Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Mbak Wening, seorang rekan jurnalis pernah mengirimi saya kartu pos sederhana dari Nashville, Tennessee, Amerika. Gambar depan kartu pos itu kumpulan beberapa objek dalam satu frame, ada gambar gedung, jalanan, mobil, gitar spanyol dan mandolin dengan empat senar. Tentu tak ketinggalan tulisan Nashville, sebagai penanda darimana kartu pos itu berasal. Tapi bukan gambarnya yang membuat saya tersenyum, isi pesannya yang hanya ditulis dengan pulpen bertinta hitamlah yang membuat kartu ini istimewa.
Jurnalis majalah musik ini menulis, “Kota ini seperti bernafas dengan musik. Di bagian-bagian paling ramainya di malam hari, musik menemani langkah kita, mengalir keluar dari bar atau toko musik yang masih menjual CD atau plat. Plang-plang bar dengan warna meriah seperti berjanji akan penghiburan”. Saya ingat ekspresi pertama saat membaca itu, bergidik. Ia menggambarkan kota itu dengan sangat baik.
Pikiran saya langsung terbang ke scene dalam My Blueberry Nights. Ketika temaram lampu ditangkap lensa dalam diafragma yang terlalu kecil. Cahaya menjadi sebentuk prisma yang merona. Lalu suara tipikal Norah muncul di sana. Untaian kata sederhana itu melayangkan pikiran saya ke sketsa macam itu. 
***
Tabung itu memiliki beragam nama. Kita menyebutnya dengan Transjakarta atau lain waktu Commuterline. Tabung itu mengantarkan kita ke rumah. Dalam perjalanan itu kita gelisah akan kehangatan rumah. Gelisah akan ekspresi bagaimana keluarga menyambut. Dalam kegelisahan itu kita memilih ruang privat.
Ruang itu hadir dalam earphone yang terpasang di telinga. Coba lihat Transjakarta atau Commuterline, maka kita akan melihat parade earphone yang menciptakan ruang privat untuk setiap orang. Kita tak tahu apa yang diputar lelaki berkemeja necis di belakang, mahasiswa yang sedang menjinjing tas laptop di belakang supir, atau perempuan dengan blazer biru tua di sebelah kanan. Musik menjadi sebuah misteri masing-masing. Ia hidup dalam ruang privat masing-masing. Mengisolasi dunia di sekitar.
***
Nama pulau itu sederhana, Kawio. Ia terletak di sebelah utara negeri ini. Berdekatan dengan Miangas, berbatasan dengan Philipina. Menyusuri jalannya adalah menyusuri tabung terbuka yang sangat berbeda dengan Transjakarta atau Commuterline. Jalanannya lurus, cenderung statis malah. Tapi ada satu yang tak statis di sana.
Kebanyakan rumah di sana memasang salon atau speaker pasif di depan rumah. Ada yang memasang satu salon besar, dua, tiga atau bahkan empat sekaligus. Awalnya saya kira ini guyonan yang tak lucu, nyatanya salon ini membalikkan persepsi saya soal earphone yang berceceran di tabung bernama Transjakarta.
Kawio belum memiliki saluran listrik. Sumber listrik hanyalah genset di masing-masing rumah yang menyala dari pukul 19.00 sampai sekitar 22.00 WITA. Namun, untuk musik mereka punya pengecualian. Sering kali di siang hari mereka menyalakan musik, yang juga berarti menyalakan genset, dan menyiarkannya lewat salon di depan rumah.
“Asyik Kak bisa bergoyang,” ujar Eben, salah satu anak di pulau itu menanggapi musik yang terpasang di siang hari. Sebuah rumah di depan sekolah misalnya memiliki empat buah salon besar di halaman yang bisa saja menyala di siang hari dan membuat jalanan yang statis menjadi dinamis. Salon-salon pasif itu menciptakan sebuah retorika tersendiri dalam mengajak orang untuk bergoyang. Untuk terlibat menjadi sebuah kerumunan tersendiri. Untuk menikmati musik bersama-sama. Tak ada ruang privat dalam tabung yang diciptakan earphone. Salon itu meruntuhkan dinding bernama privat, ia mengajak, ia begitu terbuka. Dalam keterbukaan ada keramahan yang terpancar di dalamnya. Salon itu seperti berucap kita kerumunan yang sama, kita menjadi satu. Dan tabung itu hancur lebur dalam tatanan bentukan salon.
***
Nashville, Jakarta dan Kawio boleh jadi punya cara masing-masing menangkap nada. Boleh jadi dalam tarik menarik ini tidak ada yang benar atau salah. Pada bagaimana mereka menangkap alunan nada, kita dapat melihat wajah-wajah asing di ketiganya.
Nashville hanya saya kenal lewat untaian kata Mbak Wening yang mengingatkan saya pada alunan Norah di My Blueberry Nights. Atau Jakarta yang penuh dengan menciptakan ruang-ruang pribadi di tabung yang sangat tidak pribadi, ayolah siapa yang suka berdesak-desakkan di Transjakarta. Dan Kawio, pulau kecil yang tahu bagaimana cara menciptakan sesuatu yang dinamis dari alat yang pasif, salon menghadirkan kenyataan menjadi sebuah komunitas di sana.
Saya sendiri menikmati ketiganya, menikmati bagaimana Nashville menjadi mitos di kepala. Menikmati alien-alien Jakartaensis yang bahkan takut memulai interaksi dengan cara paling sederhana, melepas tutup kuping di telinganya. Pun menikmati bagaimana balutan musik disko yang kitsch di Kawio menjadi begitu dinamis di tengah statisnya pulau ini. Merasakan ketiganya terasa begitu aneh, asing. Pada ketiganya saya tahu ada banyak cara menciptakan ruang pribadi. Juga banyak cara untuk meruntuhkannya. Atau kalau kurang puas, mungkin meledeknya dengan cara sederhana. Bisa dimulai dengan mengajak perempuan berblazer biru tua di sebelah kanan transjakarta membuka earphone dan memulai interaksi dengannya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: