Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Ibu muda itu menenteng tablet berwarna putih di sebuah restoran cepat saji. Beberapa detik kemudian ia berlutut untuk bersiap memfoto seluruh keluarganya. Tak kalah sigap, sang anak, ibu dan keluarganya berpose sebelum difoto. Dengan aba-aba sederhana berbunyi, “Satu, Dua, Tiga …” memori kebersamaan mereka semua terekam dalam tablet.

Hari itu hari Sabtu pagi. Di sebuah restoran cepat saji dengan sajian burger sebagai andalan. Ibu muda yang menenteng tablet tadi memang sedang punya hajat di restoran cepat saji tersebut. Anaknya yang berusia sekitar lima tahun merayakan ulang tahun hari itu. Pagi itu bersama seluruh keluarganya mereka menyiapkan pesta ulang tahun. Sang ayah sibuk menyusun kado-kado besar di depan ruangan yang bersebelahan dengan kasir. Balon-balon besar telah tersusun rapi. Seorang kerabat lainnya memberi sedikit instruksi singkat pada seorang pelayan restoran tersebut yang hari itu didapuk menjadi pembawa acara.
Yang menarik kemudian adalah datangnya puluhan anak kecil dari panti asuhan lengkap dengan baju muslim. Dengan baju muslim berwarna oranye, mereka diantarkan oleh tiga orang pengasuh panti. Tiba di sana mereka langsung duduk di kursi warna-warni bersiap memeriahkan pesta ulang tahun si anak yang lebih beruntung nasibnya dari mereka. Mereka seketika didandani dengan topi ulang tahun dari karton yang berisi nama masing-masing. Dan pesta ulang tahun itu siap dimulai.
Ulang tahun adalah perayaan soal identitas. Di momen ini kita sadar kita telah menjalani  penggalan waktu menjadi manusia. Momen ini bisa menjadi reflektif pun menjadi seremonial tergantung bagaimana yang bersangkutan menyikapinya. Untuk anak-anak tentu akan lebih seremonial. Balon, topi ulang tahun, kado-kado kecil dari teman dan keluarga adalah beberapa indikasi seremonial yang begitu membahagiakan.
Yang membuat saya sedikit berpikir adalah mengapa kini banyak sekali pesta ulang tahun dirayakan di sebuah restoran cepat saji. Tidak, saya tidak sedang menjadi seorang anti konsumerisme. Saya masih menikmati makan burger di tempat itu, saya masih dengan senang hati menemani rekan saya ngopi di franchise tempat kopi, pun masih rutin membabat habis ayam goreng restoran cepat saji.
Pola yang sering saya temui sama. Seorang anak kecil ulang tahun. Mengundang puluhan anak panti. Lantas orang-orang terdekatnya berhaha-hihi. Makan bersama, sedikit acara hiburan untuk kemudian pulang. Bagi sang anak tentu itu pengalaman yang tak terlupakan. Tapi ini bukan sekedar merayakan sebuah angka di atas kue ulang tahun.  
Saya mengingat bagaimana kultur perayaan ulang tahun di perkampungan saya saat kecil dulu. Di kawasan Cakung, tepatnya. Jika ada anak yang ulang tahun maka ulang tahun itu akan dirayakan sore hari. Semua anak-anak akan mandi lebih awal, dibedaki ala kadarnya. Kami lantas membeli kado seadanya dari warung. Saya biasa membeli sabun batangan untuk saya kado, alasan ibu saya dulu karena sabun harganya murah. Bukan hanya saya yang membeli sabun untuk kado, mungkin puluhan anak lain. Yang paling mewah biasanya memberi kado sandal jepit atau mobil-mobilan plastik.
Semua lantas berkumpul di satu ruangan kecil. Dengan kue ulang tahun berhias warna-warni. Sayangnya warna indah itu tak senada dengan roti di bawahnya yang keras ketika digigit. Juga pengeras suara untuk pembawa acara yang lebih banyak mengirimkan suara-suara sambungan listrik yang tak sempurna. Setelah selesai, kami semua pulang, begitu saja selesai. Merayakan ulang tahun seperti sebuah ritus yang tiba-tiba terselip dalam keseharian kami. Bukan sebuah momen penuh persiapan.
Memori saya juga berputar ketika saya mengajar di Lampung. Saat awal mengajar saya meminta murid-murid saya untuk menuliskan ulang tahun mereka. “Nanti kita rayain bareng-bareng,” ujar saya ketika itu. Saya kaget ketika mereka tak mengetahui hari lahirnya. Mungkin hanya sepuluh persen anak di kelas yang tahu hari kelahiran mereka. Ulang tahun bukan sebuah ritus yang penting di sini.
Pun ketika saya mendatangi beberapa orang tua murid mereka kerap tak tahu hari lahir anaknya. Yang lucu mereka mengetahui hari lahir anak dari ijazah TK sebelum masuk ke SD. Identitas atas siapa diri mereka menjadi begitu tak penting di sini. Namun saya rasa bukan sekedar masalah identitas atau kemalasan merayakan sebuah ulang tahun.
Jika ditilik setiap hari anak-anak di desa bermain bersama, bertemu dengan rekan sejawatnya di sekolah, di lapangan saat bermain bola dan dimanapun mereka melangkahkan kaki. Pertemuan dan pertemuan terus terjadi. Mereka tak butuh sebuah momen untuk merayakan sebuah pertemuan. Mereka tak butuh kue ulang tahun warna-warni untuk menegaskan mereka sebagai seseorang.
Berbeda dengan masyarakat kota. Kemacetan, beban pekerjaan, beragam phobia keluar rumah karena kriminalitas. Membuat pertemuan adalah sebuah barang berharga. Pun ketika merayakan sebuah hari ulang tahun. Ini bukan sekedar momen penegasan akan sebuah umur.
Perayaan ulang tahun boleh jadi adalah momen berhenti dari semua kepenatan yang ada. Inilah momen bersama keluarga. Momen ketika kue ulang tahun berwarna-warni menjadi begitu penting sebagai sebuah sistem pengikat kekerabatan. Ia menjadi sebuah perayaan akan pertemuan yang sangat berharga di kota. Perayaan paling mudah tentu di pusat perbelanjaan. Tempat di mana manusia kota merasa paling aman.

Saya meninggalkan meja tempat saya makan ketika acara mulai berlangsung. Sang anak begitu bergembira ulang tahunnya bisa dirayakan. Puluhan anak yatim di depannya melihat dengan mata yang semakin bulat. Di momen pertemuan itu mungkin masyarakat kota tetap butuh penonton. Menjadi saksi sebuah perayaan. 

Advertisements

2 thoughts on “Merayakan Pertemuan

  1. Redshoes says:

    Tiba-tiba jadi senyum sendiri begitu baca bagian “membeli sabun batangan sebagai kado” dan pengin komentar bahwasanya kita punya kesamaan dalam hal memberi kado, Ardi 😀

    Salam kenal, postingan yang menarik 🙂

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    mungkin memang sabun batangan itu kado paling terkenal jaman 90-an kalo ada yang ulang taun ya, hehe..
    Salam kenal juga Mbak Redshoes 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: