Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Selesai pementasan Pandai Besi di Goethe Institut, Reti, seorang rekan saya menceritakan sesuatu yang menarik. Di luar pementasan yang apik – bagi saya ini salah satu pementasan terbaik tahun ini – ia bercerita bersyukur bisa menonton konser lagi. “Kangen aku sama atmosfer kaya gini, emang udah beberapa minggu di Jakarta tapi atmosfer pulangnya baru kerasa sekarang,” ujarnya malam itu. 
Reti memang baru saja pulang dari tugas mengajar selama satu tahun di pedalaman Kalimantan. Sebelumnya, ia seorang reporter untuk sebuah news roomsalah satu grup media terbesar negeri ini. Kegiatannya pra menjadi guru juga beririsan dengan dunia seni dan tentu pernah berinteraksi dengan beberapa pegiatnya. Wajar jika kemudian satu hal yang dirindukannya saat pulang adalah irisannya dengan sebuah pagelaran kesenian. 
Ia mengatakan atmosfer dalam pementasan atau tempat-tempat tertentu semacam Goethe atau Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) membuatnya merasa benar-benar pulang. Ada panggilan dari tempat-tempat semacam itu yang sulit dijelaskan namun seperti mengisi (dalam istilah saya) kehausan intelektual. Pementasan Pandai Besi beberapa waktu lalu adalah “panggilan pertama” Reti setelah ia pulang ke Jakarta. 
***
Lebaran lalu saya tidak mudik. Ini lebaran pertama saya di Jakarta setelah merantau saat kuliah dan bekerja di beberapa kota selama beberapa tahun. Laiknya tradisi lebaran, saya berkeliling ke beberapa kediaman tetangga untuk bersilaturahmi. Bertemu lagi dengan beberapa teman kecil yang kini sudah sudah dewasa. 
Satu yang menarik bagi saya adalah ketika bertemu Ipan. Usianya sekitar dua atau tiga tahun di atas saya. Saat kecil dulu ia sayap kiri yang handal ketika bermain bola. Alasannya menjadi sayap kiri sederhana, sebab ia bisa menggunakan kaki kirinya untuk mengumpan. Saya biasa berhadapan dengannya ketika kecil karena saya sering dijadikan sebagai bek kanan. Lebaran kemarin, saya tak menemukan atmosfer berhadapan dengan Ipan sebagai seorang sayap kiri. 
Saat saya bertemu dengannya ia menggunakan seragam satpam. Menurut penuturannya ia kini menjadi seorang petugas keamanan sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Kami tak banyak mengobrol saat itu. Beberapa menit setelah bersalaman dan saling berkabar, Ipan pamit untuk berangkat tugas. Hari itu ia masih menjalankan tugasnya sebagai petugas keamanan. Bila dulu ia sayap kiri yang rajin menjemput bola, kini ia seorang petugas keamanan yang rajin menjemput rezeki. 
Ada suasana yang menarik ketika bertemu Ipan. Seperti menemukan kembali akar di mana saya berada. Suasananya seperti keluhan klise khas pemuda beranjak dewasa ketika bertemu orang tua mereka, seberapa besar kita, di mata orangtua tetaplah seorang anak kecil, sebuah keluhan karena berhadapan dengan akar sebenarnya dari diri kita. Atmosfer bertemu Ipan seperti itu. Ia panggilan pulang yang meneduhkan buat saya. 
***
Reporter di masa penerbitan cetak masih berjaya mengenal apa yang dinamakan dengan morgue file. Istilah ini sebenarnya tidak hanya dipakai reporter tapi bisa juga dipakai misalnya oleh seorang artist seperti yang dikutip Austin Kleon dalam bukunya Steal Like an Artist. Morgue file adalah sebuah usaha untuk mengarsipkan hal-hal menarik yang ditemui dan merelasikannya dengan konsep atau hal-hal tertentu. Misalnya ada sebuah scene menarik di sebuah film, quote menarik di sebuah buku, ilustrasi yang apik di sebuah majalah, itu semua dikumpulkan atau dituliskan ulang dalam sebuah catatan khusus yang dikenal dengan morgue file. Sehingga ketika butuh inspirasi seorang seniman tinggal membuka-buka morgue file-nya. Konsepnya seperti logbookantropolog dan jurnal seorang guru.
Menarik ketika melihat bagaimana Reti memanggil kembali memorinya mengenai pementasan tertentu dengan atmosfer Jakarta yang ia rindukan. Ketika ia juga merelasikan GFJA dengan kata pulang. Ketika ia memakai atmosfer sebagai sebuah pilihan diksi untuk mencerminkan pulang. 
Pun, saya mulai menyadari mungkin lebaran adalah soal pertemuan-pertemuan, soal bagaimana mencari akar kita. Ini bukan parade maaf-maafan atau eksploitasi religi ala iklan layanan masyarakat saat lebaran. Mungkin momen lebaran hanyalah soal mengumpulkan kepingan pertemuan lama dan menemukan di mana posisi saat ini. Seperti ketika pertemuan saya dengan Ipan. Mungkin. 
Pada pertemuan-pertemuan dan momen kecil sebenarnya kita sedang menyusun morgue file a la diri kita masing-masing. Ia bisa dibuka sewaktu-waktu ketika kita membutuhkannya. Reti membukanya lewat pementasan Pandai Besi, saya membalik halamannya lewat perjumpaan dengan Ipan saat Lebaran. Yang lain mungkin bisa memanggilnya kembali lewat reuni, lewat lebaran atau sekadar perjumpaan tak sengaja di jalan. 
Tapi satu hal yang menarik adalah morgue file masing-masing dari kita bukanlah sebuah momen mercusuar. Bukan sesuatu yang bersifat canon. Saya tak menemukannya dalam prosesi sungkeman lebaran, Reti tak menemukannya dalam encore sebuah konser. Dalam momen biasa justru kecenderungan memanggil morgue file itu datang. Mungkin karena menjadi orang biasa adalah akar dari kita semua. Atau kita perlu bertanya pada ibu darma wanita yang suka reuni sambil haha hihi untuk sekadar memanggil morgue file-nya?  

Advertisements

2 thoughts on “Morgue File

  1. Saya menghargai tulisan Anda, Mas Awe. Apik sekali. Membacanya di sebuah kedai kopi di Ubud, sendiri, jauh dari 'rumah' (lagi), saya seperti membuka lembaran morgue file baru. Tapi We, nama panggilanku Retti, dobel 't' ya. Makasih. #TIDAKBERCANDA

    Like

  2. Ardi Wilda says:

    KOMEN BLOG JANGAN DIBECANDAIN!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: