Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Ada ketimpangan besar penciptaan mitos di keluarga saya. Sejak kecil saya atau lebih tepatnya kami, untuk merujuk pada saya dan kedua kakak saya, dibesarkan dalam kacamata keluarga ibu. Saudara bagi kami merujuk pada keluarga batih ibu. Lebaran pergi ke sana, ziarah pergi ke sana, vakansi pergi ke sana. “Sana” merujuk pada Solo, kota kelahiran ibu saya.
Sementara keluarga Bapak seperti liyan yang tak pernah kami jamah. Ia tampak begitu jauh. Ia dipenuhi stereotip. Kami jarang menginap di sana, kami malas-malasan ketika hendak berlebaran di sana, kami begitu datar ketika ada kabar nun jauh di sana. Sana berarti Lasem, kota kelahiran bapak saya.
Saya pribadi sebagai anak bontot, paling malas pergi ke Lasem. Ia seperti ditempeli oleh beragam stempel. Kotanya sepi, tak ada hiburan, omongannya kasar. Untuk yang terakhir jelas karena Lasem dekat dengan tradisi Jawa Timuran daripada Jawa Tengah yang secara dialek lebih halus. Ia tumbuh sebagai sebuah mitos yang jauh, asing.
Beranjak dewasa saya tahu bahwa Lasem adalah salah satu destinasi menarik bagi mereka yang suka berjalan. Sejarahnya, mitos-mitos kota ini dan banyak hal lainnya. Ketika bapak sakit, saya pernah membatin akan pergi ke Lasem entah untuk apa, mungkin untuk bermaafan dengan keluarganya. Saya menelan ludah jika mengingat hal itu. Perjalanan itu bukan meruntuhkan mitos, ia bisa jadi justru menguatkan mitos tentang kota itu, tentang keluarga bapak secara lebih tegak.
Saya kemudian belajar menerima keluarga bapak pelan-pelan. Dalam pernikahan kakak kandung saya, beberapa keluarga batih bapak datang. Saya mengajak berbicara kakak kandung Bapak yang tertua. Ia merantau ke Bangka, bercerita mengenai Bangka Belitung paska Laskar Pelangi. Semua orang seperti ingin pergi ke sana, tuturnya. Padahal, menurutnya negeri itu biasa saja. Ia memakai kacamata orang lokal untuk melihat sebuah destinasi. Saya hanya tersenyum mendengar apa yang ia utarakan.
Ternyata keluarga bapak tidak seperti yang distempelkan. Mereka ramah, terbuka dan memiliki pengalaman yang luas. Mereka para perantau yang tersebar jauh ke tempat-tempat luas. Bapak sendiri sudah tidak berada di Lasem ketika menginjak sekolah menengah kejuruan, ia hijrah ke Magelang, ke tanah harapan versinya. Untuk kemudian berlabuh di ibukota.
Saya menarik diri ke belakang. Saya hidup dalam satu perspektif tunggal. Saya sering mengutip, “Ibu bilang” “Kata ibu” Kalau menurut ibu”. Tapi saya kehilangan perspektif lain, saya kehilangan perspektif bapak. Saya kehilangan sentuhan kacamata lain dalam memandang sebuah masalah. Ia berimplikasi pada sebuah hal, saya selalu memandang segala sesuatu dari satu sudut pandang. Saya tak bisa memadang segala sesuatu dalam kacamata yang begitu biasa, begitu sederhana.
Boleh jadi banyak dari kita hidup dari “kata ibu” dan “menurut ibu”. Media kita adalah ibu yang selalu berucap dan punya perspektifnya sendiri. Ibukota adalah “kata ibu” dalam perspektif yang lain. Ia laksana mata utama negeri ini. Kita hidup dalam kacamatanya. Kita melupakan perspektif lain, melupakan bapak yang merantau jauh ke banyak tempat. Kita hidup dalam kacamata yang seragam, dan memandang yang lain penuh eksotisme.
Saat mengetik ini saya berada di tepi pantai Beeng Darat, sebuah pulau kecil di Sulawesi Utara berbatasan dengan Philipina. Beberapa hari sebelum di sini, saya mengirim surat elektronik ke atasan saya, isinya bertanya apakah ia butuh tulisan mengenai sebuah lokasi perbatasan. Mengenai sebuah lokasi, yang untuk membuatnya seakan dipandang begitu biasa, kita ganti dengan sebutan pulau terdepan. Tapi apakah itu telah membuatnya menjadi begitu biasa?
Saya didampingi beberapa rekan kerja ke pulau ini untuk sebuah tugas. Matahari terbenam, pulau yang begitu kecil, pasir putih, dan beragam gimmick lain yang membuatnya terasa begitu eksotis. Beberapa kali mengabadikannya dalam “kacamata ibu”, ibukota yang eksotis.
Menulis ini boleh jadi adalah bentuk eksotisme lain. Saya menulisnya dengan tipikal Jakarta. Menulisnya di tepi pantai, sambil mendengarkan ipod dengan lagu mendayu yang direview majalah ibukota dengan angka ciamik.
Seorang rekan saya yang kini bekerja mapan berkata ingin meninggalkan pekerjaannya untuk membangun rumah di tepi pantai. Ia sudah bulat-bulat merencanakan ini. Ia ingin pergi dari kepenatan ibukota. Dan ya pantai, eksotisme itu tujuannya.
Sementara induk semang yang menerima saya di pulau ini dan pulau lain sebelum saya singgah di sini selalu bercerita tentang Jakarta. Tentang berapa kali ia pergi ke ibukota. Fotonya sedang berlagak di ibukota ditempel di dinding rumahnya. “I Was There” mungkin itu yang ingin diungkapkan foto itu. Dan ya rekan-rekan saya di sini beberapa kali meminta difotokan di tempat nan eksotis ini. Kita saling mengeksotiskan tempat lain. Kita adalah korban “kata ibu” yang berbeda-beda.
Saya teringat obrolan dengan Bapak. Ia tak bercerita tentang pantai Lasem atau wisata budaya di sana. Yang ia ceritakan adalah bagaimana Gus Mus di sana membangun pesantren. Bapak bilang di Lasem orang begitu rukun, pesantren di sana ramah-ramah. Saya mulai menyesal tak sedari dulu memandang kota itu dalam kacamata yang biasa. Sore itu, setelah kami bercerita, bapak undur diri. Ia memakai sarungnya, menggelar sajadah, ia pamit sholat maghrib.
Sudah lama bapak menjadi abangan. Sore itu saat saya memandangnya secara biasa saja, saya justru disuguhi hal yang tak biasa. Ia sholat dan pamit berencana pergi haji. Pada perbincangan yang biasa saja saya menemui sosoknya yang tak biasa. Saya menemui ruang pribadinya yang jarang saya lihat. Mungkin hanya dengan memandang secara biasa kita bisa bercerita lebih banyak. Tentang bapak, tentang pantai yang mengingatkan saya padanya. 
*Untuk Bapak, semoga bisa terus pulih dan menginjakkan kaki di tanah suci. 

Advertisements

2 thoughts on “Di Lasem, Di Beeng

  1. Begitu pula ketika kecil saya memandang kota lahir saya, tak ada yang luar biasa, semua stagnan. Ketika saya dewasa, saya menaydari kota saya indah, namun diruntuhkan oleh orang-orang yang sepemikiran dengan saya waktu dulu.

    Like

  2. Anonim says:

    Pemikiran dari sudut pandang berbeda … bermain main dengan perpektif yg biasa,bukan luar biasa,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: