Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saya ingat dengan detail kejadian itu. Sore itu saya membawa seorang yang dekat dengan saya ke sebuah kedai minum di daerah utara Jogja. Saya tahu ia suka beberapa detail kecil yang ada di kedai tersebut. Membawanya ke sana tentu akan membuatnya senang. Plus, saya kenal dengan pemilik kedai tersebut, jadi saya akan punya cerita-cerita kecil menarik yang bisa saya ceritakan ke orang terdekat tersebut.
Selanjutnya kami bertemu dengan pasangan pemilik kedai tersebut. Layaknya teman, kami mengobrol biasa. Saat itu mereka berdua sedang mengurus zine-nya masing-masing. Sambil mengobrol saya melihat ke arah orang terdekat saya. Saya harap saya bisa melanjutkan perjalanan bersama dirinya, seperti pemilik kedai ini. Nyatanya beberapa tahun kemudian saya gagal mewujudkan hal tersebut, mungkin saya marah, bukan dengan dirinya tapi dengan diri saya sendiri.
Momen itu membuat saya menyadari satu hal. Dalam membangun relasi mungkin kita seperti Peterpan yang tak mau jadi dewasa. Begitu fairytales, coba lihat bagaimana tulisan-tulisan romantis dibuat, semuanya dimulai dari hal kecil. Seperti saya memulai ini dari sebuah kedai dan zine. Karena hal kecil bisa dieksploitasi sedemikian rupa untuk menjadi cerita ala fairytales.
Perpisahan itu membuat saya percaya tak ada relasi yang berhasil atas dasar fairytales. Pun hidup yang layaknya dongeng adalah perkara yang hampir tidak mungkin. Tapi saya kemudian bertanya satu hal, pasangan di kedai ini berhasil membangunnya? Ada relasi yang bisa terbangun tanpa perlu mengubah wujud menjadi Peterpan versi dewasa.Β 

Sore ini saya berpikir sejenak. Mungkin kita selalu membangun semuanya dalam konteks pembabakan. Ketika anak-anak kita berhak berlari di dalam kali, ketika remaja kita melewati kali melalui jembatan, dan ketika dewasa kita akan membangun jembatan untuk selokan itu. Ada tahap di mana kita tahu kapan mengatakan berhenti. Seperti saat kita tahu setiap manusia twenty something akan mengubah wujudnya menjadi manusia berdasi di perkantoran tinggi daerah Sudirman. Pun saya menganggukkan kepala terhadap hal itu, dulu.
Pasangan di kedai itu adalah sebuah anomali. Saya tak tahu apa mereka punya pembabakan. Tapi yang saya tahu mereka menciptakan babakannya sendiri. Sebuah ruang pembabakan yang mengingatkan kita bahwa ada kalanya kita harus kembali. Kembali pada cita-cita sederhana Peterpan, pada sebuah pertanyaan kecil, apa kita pernah bertanya kenapa kita merasa harus terus beranjak.
Beberapa bulan lalu sebuah undangan masuk ke email saya. Pasangan di kedai itu bukan fairytales semata, mereka resmi menciptakan dongeng versi mereka. Saya tersenyum, dalam hati saya mengingat kejadian kecil di kedai-nya beberapa tahun lalu. Sekali lagi hanya tersenyum.
Beberapa hari lalu beberapa orang mengucapkan selamat kepada pasangan itu via sosial media. Saya malu untuk mengucapkan selamat karena saya berhalangan hadir ke pernikahan mereka. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan dalam waktu cepat, ya ini alasan yang klise.
Hari ini entah kenapa saya tak sengaja mendengarkan “Season of Joy” dari Ballads of The Cliche, seingat saya lagu itu masuk dalam salah satu lagu favorit mereka. Hal itu mengingatkan saya pada pasangan di kedai. Mungkin saya tak bisa mengamini mereka. Kini saya pekerja kantor yang menatap layar laptop hampir sepanjang waktu. Tapi saya tahu saya tak akan mengecewakan mereka.
Setidaknya pasangan di kedai itu pernah mengajari saya secara tidak langsung tahulah apa yang sedang kita lakukan. Saya tahu apa yang saya sedang kerjakan. Pun saya sudah berdamai dengan masa lalu. Dan mulai menggabungkan fairytales dan kawasan Sudirman, oke itu tadi perumpamaan yang aneh.

“Season of Joy” hampir berakhir saat saya berada di bagian ini. Saya kini hanya tersenyum lebar tatkala mengingat pasangan di kedai itu. Bahkan lagu “Season of Joy” favorit mereka punya akhir, bahkan kebahagiaan akan berakhir dalam durasi 02.50. Tapi saya rasa di detik 02.51 dan seterusnya bukan lagu yang akan membuat kita bahagia. Tapi kenangan tentang orang-orang yang pernah mengingatkan kita tentang kebahagiaan. Tentang memperjuangkan kebahagiaan. Bagi saya sosok 02.51 itu adalah pasangan di kedai tersebut, selamat berbahagia Mas Dito dan Mbak Mira.
Advertisements

4 thoughts on “02.51

  1. tati says:

    ternyata sudah hampir setahun saya bolak-balik mampir ke blog mas untuk sekedar berkunjung ataupun mengulik postingan baru, menyenangkan. saya senang dan terinspirasi dengan gaya mas awe menyampaikan terimakasih, selamat, atau hal lainnya kepada orang-orang terdekat mas, disini.

    πŸ™‚

    Like

  2. Anonim says:

    Lama tak bertemu we', sewaktu acara tersebut saya mencoba mencarimu tp tak tampak juga. Oh jebul wis menatap layar komputer di kawasan sudirman. Semoga bertemu lagi dilain kesempatan.

    Dimpil

    Like

  3. Ardi Wilda says:

    Terimakasih atas kunjungannya tati πŸ™‚

    Like

  4. Ardi Wilda says:

    Halo Pil, wah sui ra ketemu koe, hehe gimana kabarmu le? Mugi-mugi sehat terus yo πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: