Sidekick

Urip mung mampir ngejus

Tadi malam saya mengunjungi sebuah kedai kecil di dekat kantor. Ini adalah ritual bulanan yang saya lakukan sejak mahasiswa, yakni mendatangi sebuah kedai, kafe atau sejenisnya untuk menuntaskan membaca sebuah buku. Tentu karena tujuannya membaca saya datang sendiri. Setelah selesai menuntaskan sebuah buku saya senang mengamati sekitar.
Layaknya kedai kebanyakan, kedai ini dipenuhi beberapa orang yang makan malam di sana. Kebanyakan adalah keluarga besar yang berinisiatif untuk makan bersama di kedai tersebut. Meja samping saya misalnya, dipenuhi oleh satu keluarga kecil. Anak bungsunya bermain semacam kartu kuartet, anak sulungnya yang berusia sekitar delapan tahun bermain permainan di iPad milik orangtuanya. Sementara sang ibu bermain telepon pintarnya. Sang ayah di luar untuk merokok.
Selain keluarga kecil tersebut terdapat pula beberapa keluarga lain dalam kedai ini, tentu dengan aktivitasnya masing-masing. Kalau tidak menemui keluarga, maka saya akan menemui pasangan muda-mudi yang makan malam bersama di sini. Kebanyakan berusia sekitar 20-an awal. Karena ini ritual yang sudah saya lakukan sejak mahasiswa maka saya tak begitu kaget dengan mereka-mereka yang datang ke sebuah kedai.
Entah kenapa tadi malam saya baru menyadari satu hal yang tak begitu penting, jarang sekali ada orang yang datang ke kedai sendirian. Sedikit keluar dari topik kedai, kemarin saya menonton film di bioskop sendirian, dan salah seorang teman saya bertanya tipikal, “Enggak aneh apa nonton sendirian?”. Saya hanya menjawab, “Sudah biasa”. Mungkin kita memang jarang berjalan sendirian, begitu komunal.
Saya kemudian mengingat tulisan-tulisan yang kini kerap beredar. Kita sering terpukau dengan tipikal khas tulisan, “Seorang menepi di kafe sendirian”, “Sendiri dalam senja”, “Termangu di terminal sendirian”. Semua merujuk pada kesendirian. Buat saya itu hal yang tidak umum, saya sering sekali jalan sendirian, tapi jarang sekali menemui yang bernasib sama seperti saya.
Saya teringat dengan cerita-cerita terdahulu, di mana kita adalah bagian dari sebuah entitas yang besar. Tadi malam misalnya, saat saya membaca Kuntowijoyo, subjek ceritanya tidak pernah menampilkan dirinya yang sendirian. Subjeknya adalah mereka-mereka yang menjadi bagian dari sebuah entitas besar, Pak Lurah dalam sebuah desa, guru ngaji di perkampungan yang tak religius. Mereka bukan subjek-subjek yang merasakan kesendirian. Atau meromantisir kesendirian. Tapi dalam kebersamaan dengan “yang lebih besar” tersebut saya merasakan subjek-subjek ini adalah mereka yang hidup dalam kesendirian.
Tentu naïf membandingkan karya saat ini dengan yang dulu, banyak konteks yang jelas berubah. Tapi buat saya menarik ketika kita kisah soal yang “sendiri di kafe” ini membanjiri toko buku. Kemudian menjadi begitu klise dengan imbuhan ‘senja’, ‘temaram’, ‘kemuning’ dan banyak kata lain yang sudah habis diromantisir. Padahal saya jarang sekali menemui sosok-sosok “sang penyendiri” ini di kehidupan nyata.
Mungkin memang tulisan tak perlu jadi spion kehidupan. Tapi jika ia bukan spion bukankah ia bisa juga berarti harapan terdalam? Bisa jadi kita risih dengan kebersamaan dan menciptakan alter ego diri kita sendiri dalam sosok-sosok individual ini. Ketika makan malam kita jengah dengan pertanyaan tipikal orang tua, ketika di pertemanan kita jengah dengan indikator kesuksesan yang begitu bias, pun saat dalam sebuah relasi kita jengah dengan mis-persepsi tentang masa depan yang ideal. Namun kita tak pernah berani menghadapinya, tokoh-tokoh sendiri itu kemudian maju sendiri.
Jika itu terjadi, mungkin kita memang tak pernah sendiri. Dalam kesendirian itu kita merindukan sesuatu yang komunal. Kita merindukan entitas yang lebih besar. Merindukan keluarga yang hangat di meja makan, merindukan teman bertukar pikiran yang tak bias dalam pemikiran. Dalam kesendirian tokoh-tokoh itu mungkin para penulis sedang mengumpat dari kenyataan.
Sedihnya tokoh-tokoh itu adalah penegasan bahwa ia tetap bagian dari sebuah kelompok besar. Dan saat tokoh-tokoh sendiri maju bersama-sama dalam rak-rak toko buku, mereka membuat yang sendiri-sendiri menjadi begitu terkelompok. Sebuah spion besar akan ketakutan jadi bagian dari entitas yang lebih besar. Dan ketika mereka berusaha menjadi begitu sendiri di kafe di ujung amazon sekalipun, mereka sebenarnya sedang menegaskan mereka sedang beramai-ramai. Beramai-ramai menyatakan dirinya takut dengan kesendirian yang nyata. Kini saya bingung apakah harus mengasihani tokoh-tokoh yang selalu sendiri itu atau mengasihani saya sendiri.

Advertisements

4 thoughts on “Yang Beramai-Ramai dalam Kesendirian

  1. nicely presented information

    Like

  2. Anggafirdy says:

    Mas, yahud tenan esainya.

    Like

  3. majas ironi… (Y)

    Like

  4. Ardi Wilda says:

    maturnuwun mas 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: