Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Sekitar lima puluh meter dari tempat saya bekerja berdiri sebuah warung kecil. Meski ukurannya kecil, semangat bisnisnya bia dibilang kuat. Buktinya warung ini buka 24 jam. Warung ini adalah penyelamat perut ketika saya menginap di kantor. Gondrong, begitu sapaan penjaga warung tersebut, akan membuatkan saya mie instan dengan rasa yang lumayan enak. Sambil makan dan minum teh kemasan saya sering melihat pelanggan warung ini di malam hari.  

Saat malam hari biasanya ada beberapa remaja mengunjungi warung ini. Mereka datang dengan mobil-mobil khas “anak mobil”. Sedan yang diceperkan atau MPV yang dibuat seakan mobil sport. Pakaian mereka tipikal, kemeja lengan panjang dengan sedikit ornamen di bagian-bagian tertentu. Sudah beberapa kali saya berjumpa dengan para pelanggan warung ini.
Menurut saya ini seperti sebuah kunjungan bagi mereka. Seperti remaja yang bisa membeli (X) S, M, L tapi tetap berjibaku ke Pasar Senen demi mendapat kemeja belel. Para remaja itu seperti sedang berkunjung dan bermain di warung kecil ini. Mereka tak punya irisan dengan kehidupan si tukang warung. Ini kunjungan yang sifatnya merasakan pengalaman “ngere”. Seperti tendensi kita ketika naik kereta ekonomi misalnya.
Kemarin sore saya melintasi daerah Senayan. Setelah bertemu dengan rekan saya di Plaza Senayan, saya kembali ke tempat kerja tepat ketika orang-orang pulang kantor. Di jembatan layang Ratu Plaza saya melihat wajah-wajah lelah tersebut. Secara iseng saya palingkan wajah ke halte bus di depan salah satu pusat perbelanjaan paling tua di Jakarta tersebut. Pria dan wanita usia produktif berlari-lari mengejar bus kota. Pakaian mereka rapi, tipikal orang kantoran, tentu saat sore hari pakaian itu ditambahi oleh ornamen keringat di beberapa sisinya.
Para pekerja ini bekerja di jantung kota Jakarta. Mereka adalah pengisi kubik-kubik di setiap perkantoran. Tapi mereka tak merasakan gemuruhnya kota ini. Di tiap sore mereka kembali. Kembali ke tempat asal mereka, boleh jadi pinggiran kota Jakarta. Di kawasan padat penduduk atau kos-kosan di daerah penyokong pusat kota. Mereka tak berkunjung layaknya para remaja di warung kecil itu. Mereka sekadar mencoba mengecap gemuruh kota.
Ada satu fragmen yang saya suka dari buku terbaru Soleh Solihun. Saat itu Kif Kastana, alter ego Soleh Solihun dalam buku tersebut, ditawari menjadi seorang penyiar. Yang mewawancarai bilang bahwa mereka tertarik Soleh menjadi penyiar karena ia paham youth culture dan tetap naik metromini. Pendengarnya yang merupakan kelas B-C tentu butuh insight-insight soal kehidupan yang beririsan dengan mereka. Menempatkan penyiar yang tidak paham mengenai apa yang terjadi dengan kelas tersebut tentu tak akan sinkron.
Buat saya hal itu seperti sebuah simpul dua kelas yang beririsan. Soleh seperti para penunggu bus kota di kawasan Senayan. Kita tahu bahwa kita adalah bagian dari gemerlap kota tapi kita hanya merasakan pengalaman merasakan di dalamnya. Bukan pengalaman bermain seperti para anak muda di warung-nya si Gondrong yang dekat dengan kantor saya.
Coba hitung ada berapa banyak Soleh Solihun atau para penunggu bus di Ratu Plaza. Mereka-mereka lah yang menggerakkan kota ini. Mereka yang datang ke kubik di tiap pagi untuk kemudian kembali dalam kos-kosan kecil atau perumahan di pinggiran kota, dengan siklus yang teratur. Tapi coba lihat kehadiran mereka. Orang-orang ini bagai siluman yang tak pernah terangkat ke permukaan. Jakarta adalah mereka yang miskin dan mereka yang ada di rumah-rumah berpilar khas sinetron. Yang di tengahnya hilang begitu saja karena tak ada drama dalam kehidupannya.
Saya ingat dalam sebuah diskusi foto, Erik Prasetya mengatakan sebuah hal yang jarang kita sadari. Kurang lebih ia mengatakan kamera adalah alat pengintip, sayangnya fotografer tak pernah mau diintip kehidupannya. Cpba lihat Vanity Fair atau Bazaar, kita akan mengintip mereka yang di atas, mereka yang membuat kita berdecak kagum. Lalu palingkan pada National Geographic maka yang kita temui adalah hasrat menuju yang terjauh. Menuju yang paling asing dari kita. Kamera hanya bisa melihat ke atas dan ke bawah, ia jarang melihat sejajar.
Yang sejajar adalah kita-kita ini. Manusia kubikel yang hidup tanpa drama. Soleh yang naik metromini atau penunggu bus di ratu plaza. Kita yang selalu hadir tapi terasa tak pernah hadir di permukaan. Diantara kutub kaya dan miskin. Diantara decak kagum dan rasa iba kita berdiri diantaranya, tak mengagumkan dan terlalu biasa untuk diberi rasa iba.

Mungkin kita memang senang dengan cerita yang luar biasa. Pada yang sejajar kita lupa menitipkan sebuah absen. Atau memang kita malu menceritakan diri kita sendiri. Manusia-manusia tanpa drama. Kita yang selalu mengisi absen di perkantoran, tapi alfa dari hingar bingar media.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: