Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Saya ingat pertama kali bertemu dengan Acha. Saat itu kami sedang mengikuti wawancara menjadi Pengajar Muda. Kebetulan saya berkesempatan tes dengan Acha di satu hari yang sama. Saat simulasi mengajar, Acha membawakan materi mengenai ragam kebudayaan di Indonesia. Ia membawa beberapa foto atau gambar (saya sedikit lupa detailnya) pakaian daerah, rumah adat dan alat musik. Saat itu saya merasa langsung bisa menilainya, tipikal.

Acha bukanlah satu dari lima puluh jenis karakter hipster di buku Kara Simsek yang terbaru, So You Think You’re a Hipster?. Acha terlalu tipikal untuk keluar dari batas-batas koridor norma. Materi yang dia bawakan saat itu tipikal, terlalu tipikal bahkan. Ia hidup di lingkungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), ia memiliki irisan dengan kegiatan keagamaan di kampusnya, dan hidupnya sangat teratur. Ketika di pelatihan menjadi Pengajar Muda saya pernah menyebutnya dengan “mata terarah”, karena ia tahu kemana ia akan melangkah bahkan dalam hitungan menit selanjutnya ia tahu harus melakukan apa.

Kami kemudian berada di satu penempatan, di salah satu daerah di kawasan Lampung untuk mengajar selama satu tahun. Kampung Acha terletak paling dekat dengan kampung saya. Sialnya, Acha tak bisa mengendarai motor, maka saya punya tanggung jawab moral mengantarnya jika misalnya hendak bepergian untuk bertemu pemangku kepentingan pendidikan mulai dari Pengawas Kepala Sekolah, Kepala Camat, sampai Kepala Dinas Pendidikan. Sebelum melanjutkan cerita saya ingin minta maaf kepada Acha karena saya sering membuatnya terjatuh di jalanan licin saat mengendarai motor.
Awalnya kami sering bingung mengobrolkan topik apa di motor. Kami punya dunia masing-masing yang sayangnya sedikit sekali beririsan. Akhirnya kami punya satu formula unik mengenai topik yang akan diperbincangan saat berboncengan motor. Saya meminta Acha untuk menjelaskan tentang dunia ekonomi dan saya akan menjelaskan soal teori-teori komunikasi, sesuai dengan latar belakang pendidikan masing-masing. 
Formula itu berkembang, di setiap cerita tentang bagaimana sebenarnya impor penting untuk negara, apa sebenarnya pengaruh “Mafia Berkeley”, ia sering menyelipkan cerita pribadinya. Tentang kegelisahan khas twenty something, kegundahannya akan pasangan hidup, kegerahannya akan stereotip soal aktivis kampus, juga pandangannya tentang Islam. Sekarang saya mengakui, dulu saya hanya membalas cerita Acha dengan tertawa, tapi sebenarnya saya mendengarkannya lamat-lamat, kadang saat pulang saya merefleksikannya sesampainya di rumah Mbah Satinah, induk semang saya saat di Lampung.
Sosok yang sering berada di belakang  saya di motor itu membuat saya lebih terbuka. Saya salah menilainya di awal, dia bukan sosok yang tipikal. Mungkin justru saya yang tipikal. Saya sering menstereotipkan orang di luar lingkaran saya dengan label-label tertentu. Mungkin Acha adalah kategori ke lima puluh satu dari buku Kara Simsek. 
Ada satu poin penting yang saya dapat dari pengalaman bersama Acha. Kebanyakan dari kita, generasi Y adalah generasi yang percaya bahwa sistem ada untuk didobrak, pun alter dari itu adalah membuat sistem yang higienis, tak ingin tangan kita kotor di dalam masalah. Acha melibatkan dirinya ke dalam masalah, ia kenyang dengan aktivisme kampus dan ia tak mempermasalahkan berada di sistem. Siapa dari kita yang berpikir mendobraknya dari dalam? Jika pun ada selamat mendapat stempel tipikal. Kita lebih asyik masyuk dengan dunia kita sendiri.
Acha adalah tangan kotor itu, ia sama sekali tidak tipikal. Referensi musiknya bisa saya kalahkan bahkan saat saya setengah terbangun, pun dengan referensi hal-hal unik nan lucu yang bisa dipotret dan dimasukkan dalam instagram bisa saya kalahkan bahkan saat saya kelaparan karena belum makan seharian. Ia bukan tipikal itu, ia melihat dalam kacamata yang lebih besar.
Saat di motor dulu ia sering bercerita soal keinginannya sekolah lagi. Ia bercerita orang-orang pintar yang akan merubah negeri ini. Yang akan rela distempeli apapun masuk ke sistem dan merubahnya dari dalam. Sebuah hal yang sama sekali tak seksi untuk ukuran generasi ini. Tapi Acha berpikir untuk memilih jalan sunyi itu.
Kabar itu datang juga, beberapa bulan lalu pesan pendek Acha masuk ke telepon selular saya. Ia mengabari akan mendapatkan beasiswa di Singapura. Saya lupa ia masuk jurusan apa, kalaupun ingat saya yakin saya juga tak paham jurusan itu, karena jurusan itu pasti sangat Acha, saya tebak semacam public policy mungkin. Jika memang benar mungkin diantara kehebatannya, Acha tetaplah tipikal di mata saya, ah saya memang ngeselin ya Cha.
Besok ia akan berangkat untuk memulai hidup barunya sebagai manusia urban di negeri singa putih. Ia mungkin akan jadi satu bagian kecil diantara derap langkah kaki yang cepat di stasiun Orchard, ia mungkin akan jadi satu sosok kecil saat para manusia sok tidak tipikal menyaksikan pagelaran di Esplanade, dan mungkin ia akan jadi satu sosok diantara escalator lima belas detik di pusat perbelanjaan Singapura. Tapi saya yakin ketika itu terjadi pikirannya akan melayang ke murid-muridnya di desa, membayangkan mereka puluhan tahun dari saat ini. Dan ketika itu terjadi saya akan menelan ludah saya sendiri dan mengatakan Acha bukan sosok yang tipikal. 
Selamat belajar Cha, senang pernah belajar banyak darimu setahun ke belakang. “Pripun Mbak Asca?” berarti bagaimana (kabar) Mbak Acha. Hostfam Acha di desa sering salah menyebut Acha dengan Asca. Sapaan itu kemudian menjadi lawakan internal diantara Pengajar Muda yang bertugas di Tulang Bawang Barat, Lampung.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: