Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Ada satu hal kecil yang selalu membuat bapak kecewa dengan saya belakangan ini. Bukan, ia kecewa bukan karena kebodohan atau kenakalan saya. Ia kecewa karena sebuah hal yang menurut saya kurang begitu esensial dalam hidup saya saat ini. Ia kecewa karena saya tak dapat mengendarai mobil. Tepatnya saya tidak bisa menyetir mobil.
Ketidakmampuan saya menyetir membuat banyak hal berubah. Bapak tidak lagi boleh mengendarai mobil oleh dokternya. Kedua kakak saya memilih menggunakan motor karena frustasi dengan kemacetan Jakarta. Maka jadilah kendaraan roda empat keluarga kami tergeletak begitu saja di garasi. Masalah tergeletaknya tidak menjadi masalah besar. Yang menjadi masalah adalah karena kini tidak ada lagi yang mengantar ibu jika ingin pergi ke pasar untuk membuka toko.
Kekecewaan bapak kemudian membuat saya hampir mendaftar kursus belajar menyetir mobil. Sayangnya pekerjaan yang menumpuk membuat saya mengurungkan niat tersebut. Alih-alih mahir mengendarai mobil, bisa-bisa saya malah menubruk orang karena memikirkan pekerjaan saat menyetir. Alhasil saya memilih mengamini kekecewaan bapak, sekali lagi.
Dua hari lalu saya mengantar dua orang teman perempuan saya membeli sebuah aksesoris kamera di daerah Kemang. Kami menggunakan mobil saat ke sana, ya anda benar, bukan saya yang menyetir. Sudah lama saya tidak merasakan sensasi “naik mobil” di Jakarta. Sejak satu bulan lalu saya mengganti moda transportasi saya dari bus dan taksi dengan sepeda motor. Ya sekali lagi anda benar, alasannya karena saya mulai malas dengan kemacetan Jakarta.
Dalam perjalanan itu saya banyak merenung dan tersenyum sendiri mengingat kekecewaan bapak. Sampai renungan saya buyar ketika kami sudah sampai di tujuan. Saat membuka pintu, seorang teman saya menyeletuk, “Anjrit panas banget di luar,” dengan mata memicing karena posisi matahari pas sekali menyerang matanya. Saya sekali lagi tersenyum.
Pulangnya kami kemudian mampir untuk memesan eskrim di sebuah restoran cepat saji. Sambil melihat pemandangan luar, seorang teman saya yang sedang nyidam eskrim menikmati tiap tetes eskrim yang ia beli. Seperti oase di tengah udara yang begitu panas. Kami kemudian membincangkan beberapa hal sambil tertawa. Sesekali saya menengok ke deretan pengendara motor, ada perasaan aneh ketika memandang hal itu.
Seorang rekan saya yang lain, Haikal, pernah berteori sedikit menarik saat membincangkan perihal relasi mobil dan motor. Ia mencontohkan hal ini dengan kasus orang naik mobil. Misalnya kita melihat motor yang berisikan banyak orang, ada ayah, ibu, beberapa orang anak dan masih ditambah dengan barang bawaan lainnya. Kita mungkin akan berucap “Kenapa enggak naik yang lain aja sih, malah naik motor”. Tentu sang pengendara motor paham akan hal itu, namun kita seakan menutup mata atas alasan di balik itu. Aksesnya terhadap pendidikan, kapital, dan banyak hal lainnya membuat ia tak bisa hidup senyaman yang di mobil misalnya.
Kemarin saya mengamini hal tersebut. “Hidup” di dalam mobil sangat berbeda dengan kehidupan di luar mobil. Sebagai sebuah moda, ia menciptakan kehidupannya sendiri. Ia bagaikan kapsul yang mengisolasi kita dari lingkungan. Satu-satunya akses yang mobil sediakan adalah memandang. Kaca di mobil memaksa kita untuk memandang ke luar. Tak seperti motor ia tak mengajak kita terlibat. Tentu memandang dan melihat adalah dua hal yang sangat berbeda.
Logika memandang dari dalam mobil ini misalnya terjawantahkan dalam iklan-iklan produk roda empat ini. Biasanya kemewahan yang digarisbawahi dalam iklan tersebut adalah soal kenyamanan di dalam mobil. Deru mesin yang tak terdengar, AC yang dingin, atau beragam fitur lain sejenis. Fitur yang seakan ingin menegaskan dirimu berada di dalam kapsul isolasi kehidupan bernama mobil.
Kini ketika kemacetan semakin merajalela dan penjualan mobil bagaikan kacang goreng saya mulai bertanya-tanya. Apakah mobil membuat kita nyaman karena ia memberi kenyamanan? Atau ia menjadi nyaman sekadar karena kita bisa memandang dari dalam kaca, tentunya dengan bonus tak perlu mengalami kehidupan? Mungkin pelatih kursus menyetir mobil yang bisa menjawabnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: