Mengunjungi Eza dan kembali ke Jakarta seperti meneguhkan kalau selamanya saya adalah pengintip. Saya selalu berada di wilayah antara. Melepas stranger untuk menjadi lokal lalu menggantinya kembali esok hari atau lusa. Pun jika memang Kato benar kita adalah masyarakat berstruktur ganda maka selamanya kita adalah para pengintip itu. Para pengintip yang selalu linglung apakah semangkuk mie instan atau kopi hangat yang membuat kita merasa tak asing?
*Tulisan ini saya dedikasikan untuk para Pengajar Muda Muara Enim yang telah banyak membantu saya dua minggu ke belakang. Untuk Eza, Asri, Adi dan Trisa terimakasih atas bantuannya. Saya akan selalu merindukan Muara Enim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: